Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Pemilu    
 
Pemilu
Saksi Ungkap 'Suara Siluman' di Distrik Heram
2019-08-01 07:51:05

Junaidi Rahim (tengah) sebagai saksi mandat di Kota Jayapura Provinsi Papua memberikan kesaksian dalam sidang lanjutan perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) DPR-DPRD 2019 Provinsi Papua, Senin (29/7) di Ruang Sidang Panel Gedung MK.(Foto: Humas/Ganie)
JAKARTA, Berita HUKUM - Partai Berkarya selaku Pemohon perkara yang teregistrasi dengan Nomor 207-07-33/PHPU.DPR-DPRD/XVII/2019, menghadirkan Junaidi Rahim sebagai saksi mandat di Kota Jayapura Provinsi Papua. Dalam kesaksiannya, Junaidi mengungkapkan pemantauannya saat rekapitulasi suara Panitia Pemilihan Distrik (PPD) di Kota Jayapura.

"Kami memantau seluruh proses rekap suara PPD di lima distrik Kota Jayapura mulai 21 April 2019. Kami mengumpulkan data dari seluruh saksi. Namun saat rekap suara selesai, tidak ada pencatatan dalam formulir DAA1 di KPU Kota Jayapura. Selain itu formulir DB1 tidak pernah dibacakan di tingkat provinsi," papar Junaidi dalam sidang perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) DPR-DPRD 2019 Provinsi Papua di Mahkamah Konstitusi (MK), Senin (29/7) lalu pukul 10.30 untuk Panel 2.

Terkait rekapitulasi suara di tingkat distrik untuk Kota Jayapura, Rosidi Rahim sebagai Ketua Tim Tabulasi dan Koordinator Saksi Partai Berkarya menerangkan bahwa dirinya tidak pernah menerima salinan rekapitulasi di tingkat distrk.

"Bawaslu mengaku tidak memiliki data yang valid untuk disandingkan. Pleno rekap suara Panitia Pemilihan Distrik tidak pernah dilakukan dan langsung ke Pleno Kota Jayapura. Juga tidak ada formulir DB," jelas Rosidi yang juga menerangkan ada keberatan Saksi Berkarya terhadap perolehan suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Sementara itu Anggota Bawaslu Kota Jayapura, Frans Rumsarwir memberikan keterangan bahwa Bawaslu Kota Jayapura keberatan dengan rekap suara tingkat distrik karena banyak perbedaan antara data PPD di Jayapura dan data yang dimiliki para saksi parpol yang hadir.

"Oleh karena itu kami meminta perbaikan data hasil rekap suara. Namun karena tidak cukup waktu, akhirnya dilanjutkan di tingkat provinsi," ujar Frans kepada Majelis Hakim Panel yang dipimpin Wakil Ketua MK Aswanto didampingi Hakim Konstitusi Saldi Isra dan Hakim Konstitusi Manahan MP Sitompul.

Berikutnya, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) selaku Pemohon yang teregistrasi dengan Nomor 111-10-33/PHPU.DPR-DPRD/XVII/2019 menghadirkan Haryanto sebagai saksi di Distrik Heram, Kota Jayapura. Dalam kesaksiannya, Haryanto menuturkan adanya 'suara siluman' di Distrik Heram yang diduga dilakukan penyelenggara pemilu.

Haryanto menerangkan pada Pemilu Anggota DPR Papua 2019 terdapat jumlah pengguna hak pilih sebanyak 27.364 suara di Distrik Heram. Tapi ternyata suara sah yang terdistribusi kepada semua peserta pemilu atau caleg sebanyak 70.951 suara. Dengan demikian, ada sekitar 43 ribu suara yang digelembungkan penyelenggara di Distrik Heram.

Terhadap permasalahan yang terjadi di Distrik Heram, Bawaslu Papua sejak awal menolakFhasil rekapitulasi suara di Distrik Heram. "Kami sudah memberikan kesempatan kepada KPU untuk melakukan perbaikan data, baik melakukan pemungutan suara ulang maupun penghitungan suara ulang karena telah terjadi penggelembungan suara," tandas Komisioner Bawaslu Papua, Amandus Situmorang.(MK/bh/sya)



 
Berita Terkait Pemilu
 
Tiga Pakar Bicara Soal Pemilu Serentak
 
KPU Telah Lakukan Simulasi Pemungutan dan Penghitungan Suara Pemilu Serentak
 
Pandangan KPU, Bawaslu, DKPP, dan Ahli MK tentang Pemilu 'Serentak'
 
Catatan Pemilu Jadi Tekad Perbaikan Pemilihan 2020
 
Saksi Ungkap 'Suara Siluman' di Distrik Heram
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Viral Bilang Wajar Nonton Video Porno, Psikolog: Ucapan Ganjar Gak Pantas !
Eksepsi: Tidak Ada Kerugian Negara dalam Kasus Kondensat BP MIGAS - PT TPPI
Tekapar 127 Poin, Rupiah Menjadi Mata Uang Paling Lemah di Asia
Haris Azhar Sebut Omnibus Law Cilaka RUU Haram
Survei Median: Massa 212 Lebih Pilih Anies Ketimbang Prabowo
Sekjen DPR Pastikan Tak Ada Kebakaran di Gedung Nusantara III
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Menkopolhukam Mahfud: Langkah TNI AU Memaksa Mendarat Pesawat Udara Asing Sudah Tepat dan Sesuai Aturan
Aksi 212, Sobri Lubis: Sesuai Hukum Islam, Potong Tangan Koruptor di Bawah 1 Miliar, Diatasnya Potong Leher Saja
Polisi: Artis Sinetron Aulia Farhan Ngaku Sudah 6 Bulan Gunakan Sabu dan Pelaku DK Masih Didalami
Uighur China: Ditahan karena Memelihara Janggut, Berjilbab, dan Menjelajah Internet
Polda Metro Jaya Musnahkan Barbuk Hasil Pengungkapan Kasus Narkoba Senilai Total 1,5 Triliun
Mahfud MD Anggap Keliru Sudah Biasa dalam Susun Rancangan UU, PKS: Bahaya
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]