Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

EkBis    
 
Rupiah
Rupiah Ambles ke Level Rp 14.370 per Dollar AS, Terlemah Sejak Oktober 2015
2018-06-29 09:17:37

Ilustrasi. Lupakan Pilkadal. Lupakan Piala Dunia. Ilusi semuanya. Ini yang riil: rupiah makin membele, rakyat makin miskin spontan. Udah mendekati Rp 14.400/dolar AS.(Foto: @ZaimSaidi)
JAKARTA, Berita HUKUM - Nilai tukar rupiah terus semakin tertekan menjelang akhir semester pertama. Kamis (28/6), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) di Bank Indonesia berada di level Rp 14.271 per dollar Amerika Serikat (AS).

Bahkan, dari pantauan di Reuters, rupiah ambles dan telah mencapai Rp 14.325 per dolar AS. Kemudian di spot perdagangan mata uang telah menembus Rp 14.370 per dolar AS pada pukul 15.00 WIB.

Rupiah melemah 0,76% jika dibandingkan dengan posisi Selasa yang ada di Rp 14.163 per dollar AS. Ini adalah posisi terlemah rupiah Jisdor sejak 7 Oktober 2015.

Di pasar spot pukul 10.44 WIB, nilai tukar rupiah berada di Rp 14.284 per dollar AS. Amblesnya nilai rupiah Ini adalah level terlemah rupiah terhadap dollar AS sejak 6 Oktober 2015.

Dalam sehari perdagangan, rupiah di pasar spot melemah 0,74%. Menurut data Bloomberg, rupiah telah melemah 5,10% sejak awal tahun.

Rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar ketiga di Asia setelah rupee yang melemah 7,13% dan peso Filipina yang melemah 6,83%.

Sementara itu, indeks dollar yang mencerminkan nilai tukar dollar AS terhadap mata uang utama dunia menguat 3,39% secara year to date (ytd). Hari ini, indeks dollar melemah tipis ke 95,24. Meski melemah, indeks dollar sepanjang bulan Juni terus mencatat level tertinggi tahun ini.

Sementara, Ekonom PermataBank Josua Pardede menjelaskan penguatan dolar AS terjadi karena sentimen global. Sentimen tersebut mulai dari ekspektasi kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS The Federal Reserve hingga sentimen perang dagang antara AS dan China.

Menurut dia, penguatan mata uang Paman Sam terus terjadi meskipun sentimen sempat mereda akibat pernyataan yang dikeluarkan Gedung Putih.

"Sentimen memang mereda tapi dolar AS juga masih kuat. Tak hanya di Indonesia ini juga terjadi di kawasan Asia, Yuan China jadi mata uang yang memimpin pelemahan ini," kata Josua, Kamis (28/6).

Dia menjelaskan, selain itu dalam satu pekan terakhir juga terjadi peningkatan imbal hasil pada surat utang negara (SUN) ini juga menyebabkan pelemahan terhadap rupiah.

Josua menambahkan, jika dilihat memang dolar AS masih kuat jika dibandingkan dengan mata uang negara berkembang. Hingga pekan ini dolar diprediksi masih akan bertengger di sekitar Rp 14.200.

Menurut dia, penguatan dolar AS hari ini (28/6) menyebabkan pelemahan yang paling dalam terhadap rupiah. Josua menyebut ini harus menjadi perhatian Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

"Jika dilihat BI sudah mengeluarkan statement akan melakukan langkah pre emptive, untuk menjaga kestabilan rupiah dengan memanfaatkan kenaikan bunga," ujar dia.

Dia menjelaskan, pergerakan nilai tukar ini harus terus dipantau karena jika nilai tukar sudah tidak sesuai dengan fundamentalnya maka akan mengganggu stabilitas perekonomian dalam negeri.(dbs/detik/kontan/bh/sya)


 
Berita Terkait Rupiah
 
Efektivitas Peluncuran Uang Kertas Pecahan Rp 75 Ribu Edisi Khusus Dipertanyakan
 
Rupiah Terus Anjlok, Defisit Anggaran Melebar dan Kasus Corona Bertambah
 
Tekapar 127 Poin, Rupiah Menjadi Mata Uang Paling Lemah di Asia
 
Kritik dan Tertawai Cetak Uang Braille, TKN Jokowi - Ma'ruf Sangat Below Standar Pengetahuan
 
IPI: Ada 2 Faktor Penyebab Melemahnya Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah
Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit
Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional
Sinyal keterlibatan Menhut Raja Juli dalam kasus korupsi Bupati Kuansing Suhardiman Amby
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]