Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Kriminal    
 
Freeport
Polri Klaim Dana Bantuan Freeport Legal
Friday 11 Nov 2011 18:05:13

Sejumlah personel kepolisian melakukan patroli di areal pertambangan PT Freeport Indonesia (Foto: Ist)
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Tim khusus Mabes Polri telah menuntaskan audit internal atas dana yang diterima anggota kepolisian dari PR Freeport Indonesia. Namun, hasilnya belum dapat diumumkan kepada publik, karena dalam tahap penyusunan. Dijanjikan laporan itu baru dipublikasikan pada Senin (14/11) pekan depan.

Namun, Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Saud Usman Nasution kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (11/11), berani memastikan tidak ada pelanggaran hukum yang dilakukan anggota Polri yang menerima danaFreeport tersebut.

“Memang benar bahwa 365 personel polisi yang tergabung dalam Satgas pengamanan areal tambang PT Freeport, masing-masing menerima uang saku Rp 1,25 juta per bulan. Hitungan membengkak menjadi 14 juta dolar AS, karena Freeport juga memberikan sarana dan prasarana hingga sejumlah jasa.

Menurut dia, aturan yang dijadikan acuan sehingga Polri bisa mengklaim dana dari Freeport tersebut adalah legalm antara lain Keppres Nomor 63/2004 tertanggal 5 Oktober 2004 tentang Polri sebagai penanggung jawab pengamanan objek vital nasional, Kepmen ESDM Nomor 1762/2007 tentang Freeport termasuk perusahaan tambang termasuk objek vital nasional.

Selanjutnya, Kapolri mengeluarkan keputusan buku pedoman teknis Nomor 736/2005 yang salah satu bab mengatur biaya pengamanan obyek vital nasional dibebankan kepada pihak yang diamankan. Berarti, dalam hal ini Freeport.

Sebagai realisasinya, Presdir Freeport Armando Bahler dan Kapolda Papua saat itu, Irjen Pol. Bekto Soeprapto—yang kini menjabar Wakabareskrim—menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 8 Maret 2010. "Sementara demikian seperti itu (sesuai prosedur). Jelas ini legal, karena aturan sudah ada," tutur Saud.

Sebelumnya, Mabes Polri menurutnkan tim khusus untuk melakukan audit internal atas penerimaan dana Freeport tersebut. Tim khusus yang terdiri dari Dipropam, Irwasum dan Baharkam Polri itu, bekerja selama dua minggu. Sejumlah petinggi Polda Papua juga dimintai keterangan. Begitu pula dengan sejumlah petinggi Freeport.(dbs/bie)


 
Berita Terkait Freeport
 
Mulyanto: Isu Perpanjangan Izin PTFI Perlu Dibahas oleh Capres-Cawapres di Masa Kampanye
 
Legislator Nilai Perpanjangan Ijin Ekspor Konsentrat Tembaga Freeport Indonesia Akan Jadi Preseden Buruk
 
Ridwan Hisyam Nilai Pembangunan Smelter Freeport Hanya Akal-Akalan Semata
 
Wacana Pembentukan Pansus Freeport Mulai Mengemuka
 
Wahh, Sudirman Said Ungkap Pertemuan Rahasia Jokowi dan Bos Freeport terkait Perpanjangan Izin
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Fahd El Fouz A Rafiq Diam Saat Ditanya Jadi Tersangka KPK yang Ketiga Kali
SETARA Institute Kritik Putusan Banding Kasus Andrie Yunus: Impunitas Diduga Menguat
Akhirnya MK hapus pasal penghinaan terhadap pemerintah, Prabowo dan Gibran tak bisa laporkan warga
Kasus 'Kardus Durian' Belum Tuntas, KPK Diminta Periksa Muhaimin Iskandar
Kerusuhan pengibaran bendera bulan bintang di Hari Damai Aceh - "Masalah bendera seperti api dalam sekam"
Begini Sibuknya Polri Distribusikan Bantuan Logistik Kapolri untuk Korban Gempa di Flores
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Fahd El Fouz A Rafiq Diam Saat Ditanya Jadi Tersangka KPK yang Ketiga Kali
SETARA Institute Kritik Putusan Banding Kasus Andrie Yunus: Impunitas Diduga Menguat
Akhirnya MK hapus pasal penghinaan terhadap pemerintah, Prabowo dan Gibran tak bisa laporkan warga
Kasus 'Kardus Durian' Belum Tuntas, KPK Diminta Periksa Muhaimin Iskandar
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]