Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Pemilu 2014
Ruhut Sitompul: SBY Jadi King Maker, Akan Ada Capres yang Jadi Korban
Thursday 24 Apr 2014 16:23:42

Juru bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul.(Foto: BH/put)
JAKARTA, Berita HUKUM - Partai Demokrat disebut tengah membangun poros baru untuk menghadapi pemilu presiden mendatang. Partai yang dalam hasil hitung cepat pemilu legislatif 2014 berada di peringkat ke-empat itu disebut akan tetap mengusung calon Presiden.

Juru bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul mengatakan, partainya akan tetap mengusung calon Presiden dari hasil konvensi. Capres konvensi itu akan didukung oleh partai koalisi lain.

"Oleh karena itu, saya mau bilang ini akan jadi poros baru. Jangan bilang ini poros ke-empat karena nanti akan ada capres yang menjadi korban," ujar Ruhut saat dihubungi, Kamis (24/4).

Ruhut menuturkan, dengan adanya koalisi baru pimpinan Demokrat ini, kemungkinan hanya akan ada tiga bakal calon Presiden.

Bahkan, kata dia, bisa jadi hanya ada dua bakal capres, yakni bakal capres PDI Perjuangan Joko Widodo dan bakal capres poros Demokrat.

"Kami melihat partai-partai Islam akan merapat ke kami, mitra koalisi kami terdahulu seperti dengan PKB, PAN, PPP, dan juga PKS. Bukan tidak mungkin yang dibawa seperti Hanura, PKPI, dan PBB juga turut bergabung. Pak SBY akan jadi king maker," Ruhut memastikan.

Politisi yang pernah menjadi bintang layar kaca tersebut mengatakan, jika sebagian besar partai bergabung ke Partai Demokrat, maka nasib Aburizal Bakrie dan Prabowo Subianto akan berada di ujung tanduk. Suara Partai Golkar dan Partai Gerindra di Pileg, versi hitung cepat, belum cukup untuk mengusung capres.

Menurut Ruhut, posisi tawar Demokrat dalam membentuk poros koalisi baru cukup besar. Dia mengklaim mitra koalisi Demokrat selama ini sangat nyaman berada di bawah koalisi Sekretariat Gabungan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono karena tidak ada sanksi untuk setiap perbedaan sikap dan pandangan.

SBY, lanjut Ruhut, juga sangat dekat dengan Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin, Ketua Umum PAN Hatta Rajasa, elite PPP, dan juga PKB. Hal lainnya yang ditawarkan Demokrat adalah bagi-bagi kursi.

"Munafik itu kabinet kerja, kabinet tidak bagi-bagi kursi. Hal seperti harusnya tidak dibicarakan, karena pada dasarnya koalisi, ya bagi-bagi kursi. Mana mau partai bergabung kalau tidak dapat apa-apa kan?" imbuh Ruhut.

Dia mengingatkan agar peta koalisi saat ini jangan sampai melupakan peranan SBY. Sebagai seorang petahana, ucap Ruhut, SBY masih berpengaruh. Dia mencontohkan Obama yang melobi mantan Presiden AS Bill Clinton untuk memenangi pertarungan pemilihan Presiden di Amerika Serikat.

"Jadi sekarang, jokernya dipegang pak SBY. Di mana pak SBY meletakkan kartu Joker itu, dia akan menang," pungkasnya.(rh/tbn/kompas/bhc/sya)


 
Berita Terkait Pemilu 2014
 
Sah, Jokowi – JK Jadi Presiden dan Wakil Presiden RI 2014-2019
 
3 MURI akan Diserahkan pada Acara Pelantikan Presiden Terpilih Jokowi
 
Wacana Penghapusan Kementerian Agama: Lawan!
 
NCID: Banyak Langgar Janji Kampanye, Elektabilitas Jokowi-JK Diprediksi Tinggal 20%
 
Tenggat Pendaftaran Perkara 3 Hari, UU Pilpres Digugat
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]