Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

White Crime    
 
Tambang Batu Bara
Triliunan Rupiah Berpotensi Raib di Sektor Batu Bara
Tuesday 15 Nov 2011 01:01:23

Pertambangan batu bara (Foto: Ist)
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Sejumlah kelemahan dalam sektor pertambangan batu bara di Indonesia, ditemukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Meski belum terindikasi adanya tindak pidana korupsi, justru kelemahan ini berpotensi menimbulkan kerugian negara hingga triliunan rupiah.

"KPK ingin ada kepastian hukum, tidak adanya tindak pidana korupsi, serta memaksimalkan keuangan negara dari sektor pertambangan batu bara. KPK ingin regulasi dirapikan, agar tidak tumpang tindih," kata Wakil Ketua KPK M Jasin dalam jumpa pers di gedung KPK, Jakarta, Senin (14/11).

Jasin membeberkan bahwa potensi penerimaan negara dari pertambangan batu bara pada 2010 mencapai Rp22,46 triliun. Sedangkan target pendapatan 2011, yakni Rp 21,5 triliun dan untuk 2012 mencapai Rp27,2 triliun. Namun, KPK melihat potensi penerimaan itu tidak maksimal akibat regulasi yang tumpang tindih dan tidak jelas.

Selain itu, lanjut dia, banyak perusahaan yang belum membereskan perizinan, komoditas, dan kewenangan pertambangan alias tidak clean and clear. "Untuk clean and clear kuasa pertambangan dan iuran izin usaha, kami temukana untuk 2011 ini saja sebanyak 54 persen tidak beres. Artinya, lebih banyak yang tidak clean and clear. Lalu, 55 persen tidak menyerahkan rencana kerja dan anggaran belanja,” jelasnya.

Menuurt Jasin, masalah utama dari hal ini adalah perizinan yang yang masih desentralisasi. Hal itulah yang menimbulkan ketidakpastian regulasi. Adanya ketidakjelasan hukum ini, membuat para investor ragu untuk menanamkan modal sektor pertambangan batu bara. “Aneh, ada satu izin pertambangan bisa dikerjakan dua perusahaan berbeda,” ungkapnya.

Sementara itu, Wamen ESDM Widjajono Partowidagdo menyatakan bahwa ada indikasi pelanggaran pada perhitungan pajak yang membuat penyerapan pajak di sektor tambang batu bara tidak optimal. Pasalnya, cost recovery untuk sektor batu bara ditentukan oleh tiap-tiap perusahaan pemegang izin tambang.

“Ini berbeda dengan sektor minyak dan gas bumi yang diatur pemerintah melalui BP Migas. Sedangkan batu bara perusahaannya sendiri yang menentukan. Masalah ini bisa terjadi penyimpangan, apalagi kalau mengawasinya tidak dilakukan dengan benar," tandasnya.(mic/spr)



 
Berita Terkait Tambang Batu Bara
 
5 Alasan Mengapa Dunia Membutuhkan Moratorium Tambang Batu Bara Baru
 
Sektor Tambang di Kaltim Tahun Akan Mengalami Peningkatan
 
Triliunan Rupiah Berpotensi Raib di Sektor Batu Bara
 
Hutan Produksi Beralih Jadi Tambang Batu Bara
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]