Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Pidana    
 
Kasus di Kemenkes
Ratna Dewi Umar di Vonis 5 Tahun Penjara Kasus Alkes
Tuesday 03 Sep 2013 02:14:55

Terdakwa Kasus Korupsi Alkes Dr Ratna Dewi Umar, saat di sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).(Foto: BeritaHUKUM.com/put)
JAKARTA, Berita HUKUM - Mantan Direktur Bina Pelayanan Medik Dasar pada Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan, Ratna Dewi Umar akhirnya di vonis 5 tahun penjara, serta denda 500 juta dengan subsider kurungan 3 bulan penjara, pada sidang di Pengadilan Negeri Tipikor Jakarta Selatan.

Dalam amar putusan yang di bacakan Hakim Nawawi, "memutuskan, Ratna Dewi Umar bersalah dan dijatuhi hukuman 5 tahun penjara denda 500 juta dan kurungan subsider tiga bulan penjara," ujar Nawawi Pomolango Senin (2/9) siang.

Mendengar vonis tersebut Ratna Dewi Umar tertunduk lesu, dan menyerahkan semua pada kuasa hukumnya untuk pikir-pikir dan belum mengajukan banding.

Adapun hal-hal yang memberatkan, terdakwa Ratna Dewi telah melakukan tindakan yang kontra produktif terhadap pemberantasan korupsi. Selain itu juga memberikan citra negatif terhadap pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa berlaku sopan selama di persidangan. Belum pernah di hukum, serta, terdakwa sudah lebih dari 30 tahun mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan menyesali perbuatannya.

Dalam putusannya, Majelis Hakim menilai Ratna terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi, sebagaimana dakwaan subsider. Yakni pasal 3 ayat (1) Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah UU nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan UU nomor 31 tahun 1999 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke 1 juncto pasal 65 ayat (1) KUHPidana.

"Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi bersama-sama sebagaimana dakwaan subsider," ujar Nawawi kembali.

Namun dalam dakwan primer, Ratna tidak terbukti secara sah sebagaimana dakwaan primer yang dituntut oleh Jaksa Penuntun Umum pada KPK.

Yakni pasal 2 ayat (1) Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah UU nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan UU nomor 31 tahun 1999 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke 1 juncto pasal 65 ayat (1) KUHPidana. Karenanya, Majelis Hakim membebaskan Ratna dari dakwaan primer.

Sementara nama mantan Menkes Siti Fadilah Supari dan pengusaha Bambang Rudijanto Tanoesoedibjo juga masuk amar putusan yang di bacakan.

Disebutkan dalam pembacaan amar putusan, Majelis Hakim menyatakan perkara korupsi proyek pengadaan tahun 2006 dan 2007 tidak dilakukan Ratna seorang diri, melainkan bersama-sama.

"Telah terlihat antara terdakwa Ratna Dewi Umar, Siti Fadilah Supari, Bambang Rudijanto Tanoesoedibjo dan Sutikno untuk mewujudkan pengadaan alat kesehatan dan perbekalan dalam rangka flu burung tahun 2006," ujar hakim anggota Sutio JA.

Dan memaparkan penggunaan Pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP bersama-sama atau turut serta melakukan kejahatan.

Siti Fadilah menurut hakim ikut serta dalam merencanakan pengadaan dengan memberi arahan, untuk melakukan penunjukan langsung terhadap perusahaan penyedia produk Alkes.

Kerjasama antara Ratna juga dilakukan dalam pengadaan peralatan kesehatan untuk RS rujukan dalam penanganan flu burung tahun 2007, dan ke 4 pengadaan reagen dan consumable penanganan virus flu burung.

"Terlihat adanya kerjasama erat agar pengadaan dilakukan PT Kimia Farma Trading Distribution. Perbuatan penyertaan dalam Pasal 55 KUHP telah terpenuhi dalam perbuatan terdakwa dalam perkara ini," ujar hakim.

Majelis hakim dalam putusannya menyatakan Ratna terbukti menguntungkan orang lain dan korporasi, dengan menyalahgunakan kewenangannya pada proyek 4 pengadaan yang merugikan keuangan negara Rp 50,477 miliar.(bhc/put)


 
Berita Terkait Kasus di Kemenkes
 
Wawancara Deddy Corbuzier dengan Siti Fadilah Tak Kantongi Izin Kemenkumham
 
Mengerikan Sekali.., Memoar Siti Fadilah dari Penjara Pondok Bambu
 
Menuding Dikriminalisasi KPK, Siti Fadilah: Siapa yang Menyuap Saya?
 
Mengapa Mereka Membenci Siti Fadilah?
 
Siti Fadilah Tersangka Baru Kasus Alkes di KPK
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Iran bombardir pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain
Nikita Mirzani apes kalah di pengadilan setelah gugatan Rp244 miliar pada Reza Gladys ditolak
Dikabarkan mundur, Purbaya bakal umumkan realisasi APBN Mei 2026 hari ini (5/6)
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu
Wamen Imipas Silmy Karim Dicari KPK Usai OTT KaKanim Jakarta Barat
Dadan Hindayana, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung Resmi Tersangka Kasus Dugaan Korupsi MBG
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]