GENEWA, Berita HUKUM - Jumlah kasus wabah Ebola mencapai lebih dari 10.000 kasus, dengan 4.922 kematian, menurut organisasi kesehatan dunia, WHO. Hanya 27 kasus yang terjadi di luar negara yang paling parah terkena, Sierra Leone, Liberia dan Guinea.
Tiga negara itu mencatat hampir semua korban meninggal kecuali 10 orang.
Mali merupakan negara terakhir yang mencatat korban meninggal, seorang anak perempuan berusia dua tahun.
Lebih dari 40 orang yang tertular dengan anak itu telah dikarantina.
Laporan terakhir WHO menyebutkan Liberia tetap merupakan negara yang paling parah, dengan 2.705 kematian.
Sierra Leone mencatat 1.281 korban tewas dan 926 di Guinea.
Laporan WHO menyebutkan kasus Ebola yang tercatat adalah 10.141 namun jumlah itu bisa jauh lebih tinggi karena banyak keluarga yang tetap merawat anggota keluarga di rumah dan tidak dibawa ke pusat kesehatan.
WHO juga menyebutkan banyak pusat kesehatan yang terlalu penuh dengan pasien kasus Ebola.
Delapan negara sejauh ini telah memastikan terkena wabah penyakit itu.
Sementara, Satu juta dosis vaksin Ebola akan diproduksi akhir tahun 2015, ungkap Badan Kesehatan Dunia (WHO), sementara penularan pertama terjadi di Mali dan di New York. Dikatakan "beberapa ratus ribu" vaksin akan diproduksi pada semester pertama tahun 2015.
Vaksin bisa disiapkan bagi para petugas kesehatan di Afrika Barat secepatnya pada Desember 2014. Namun, WHO memperingatkan bahwa vaksin tidak akan menjadi "peluru ajaib" untuk mengakhiri wabah Ebola.
Belum ada obat atau vaksin yang terbukti ampuh untuk Ebola.
Menanggapi wabah penyakit terbesar dalam sejarah, WHO sedang mempercepat proses pengembangan vaksin. Biasanya dibutuhkan beberapa tahun untuk memproduksi dan menguji coba vaksin, tetapi produsen obat sekarang bekerja dalam rentang beberapa pekan.
Dokter AS tertular
Sementara itu, pemerintah Mali Jumat (24/10) lalu mengonfirmasi kasus Ebola pertama di negara itu. Seorang gadis berusia dua tahun dinyatakan positif mengidap Ebola setelah kembali dari negara tetangga Guinea.
Sedangkan di New York, seorang dokter yang juga kembali dari Guinea, dirawat di rumah sakit lantaran virus Ebola. Dr Craig Spencer menderita demam pada hari Kamis, beberapa hari setelah ia pulang dari Guinea, kata para pejabat terkait.(BBC/bhc/sya) |