Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Turki
Pilpres Turki: Erdogan Dinyatakan Menang, 'Saya Harap Hasil Ini Tidak Dicurangi'
2018-06-25 11:23:13

Presiden petahana Turki, Recep Tayyip Erdogan.(Foto: CNN)
TURKI, Berita HUKUM - Presiden petahana Turki, Recep Tayyip Erdogan, dinyatakan sebagai pemenang dalam pemilihan presiden Turki oleh kepala komisi pemilihan umum Turki.

Sadi Guven mengatakan Erdogan "menerima mayoritas absolut dari semua suara yang sah". Namun, Guven tidak merinci lebih lanjut.

Dari 99% suara yang telah dihitung, Erdogan meraih 53% suara, mengalahkan rival kuatnya, Muharrem Ince yang memperoleh 31% dukungan, tulis media pemerintah Turki, Anadolu.

Tidak hanya itu, Erdogan juga menyebut partainya, AK, juga meraih mayoritas suara di parlemen, dalam pemilu legislatif yang diselenggarakan bersamaan dengan pilpres pada Minggu (24/06).

Dari 96% suara yang sudah masuk, partai AK memimpin dengan 42% suara, sementara partai oposisi, CHP, 23% suara.

"Turki telah memberi pelajaran demokrasi kepada seluruh dunia," cetus Erdogan.

TurkiHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionPendukung Erdogan berparade di jalan merayakan kemenangan pemilu.

Di lain pihak, kubu oposisi belum secara resmi menyatakan kekalahan. Namun, mereka menegaskan akan melanjutkan pertarungan demokrasi "apapun hasilnya".

ErdoganHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionPendukung AK menyaksikan pidato klaim kemenangan Erdogan.

Berdasarkan konstitusi terbaru Turki, presiden negara yang terletak di Asia dan Eropa itu, akan memiliki kekuasaan yang lebih besar.

Sejumlah pengkritik menyebut ini bisa berbahaya karena kekuasaan terakumulasi di satu orang saja. Alhasil, tidak ada pengawasan dari lembaga setara lainnya.

Jumlah pemilih tinggi, tidak terjadi 'gejolak'

Media pemerintah Turki, Anadolu, menyebut jumlah pemilih yang datang memberikan suara mencapai 87%.

"Saya harap tidak ada yang akan mencurangi hasil ini," kata Erdogan.

InceHak atas fotoAFP
Image captionMuharrem Ince berikrar menjadi pemimpin nonpartisan jika terpilih.

Kepala Bidang Politik Kedutaan Besar Republik Indonesia di Ankara, Fahmi Aris Innayah, mengungkapkan hasil tersebut 'menandakan kemenangan demokrasi Turki'.

"Karena tingkat partisipasinya cukup tinggi. Dan salah satu yang menggembirakan pula karena tidak ada gejolak apapun dalam penyelenggaraan pemilu ini," jelasnya dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir, melalui sambungan telepon pada Minggu malam (24/6).

PemiluHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionSeorang perempuan masuk ke bilik suara diikuti oleh anaknya di Ankara, Turki, Minggu (24/06).

Fahmi menyebut tantangan terbesar Erdogan adalah pengendalian tingkat inflasi yang telah mencapai 11% dan penurunan angka pengangguran. Selain itu, penyelesaian kasus pemberontakan, menjadi fokus lain tantangan dalam negeri, di samping isu Suriah dan ISIS, di kawasan.

"Turki juga bertekad untuk mandiri di bidang teknologi. Ingin punya persenjataan yang maju, Ingin menguasai (sistem misil) S-400 dan (pesawat tempur) F-35. Selain itu, ada tekad kuat juga untuk menjadi anggota Uni Eropa."

Jika Erdogan menang, apa yang akan terjadi?

Dia akan memulai masa jabatannya yang kedua dengan supergesit.

Dulu jabatan presiden di Turki tak lebih dari jabatan seremonial. Namun, pada April 2017, 51% pemilih Turki mendukung konstitusi baru yang memberikan presiden sejumlah wewenang kuat.

Di antaranya:

- Menunjuk langsung pejabat publik di posisi penting, termasuk menteri dan wakil presiden

- Mencampuri sistem hukum

- Menerapkan status darurat

- Menghapus jabatan perdana menteri

Pihak pengkritik menuding Erdogan mencoba memerintah seorang diri, dan lawan politiknya menyebut kekuasaannya tidak akan mendatangkan perubahan.

Jika pilpres dan pemilihan umum legislatif sama-sama dimenangi Erdogan dan partai AK, lanskap politik Turki tidak akan banyak berubah.

ErdoganHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionErdogan menarik pendukung dari berbagai wilayah.

Namun, jika hasilnya berbeda, ketidakstabilan politik dikhawatirkan bisa terjadi.

Sejak percobaan kudeta pada 2016, Turki telah mengalami masa sulit. Lebih dari 160.000 orang ditahan, menurut PBB, sebagai bagian dari upaya pembersihan pengaruh Fethullah Gulen-ulama yang dituding pemerintah Turki berada di balik upaya kudeta.

Gulen sendiri membantah keterlibatan apapun.(BBC/bh/sya)

Share : |

 
Berita Terkait Turki
Presiden Turki Tuduh Amerika Serikat Bermental 'Penginjil dan Zionis'
Turki Mengakhiri Status Negara Darurat
Pilpres Turki: Erdogan Dinyatakan Menang, 'Saya Harap Hasil Ini Tidak Dicurangi'
Islam Semakin Laku sebagai Komoditas Politik di Pemilu Turki?
Presiden Turki Erdogan Sebut PM Israel Benjamin Netanyahu 'Teroris'
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Sindiran Gatot Nurmantyo Dianggap PKS untuk Ingatkan Publik Soal Sejarah G30S/PKI
Membangun Zona Integritas Polri Sesuai Amanat Undang - undang
DPD RI Undang Calon DOB Se Indonesia Kumpul di Jakarta, Berlanjut Aksi Besar di Jakarta
Rizal Ramli: Impor Beras Dikelola Kartel
Diduga Ada Kerugian Negara, KPK Dalami Kasus Tuan Guru Bajang (TGB)
Ketua DPR Minta Dirjen PAS Tanggung Jawab Kericuhan Lapas
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Rizal Ramli: Impor Beras Dikelola Kartel
KPU Loloskan dan Tetapkan Dua Pasangan Capres-Cawapres Indonesia Peserta Pilpres 2019
Rapimnas KBPP Polri, Bima Arya: Tugas Besar Kita Jaga Stabilitas Politik Jelang Pemilu 2019
Konsolidasi Ormas Pendukung Garda Rakyat Suka Prabowo (RSP) di UBK
Demo HMI dan KAHMI Bentrok di Bengkulu, Puluhan Mahasiswa Diamankan
Mengedepankan WBK dan WBBM, Ditjen AHU Kemenkumham Siap Laksanakan OSS
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]