Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Aung San Suu Kyi
Sentimen terhadap Muslim, Hadiah Nobel Suu Kyi Diminta untuk Dicabut
2016-03-28 18:59:37

Suu Kyi dinilai diskriminatif terhadap Muslim. Suu Kyi bersama presiden baru Myanmar, Htin Kyaw. Suu Kyi bersama presiden baru Myanmar, Htin Kyaw.(Foto: Istimewa)
MYANMAR, Berita HUKUM - Ratusan aktivis lewat wadah Change.org mengeluarkan petisi kepada komite Nobel Perdamaian untuk mencabut hadiah Nobel yang diterima tokoh politik Myanmar, Aung San Suu Kyi, 2012 silam.

Ini menyusul pernyataan Suu Kyi yang menyebut "Tak seorang pun memberi tahu bahwa saya akan diwawancara oleh seorang Muslim."

Komentar yang tertulis di buku biografi berjudul "The Lady and The Generals : Aung San Suu Kyi and Burma's Struggle for Freedom" tersebut, dikeluarkan Suu Kyi karena 'geram' usai wawancara dengan wartawan BBC Mishal Husain yang berdarah Pakistan, 2013 silam.

Dalam wawancara dengan Suu Kyi, Husain sebelumnya mempertanyakan sikap presiden Partai NLD tersebut, yang membisu terhadap sentimen anti-Islam dan diksriminasi terhadap etnik minoritas Rohigya.

Salah satu penggagas petisi, aktivis sosial Hamid Basyaib menilai pernyataan Suu Kyi itu sebagai tindakan "diskriminatif" terhadap Muslim.

"Itu kan pernyataan yang tidak pantas, yang tidak relevan. Kalau diwawancara, oleh siapa saja ya boleh toh. Orang Islam, atau apa...," ungkap Hamid kepada wartawan BBC Indonesia, Rafki Hidayat, Senin (28/3).

Turunkan kredibilitas Nobel

Komentar figur yang kerap disebut "pejuang demokrasi" tersebut, dinilai penggagas petisi, bertentangan dengan prinsip Nobel Perdamaian, yang menjunjung unsur-unsur antidiskriminasi, antirasisme dan pluralisme.

"Kalau seorang penerima nobel perdamaian justru memunculkan sikap antitesis yang berlawanan dengan unsur perdamaian, berarti nggak pantas."

Agus Sari dari Publik Virtue Institute, yang ikut mengajukan petisi ini menyebut, "(Pernyataan Suu Kyi) menurunkan kredibilitas dari Nobel Peace Prize, karena banyak sekali pemegang nobel yang betul-betul berjuang untuk perdamaian dan sampai akhir hayat konsisten."

"Jadi, kalau tak bisa konsisten, lebih baik, dikembalikan atau dipaksa untuk mengembalikan."

Pada petisi di Change.org ditulis, "Selama tiga tahun terakhir lebih dari 140.000 etnik Muslim Rohingya hidup sengsara di kamp pengungsi di Myanmar dan berbagai negara. Bukankah demokrasi dan HAM mengajarkan untuk menghormati setiap perbedaan keyakinan dan menjunjung tinggi persaudaraan?"

Dilansir dari The Telepraph, dalam buku biografinya, Suu Kyi disebut "menolak untuk mengutuk sentimen anti-Islam dan pembantaian terhadap kelompok Muslim di Myanmar".

"Penting" untuk Indonesia

Menurut Agus, pengajuan petisi ini penting bagi Indonesia yang ikut menampung pengungsi Rohingya. "Indonesia dan Myanmar, juga sama-sama negara ASEAN."
Apalagi partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Suu Kyi telah memenangkan pemilu. Suu Kyi bahkan menjabat menteri di kabinet baru Myanmar.
Setiap ucapan Suu Kyi, akan berpengaruh pada kebijakan Myanmar, termasuk soal Rohingya.

"Namun, seperti politik pada umumnya, minoritas ini (Rohingya) tak akan memiliki kekuatan apa-apa. Dulu kita kira dia (Suu Kyi) tak berani bersikap, di bawah tekanan. Sekarang, telah bebas ternyata (tetap) tak ada sikap," tegas Agus.

Pengajuan petisi ini dinilai Hamid Basyaib bisa menjadi pembelajaran pula bagi Indonesia.

"Gak bisa kaum Muslim diskriminasi orang beragama lain, etnik lain. Ini kan himbauan universal, sebetulnya. Jadi, kalau bisa ini berdampak pula pada Indonesia, membuat para bigot atau yang biasa mendiskriminasi orang atas dasar agama, untuk jadikan ini renungan. Sikap semacam ini harus universal. Kita tak boleh mendiskriminasi Muslim dan tak boleh pula mendiskriminasi non-Muslim," pungkas Hamid.

Petisi yang diluncurkan Senin (28/3) sore tersebut, diharapkan penggagasnya dapat meraih ratusan ribu dukungan dari Indonesia dan luar negeri, dalam seminggu ke depan.

Sementara, saat berita ini ditayangkan Petisi Change.org dengan judul Cabut Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, telah diikuti oleh 4.009 Orang. Klik untuk bergabung dengan Petisi.(BBC/bh/sya)

Share : |

 
Berita Terkait Aung San Suu Kyi
Amnesty International Cabut Penghargaan untuk Aung San Suu Kyi
Parlemen Kanada Sepakat Mencabut Kewarganegaraan Kehormatan Aung San Suu Kyi
'Mendiamkan' Kekejaman terhadap Muslim Rohingnya, Kian Banyak Penghargaan Aung San Suu Kyi Dicabut
Muhammadiyah Minta Penghargaan Nobel Perdamaian Suu Kyi Dicabut
Sentimen terhadap Muslim, Hadiah Nobel Suu Kyi Diminta untuk Dicabut
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Tafsir 6A dan Tekanan Politik
Dr Jan Maringka: Penegakan Hukum Tidak Sama dengan Industri
Arab Saudi: Puing-puing Senjata 'Membuktikan Iran Berada di Balik' Serangan Kilang Minyak
Kejari Gunung Mas Tangkap Kontraktor Terduga Korupsi Dana Desa
Hakim Kayat Didakwa Jaksa KPK Menerima Suap Rp 99 Juta
Presiden Jokowi Ditantang Keluarkan Perppu Mengoreksi Revisi UU KPK seperti SBY
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Polda Metro Jaya Bekuk Pengedar Narkoba Jaringan Malaysia-Batam-Jakarta
Willem Wandik: Usai Pulkam, Mahasiswa Harus Kembali Kuliah
Indonesia Darurat Asap, Presiden Segeralah Bertindak!
Jokowi Tolak Penyadapan KPK Seizin Pihak Eksternal, Padahal Memang Tak Ada di Draf Revisi UU KPK
Label Halal Dilidungi UU, MUI: Kebijakan Menteri Enggar Adalah Kemunduran Peradaban
RUU Perkoperasian Sepakat Dibahas di Paripurna DPR
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]