Awalnya, Desember lalu, Erick Tohir sang Ketua Tim Kampanye Nasional KoRuf, menyatakan bahwa pihaknya akan memakai strategi "MENYERANG". Dan..., sejak itu memang "serangan" kepada lawan kian gencar dilakukan.

Rupanya, strategi menyerang" /> BeritaHUKUM.com - Tantangan 'Perang Total' Moeldoko Dijawab Puisi Neno Warisman

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Opini Hukum    
 
Pilpres
Tantangan 'Perang Total' Moeldoko Dijawab Puisi Neno Warisman
2019-02-25 15:14:26

Oleh: Iramawati Oemar

LU JUAL, gue beli!" itu kata orang Betawi.
Awalnya, Desember lalu, Erick Tohir sang Ketua Tim Kampanye Nasional KoRuf, menyatakan bahwa pihaknya akan memakai strategi "MENYERANG". Dan..., sejak itu memang "serangan" kepada lawan kian gencar dilakukan.

Rupanya, strategi menyerang saja tidak cukup. Elektabilitas tetap stagnan, popularitas justru jeblok dengan makin banyaknya blunder yang dilakukan para pendukung maupun sang capres petahana sendiri.

Akhirnya, tak cukup hanya Erick Tohir yang menyampaikan, Moeldoko pun tampil ke depan. Tak peduli dirinya adalah pejabat negara, KSP, Kepala Staf Kepresidenan, yang gajinya dibayar pakai uang rakyat, ternyata merangkap sebagai Ketua Harian TKN. Didampingi Erick Tohir, Moeldoko menyerukan "PERANG TOTAL" atau total war. Pihaknya sedang bersiap untuk menghadapi "perang total".

Mengingat saat itu Moeldoko berbicara dalam kapasitas sebagai Ketua Harian TKN, apalagi konpers itu disampaikan usai rapat TKN KoRuf, maka yang dimaksud "PERANG" pastilah PILPRES, bukan? Apalagi kalo bukan pilpres?!
Pilpres = perang, kurang lebih begitu.

Perang total, perang bubat, artinya mereka akan mengerahkan segenap daya upaya dan strategi demi memenangkan peperangan.

Saat itu, pasca pernyataan Moeldoko, sudah ada yang memperingatkan, agar Moeldoko berhati-hati menyerukan perang total, sebab bisa-bisa nanti akan dilawan dengan "jihad qital".

Dari kubu pendukung capres 01 sih fine saja dengan istilah "serem" itu, mereka tak ada satupun yang keberatan jika Pilpres diibaratkan perang.

Namun, sontak kubu pendukung capres 01 kelojotan mendengar puisi yang dibacakan oleh Neno Warisman pada malam Munajat 212, Kamis malam lalu. Mereka heboh luar biasa menanggapi sepotong puisi yang berisi nukilan doa yang pernah dipanjatkan Rasulullah Muhammad SAW pada saat akan menghadapi perang Badar, pada tahun ke-2 Hijriyah. Puisi Neno menyulut reaksi amarah dan tak terima dari kubu pendukung capres 01.

Tak kurang, mereka yang non Muslim atau Muslim abangan yang sama sekali tak pernah tahu, tak pernah mendengar doa itu, mengutuk puisi Neno sebagai doa yang "mengancam" Tuhan.

Hahahaaa... lucu sekali kalau orang tak tahu apa-apa ikut berkomentar.
Setelah nettizen ramai memberikan bukti hadits bahwa puisi Neno itu mengutip doa Rasulullah saat menghadapi perang Badar, maka komentarnya lain lagi. Salah satu elite PBNU, Robikin, turut serta mengomentari. Tidak tepat jika pilpres diandaikan perang. Siapa Robikin ini?

Coba cari di youtube pernyataan Mahfud MD di acara ILC 5 hari setelah dirinya batal dipilih jadi cawapres Jokowi. Nama Robikin termasuk yang disebut-sebut oleh Pak Mahfud dalam testimoninya pada ILC edisi 14 Agustus 2018.
Jadi..., ya tak perlu heran jika sekarang dia ikut memeriahkan komentar atas puisi Neno.

Kemarin kemana saja Pak Robikin, waktu Moeldoko menyatakan perang total. Bukankah itu konteksnya juga pilpres?!
Seorang dari MUI yang dekat dengan Kyai Ma'ruf Amin juga berkomentar senada di acara Kabar Petang TV One, Sabtu sore. Intinya : doa Neno tidak tepat konteksnya jika diucapkan saat ini, karena pilpres ini bukanlah perang.

Lho, bukankah yang lebih dulu menantang perang total justru dari kubu tim sukses paslon capres 01?!

Kemana abda semua ketika Moeldoko menyerukan PERANG TOTAL?! Kenapa tak ada yang keberatan?!

Apalagi Moeldoko masih pejabat istana yang gajinya dibayar oleh negara, uang rakyat! Dimana rakyat pembayar pajak yang uangnya dipakai untuk membayar gaji pejabar negara itu, tidak semuanya mendukung paslon capres 01, artinya mereka termasuk orang/kelompok yang akan diperangi.

Lu jual, gue beli. Kembali ke prinsip itu. Kalau tak mau dibeli, ya jangan jualan!!
Kalau tak mau dijawab, ya jangan menantang.

Kalau sudah mengeluarkan tantangan dengan gagah berani, tapi baru dijawab sepotong puisi doa oleh seorang emak-emak saja sudah blingsatan, sudah mau memperkarakan ke Bawaslu, dll, yaa... itu cemen namanya.
Santai sajalah..., jangan baperan kata Bang Sandi.

Kalau situ bisa ngajak perang total, kami juga bisa BERMUNAJAT seperti munajatnya Rasulullah ketika menghadapi perang Badar dulu.
Lalu kenapa?! Takut?! Ngeri kalau ummat Islam sudah punya ruh "jihad" dalam diri mereka?!

Makanya jangan macam-macam pakai istilah perang total segala!!
Jangan pakai standar ganda : jika kubu sendiri boleh mengibaratkan pilpres sebagai perang, tapi kalau kubu lawan tidak boleh.
Itu namanya mau menang sendiri. Malu aah sama rakyat yang kian hari makin pintar dan cerdas!

Penulis adalah Pegiat Media Sosial dan Emak-emak pendukung Prabowo-Sandi


 
Berita Terkait Pilpres
 
Beredar 'Bocoran' Putusan Pilpres di Medsos, MK: Bukan dari Kami
 
Selain Megawati, Habib Rizieq dan Din Syamsuddin Juga Ajukan Amicus Curiae
 
Ahli dari Kubu Prabowo Sebut Pencalonan Gibran Sesuai Putusan 90, Hakim MK Bilang Begini
 
Bertemu Ketua MA, Mahfud MD Minta Pasangan Prabowo-Gibran Didiskualifikasi di MK
 
Tak Mau Buru-buru Soal Hasil Pemilu, Koalisi Amin Kompak Tunggu Pengumuman KPU
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]