Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

EkBis    
 
Pekerja Asing
Tenaga Kerja Asing di Riau Menjamur, Menaker Diam saja
2016-04-12 19:05:17

Ilustrasi. Tampak Tenaga Kerja Asing saat didalam angkutan bus untuk membawanya kelokasi kerjanya.(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Kian berdatangan gelombang tenaga kerja asing ilegal nampaknya sudah tidak dapat diantisipasi masuk di Indonesia dan jumlahnya sudah mencapai puluhan ribu. "Hal ini terbukti dengan data yang didapat oleh Partai Gerindra dari para kadernya didaerah daerah," ujar Arief Poyuono selaku Waketum DPP Gerindra.

Nampaknya, guna menghindari pengawasan yang ketat dan luput dari imigrasi dan dinas Pengawas Ketenaga Kerjaan, "Biasanya tenaga kerja asing ilegal yang low skill masuk lewat Jakarta dan Bali dengan visa turis lalu menyebar ke daerah remote area dimana terdapat pabrik-pabrik yang bergerak dalam pengolahan seperti sawit, karet dan perusahaan perusahaan pertambangan," jelas Arief Poyuono, sebagaimana keterangan pers yang diperoleh pewarta BeritaHUKUM.com di Jakarta, Selasa (12/4).

Seperti di provinsi Riau, Partai Gerindra mendapatkan laporan dari kadernya yang menjadi anggota dewan provinsi dan kebetulan ada Organisasi Serikat Pekerja yang ribuan anggotanya bekerja di industri pulp and paper, serta perkebunan Sawit terancam di PHK dan akan dihentikan dengan TKA ilegal.

Langkah-langkah anggota dewan provinsi Riau dari Partai Gerindra, yang menerima laporan langsung memanggil Kepala dinas Ketenaga Kerjaan, untuk melakukan hearing dengan Dinas tenaga kerja Riau meminta data terkait jumlah TKA yang bekerja di Provinsi Riau, dan Kadis Naker Riau tidak bisa memberikan data tersebut .

Lebih lanjut lagi, Arief Poyuono yang juga sebagai Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, merasa kalau hal ini tentu patut dicurigai adanya Mafia di Disnaker Riau yang membiarkan adanya TKA low skill, ditambah lagi yang disinyalir berkewarganegaraan RRC menjadi buruh diprovinsi Riau.

Hal yang sangat menarik juga di Provinsi Riau adalah diduga tumbuhnya Organisasi Serikat Pekerja yang sebenarnya tidak ada anggotanya dan tidak terdaftar Disnakertrans, serta terdaftar Disnakertrans tapi tidak ada anggotanya banyak melakukan permainan dana Bansos Provinsi Riau.

Makadari itu, untuk kedepannya itu Gerindra mendesak Depnaker melakukan verifikasi terhadap jumlah TKA Ilegal di Riau, serta Organisasi Organisasi Serikat Pekerja di Riau.

Soalnya hal ini penting agar kesempatan untuk masyarakat Riau dan Indonesia bisa memasuki lapangan kerja yang tersedia di Riau dan Verifikasi Serikat Pekerja juga penting, agar tidak ada penyelewengan dana Bansos Provinsi Riau atas nama Serikat Pekerja jadi jadian .

Dan DPP Partai Gerindra mengapresiasi kepada kadernya yang duduk dikomisi yang membidangi Ketenaga kerjaan yang sangat response terhadap persoalan tenaga kerja di Riau. "DPP Partai Gerindra juga memerintahkan Fraksi Gerindra di DPRD Riau, agar meminta untuk membentuk Pansus DPRD Riau untuk membahas persoalan TKA Ilegal di Riau," pungkasnya.(rls/bh/mnd)


 
Berita Terkait Pekerja Asing
 
Kritik Luhut Soal TKA China, Jubir AMIN: Lapangan Pekerjaan Anak Bangsa Semakin Direbut!
 
Cegah Kasus Omicron Bertambah, Pemerintah Diminta Tutup Pintu Masuk Bagi TKA
 
Sungkono Soroti Banyaknya Buruh Asing yang Masuk ke Indonesia
 
974 WNA Masuk ke Indonesia Lewat Bandara Soetta dalam 3 Hari
 
Para Anggota DPR Mengkritisi Pemerintah yang Kembali TKA China Masuk ke Indonesia
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
KAI Luncurkan Nusantara Explorer, Kereta Mewah yang Siap Ubah Wajah Pariwisata Indonesia
Purbaya curhat: Saya menteri paling tidak beruntung di dunia
KPK Petakan 3 Titik Rawan Korupsi APBD, Mitigasi Potensi Kebocoran Daerah Capai Rp2,37 Triliun
RUU Perampasan Aset Masih Ada di Prolegnas Prioritas 2026, DPR-Pemerintah Concern Membahas
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]