Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Pemilu 2014
Pro Kontra Kampanye Hitam Jokowi di Media Sosial
Friday 09 May 2014 20:26:19

Kampanye Hitam 'RIP Jokowi' Beredar.(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Panasnya tensi politik menjelang pemilihan Calon Presiden 9 Juli mendatang, tak lepas dengan kampanye hitam, dimana salah satu Capres dari PDI- Perjuangan Joko Widodo, dikhabarkan telah meninggal dan diberi ucapan bella sungkawa dari ketua Umum PDI-P Megawati, dengan gambar ucapan kematian milik etnis Cina, Tiongkok "RIP Jokowi" yang beredar di Facebook dan Twitter beberapa hari ini.

Menurut Rahman Latuconsina, S.H. Koordinator Nasional Moncong Intelektual, selama ini sosok Capres Jokowi telah mulai membiasakan diri dengan beredarnya gosip/issue miring tentang dirinya, bahkan dengan Kampanye hitam sekalipun yang disinyalir dikontruksikan oleh kelompok orang-orang "galau" akan majunya Jokowi sebagai Capres

"Beliau yakin hal ini tidak mempengaruhi kepercayaan dan kecintaan Rakyat Indonesia terhadap dirinya. Rakyat sudah cerdas," ujar Rahman Latuconsina kepada BeritaHUKUM.com, Jumat (9/5).

Dijelaskanya, bahwa kelompok orang-orang yang tidak senang terhadap popularitas Jokowi, di sinyalir menjadi galau dan frustasi, ketika berbagai metode yang mereka terapkan untuk menjegal Jokowi tidak berhasil. Sehingga mereka harus memotong kompas dan melakukan Kampanye Hitam guna menciderai citra Jokowi yang diprediksi berbagai kalangan akan menjadi Presiden pada Pemilu 2014.

"Kegalauan mereka tak urung membuat kita semua tertawa geli, apa lagi ketika mereka menyebar fitnah R.I.P Jokowi, atau juga Jokowi Boneka Megawati, Jokowi Etnis Tionghoa serta Issue dan gosip-gosip lain, sampai pada politisasi Kasus Bus Trans Jakarta," ujar Rachman kembali.

Sementara Jokowi sendiri menangapi, isue kampanye kematianya dengan tulisan Cina, bahwa tujuan ucapan tersebut bahwa dirinya merupakan keturunan etnis tionga atau Cina.

"Pertama, itu ngawur. Kedua, itu sudah brutal dan keterlaluan," ujar Jokowi di Balaikota, Jakarta Pusat, pada Kamis (8/5).

Gubernur DKI Jakarta ini ingin serius menindaklanjuti kampanye hitam itu ke ranah hukum. Namun, Jokowi mengaku bahwa sulit untuk mencari tahu siapa pihak yang menyebarkan kampanye itu dan menyerahkanya kepada legal hukumnya.

"Tapi, biar tim legal hukum kitalah yang ngurusin," ucapnya.

Sementara, saling serang dan adu fitnah di jejaring sosial, dimana Jokowi terlihat masih keturunan Cina. Namun yang jelas ibunya adalah Sudjiatmi, perempuan asli Jawa yang sekarang tinggal di Manahan, Banjarsari, Solo.

Bentuk gambar tersebut berupa iklan pengumuman kematian yang sering dimuat di surat kabar. Sebagai awalan dalam gambar tersebut, tercantum tulisan yang mengumumkan “kematian” Jokowi pada 4 Mei 2014.

"Telah meninggal dengan tenang pada hari Minggu 4 Mei 2014 pukul 15.30 WIB, suami, ayah, dan capres kami tercinta satu-satunya."

Pengumuman dilanjutkan dengan informasi mengenai lokasi “jenazah” Jokowi akan dikebumikan. "Jenazah akan disemayamkan di kantor PDIP Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan dan akan dikremasi pada Selasa 6 Mei 2014."

Sebagai penutup pada pengumuman tersebut, tercantum nama istri Joko Widodo, Iriana Widodo, sebagai pihak yang dikondisikan sebagai pemasang iklan. Selanjutnya, tertulis nama Megawati Soekarno Putri sebagai pihak yang ikut “berdukacita”.

"Turut berduka cita : Megawati Soekarno Putri beserta segenap staff, kader, dan Tim Sukses Capres 2014."

Sementara, Budayawan Ridwan Saidi, dalam wawancaranya terkait Jokowi orang Cina dengan Tabloid Suara Islam edisi 174 (14-28 Rabiul Akhir 1435 H/14-28 Februari 2014M) halaman 17, ayah kandung Capres dari PDIP itu adalah seorang Cina asli Solo, yang bernama Oey Hong Liong.

“AS tidak mendukung Jokowi. Jokowi hanya bekerja untuk kepentingan Cina. Bagaimana AS mendukung Jokowi yang seratus persen Cina dan ayahnya seorang Cina dari Solo, Oey Hong Liong,” tegas Ridwan Saidi.(dbs/bhc/put)


 
Berita Terkait Pemilu 2014
 
Sah, Jokowi – JK Jadi Presiden dan Wakil Presiden RI 2014-2019
 
3 MURI akan Diserahkan pada Acara Pelantikan Presiden Terpilih Jokowi
 
Wacana Penghapusan Kementerian Agama: Lawan!
 
NCID: Banyak Langgar Janji Kampanye, Elektabilitas Jokowi-JK Diprediksi Tinggal 20%
 
Tenggat Pendaftaran Perkara 3 Hari, UU Pilpres Digugat
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]