Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Pemilu    
 
Pilgub Jatim
Tim Karsa Mengancam Warga untuk Coblos Nomor 1
Tuesday 01 Oct 2013 16:07:34

Sidang Gugatan Pilkada Jatim Dipimpin Langsung Oleh Ketua MK (Foto : ist)
JAWA TIMUR, Berita HUKUM - Guna memenangi Pemilukada Jatim, pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) ternyata menghalalkan segala cara. Pasangan petahana nomor urut 1 itu antara lain melibatkan panitia pemungutan suara (PPS) untuk mengancam warga jika tidak mencoblos pasangan Karsa. Sementara itu, Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi M Akil Mochtar menyatakan pencetakan ulang formulir C-1 tidak membuang-buang uang negara kalau memang hal itu untuk kepentingan publik.

Saksi Baini dari Bangkalan, Jatim, yang diajukan pasangan Khofifah-Herman Sumawiredja (Berkah) menyatakan, 15 hari sebelum pencoblosan warga desa tempat tinggalnya dikumpulkan oleh petugas Panitia Pemungutan Suara (PPS) di sebuah mushola dekat rumahnya. Mereka diminta memilih pasangan Karsa. Permintaan itu diiringi dengan ancaman, kalau tidak memilih maka desa tersebut tidak akan mendapat proyek pembangunan lagi.

“Memang selama ini desa saudara diberi proyek apa?” tanya Akil Mochtar.
“Baru pembangunan jalan, pak,” ujar Baini.

Saksi Berkah yang lain, Munir memberi keterangan pada Rabu sore (28 Agustus) dia dipanggil Kepala Desa Turjen. Munir diminta bantuan untuk menyebarkan undangan kepada warga desa untuk mencoblos pada keesokan harinya Kamis, 29 Agustus. Dia mengaku tidak menghitung jumlah undangan yang diterima dari kepala desanya. Namun sampai keesokan harinya, di tangannya masih tersisa 50 lembar undangan.

“Sisa undangan itu saya kembalikan ke Kades. Namun oleh Kades undangan tersebut ditukar dengan 50 lembar surat suara, dengan pesan agar dicoblos pada pasangan nomor urut 1, yaitu Karsa. Saya pun mencoblos nomor 1 karena dijanjikan akan diajak keliling ziarah wali songo,” ungkap Munir.

Sebelumnya, saksi Berkah, Irsyai, menerangkan kepada majelis hakim bahwa istrinya dan beberapa perempuan lain tangannya ditarik dan digiring oleh pengawas desa ke bilik suara pada hari H. Mereka diarahkan untuk mencoblos pasangan petahan.

“Sama pengawas ditanya, bu kalau tidak tahu mau mencoblos siapa, coblos saja nomor satu. Yang ngomong Panwas," urai Irsyai menjawab pertanyaan Akil.

Pelanggaran lain yang dilakukan pasangan Karsa adalah menggelontorkan dana hibah kepada koperasi wanita sebesar dua kali Rp25 juta. Padahal, pada bantuan hibah pertama, koperasinya sendiri belum berdiri.

“Pada 21 Juni 2010 koperasi wanita Sidoarjo mendapat bantuan dari Pakde Karwo sebesar Rp25 juta. Padahal, waktu itu koperasinya belum berdiri. Beberapa saat kemudian, saya mendapat undangan dari Dinas Koperasi untuk dibuatkan akta ke notaris dengan gratis. Setelah itu, turun bantuan hibah kedua pada 15 Desember 2011 sebesar Rp25 juta,” papar Hj Ulwiyah, Ketua Koperasi Wanita Sidoarjo.

Sementara itu, saksi pihak termohon (KPU Jatim) menghadirkan Turmuji, pejabat pembuat komitmen KPU. Dia menjelaskan pada sidang pleno KPUD dan peserta Pemilukada, diputuskan akan dilakukan stikerisasi nama pasangan calon Berkah.

“Apakah pasangan Berkah waktu itu setuju dengan rencana stikerisasi tersebut?” tanya Akil.
“Pada dasarnya pasangan Berkah tidak setuju, Yang Mulia,” jawab Turmuji.

Dia juga menjelaskan, KPU akhirnya tetap memutuskan stikerisasi daripada mencetak ulang formulir C-1. Alasannya, kalau mencetak ulang perlu dana sekitar Rp2,8 miliar. Sedangkan kalau stikerisasi paling banyak hanya Rp200 juta.

“Saya tidak mau membuang-buang uang. Saya juga tidak mau dianggap korupsi kalau mengeluarkan dana Rp2,8 miliar untuk mencetak ulang, Yang Mulia,” tambah Turmuji.
“Tidak masalah mengeluarkan uang untuk mencetak ulang kalau memang untuk kepentingan publik. Lagi pula, mencetak ulang itu kan bukan kemauan saudara,” tukas Akil. (bhc/rat)


 
Berita Terkait Pilgub Jatim
 
Adnan Buyung: Sebaiknya Delapan Hakim MK Mengundurkan Diri
 
Rizal Ramli: Siapa Penyusun Amar Putusan Sengketa Pilgub Jatim?
 
Tim Karsa Mengancam Warga untuk Coblos Nomor 1
 
KarSa Gunakan APBD sebagai Dopping Money Politic?
 
Rizal Ramli: Khofifah Perempuan Tangguh Layak Pimpin Jatim
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah
Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit
Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional
Sinyal keterlibatan Menhut Raja Juli dalam kasus korupsi Bupati Kuansing Suhardiman Amby
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]