Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

EkBis    
 
Pertamina
Pratek Pungli dan Suap Dituding Marak di Pemasaran Retail Gas Domestik, LPG Pertamina
2019-05-06 22:14:25

Ilustrasi. LPG di SPPBE.(Foto: Istimewa).
JAKARTA, Berita HUKUM - Tri Permadi, SE sebagai koordinator LPG Watch menyampaikan agar Menteri BUMN seharusnya meng-evaluasi salah seorang direksi Pertamina berintial MK yang diduga kuat melakukan pratek pungli san suap di sektor distribusi gas LPG.

Pasalnya, menurut koordinator LPG Watch tersebut bahwa apabila ingin mengajukan menjadi Agen LPG dan SPPBE ( Stasiun Pengisian PengAngkutan Bulk Elpiji ) atau Restester Tabung Gas di Pertamina ada kode tertentu di dokumen permohonan untuk agen, sppbe dan Retester dari pejabat tinggi setingkat direksi Pertamina dan ijin tersebut akan segera diterbitkan oleh Pertamina yaitu dengan kode VIP MK (artinya disinyalir sudah bayar pungli dan suap kepada pejabat tersebut).

"Dan disinyalir jumlah biaya pungutan pungli dan suap pada pejabat yang berinitial MK tersebut untuk mendapatkan ijin menjadi agen gas SPPBE dan Restester di Pertamina itu berkisar Rp.1 milyar untuk agen gas, Rp.2 milyar untuk SPPBE dan Rp.1.5 milyar untuk Restester," ungkap Tri Permadi.

Sepertinya, ungkap Tri bahwa bulan lalu ada 20 dokumen pengajuan izin agen LPG di Jawa Timur yang diberikan kode VIP MK, dalam hitungan seminggu sudah bisa keluar izin agennya.

"Wah-wah kalau 20 dokumen berarti Rp.20 milyar biaya punglinya, yang diduga masuk ke pejabat berinitial MK," cetus Tri.

Seakan, sambungnya lagi menjadi klop dengan pernyataan Ridwan Hisjam, Wakil Ketua Umum Komisi VII DPR yang mengatakan, indikasi adanya oknum nakal di Pertamina lantaran sulitnya untuk membentuk agen LPG yang menjadi garda terdepan pendistribusian LPG di daerah.

Padahal, regulasi tidak menyebut adanya biaya untuk membentuk agen LPG. Namun, DPR banyak menerima laporan di masyarakat terkait sulitnya mendirikan agen, termasuk biaya yang dikutip dengan jumlah yang tidak sedikit.

"Untuk izin mendirikan agen biayanya sampai Rp 1 miliar, bayangkan enggak jelas begitu. Nah kalau dapat izin kan harus dikembalikan, jadi ambil dari uang itu (penyaluran). Birokrasi sulit," kata Hisjam usai rapat dengar pendapat bersama Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM dan Pertamina yang digelar tertutup di Gedung DPR Jakarta, Rabu (6/3) lalu.

Hisyam menegaskan pola-pola seperti itu bisa dimanfaatkan oknum yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya, bisa terjadi kelangkaan di daerah. Hal itu juga bisa menyebabkan harga LPG bersubsidi melonjak

"Sistem perizinan di Pertamina terlalu berbelit. Padahal jika niatnya ingin mengawasi maka harusnya pengawasan dilakukan sampai ke pengecer dan tidak hanya sampai tingkat agen. Karena itu sistem distribusi seperti sekarang harus diperbaiki," jelasnya.

Laporan yang masuk ke Komisi VII menyebut pungutan liar tidak hanya untuk mendirikan agen LPG, namun juga untuk mendirikan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

"Karena itu LPG Bersubsidi Watch mendesak KPK untuk memantau dugaan pratek Pungli di Pertamina pada sistim didistribusi LPG, yang sudah merugikan negara dan masyarakat selama 1 tahun belakangan," katanya

Dimana sistem di Pertamina yang dibuat terlalu birokrasi, oknum-oknum Pertamina dan daerah yang main. Jadi pengusaha keluar duit banyak alias dipungut pungli oleh pejabat Pertamina

"LPG Watch Juga mendesak Menteri BUMN untuk memerintahkan Dirut Pertamina melakukan evaluasi di pendistribusian LPG untuk memutus mata rantai praktek pungli," paparnya.

Kemudian, kedua Menteri BUMN harus copot direktur pemasaran san retail Pertamina yang sudah gagal menciptakan sistim yang efisien dan bebas pungli untuk pengurusan izin agen LPG, sppbe san Retester. LPG Watch sudah memberikan data-data tentang pejabat Pertamina initial MK pada KPK untuk dipantau agar bisa dioperasi OTT. Save Pertamina. Berantas Praktek Mafia LPG," pungkas Tri Permadi.(bh/mnd)

Share : |

 
Berita Terkait Pertamina
Jokowi Jangan Hanya Mikirkan Mengganti Kabinet Saja, Dirut Pertamina Harus Dicopot Juga !
Pratek Pungli dan Suap Dituding Marak di Pemasaran Retail Gas Domestik, LPG Pertamina
Komisi VI Soroti Mekanisme BBM Satu Harga
Polisi Menangkap 5 Tersangka Perampas 2 Truk Tangki Pertamina untuk Demo di Monas
Pemerintah Indonesia Harus Sikapi Mahalnya Harga Avtur
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Siap-siap, WhatsApp Ancam Pidanakan Penggunanya
Utang Pemerintah yang Besar akan Menyulitkan Negara Menalangi Utang Swasta Seperti Krisis 97/08
Utang Luar Negeri RI Bertambah Lagi Jadi Rp 5.528 T
Labirin Maskapai Penerbangan Indonesia
Harga Tiket Pesawat Dikeluhkan Mahal, Menhub: Itu Bukan Urusan Saya
Hong Kong: Aksi Ribuan Massa Tetap Digelar Meski RUU Ekstradisi Ditangguhkan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Utang Luar Negeri RI Bertambah Lagi Jadi Rp 5.528 T
Wakil Ketua DPR: Kredibilitas KPU Hancur Di Sidang MK
Respon KontraS atas Siaran Pers Polri Terkait Peristiwa 21-22 Mei 2019
Tim Hukum Prabowo-Sandi Mempermasalahkan Laporan Penerimaan Sumbangan Dana Kampanye Paslon 01
Bareskrim Polri Gagalkan Penyelundupan 37 Kg Sabu Asal Malaysia
Arief Poyuono: Paslon 01 Mesti Didiskualifikasi, KPU Enggak Paham BUMN Sih..
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]