Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Afghanistan
Pemimpin Taliban Pakistan Surati Malala
Thursday 18 Jul 2013 09:35:23

Malala Yousafzai berpidato didepan markas PBB di New York di hari ulang tahunnya.(Foto: Ist)
TALIBAN, Berita HUKUM - Seorang pemimpin Taliban Pakistan mengirim surat kepada Malala Yousafzai, 16 tahun, menyampaikan kekagetannya bahwa dia ditembak oleh Taliban pada tahun lalu.

Taliban mengeluarkan kecaman setelah laki-laki bersenjata menembak kepala Malala.

Dalam suratnya kepada Malala, pemimpin Taliban Pakistan Adnan Rasheed menuliskan dia berharap"serangan itu tak pernah terjadi".

Dia juga mengklaim penembakan itu bukan merupakan reaksi atas kampanye pendidikan untuk anak perempuan yang disuarakan oleh Malala, tetapi karena dia meenyampaikan fitnah anti Taliban.

Malala - yang dipertimbangkan untuk masuk nominasi hadiah Nobel Perdamaian, memberikan kontribusi membawa masalah pendidikan menjadi perhatian global.

Dalam pidatonya di Kantor Pusat PBB New York Jumat lalu, dia mengatakan buku dan pena menakutkan bagi ekstrimis. Dia juga menyerukan pendidikan untuk semua, termasuk "untuk anak laki-laki dan perempuan Taliban dan semua teroris".

Dalam salinan surat diperoleh Channel 4 News dan media lainnya, Rasheed dalam kapasitas pribadi menuliskan bahwa dia secara emosional merasa bersaudara dengan Malala karena sama-sama berasal dari "suku Yousufzai.

Tetapi, dia menolak untuk mengecam serangan tersebut, dan mengatakan penghakiman itu benar atau tidaknya terserah kepada Tuhan.

Kecelakaan

Rasheed mengatakan pertama kali mendengarkan hasil kerja Malala ketika berada di penjara, ketika BBC Urdu menyiarkan catatan harian yang dia tulis.

Dia mengatakan harapannya ketika itu adalah dapat memberikan saran kepada Malala sebelum serangan, yang digambarkan sebagai sebuah "kecelakaan".

Pemimpin Taliban itu pun mengatakan bahwa kelompoknya tidak "menentang pendidikan terhadap laki-laki ataupun perempuan atau anak perempuan". Dia malah mengklaim Malala menjadi target karena dia berkampanye mengenai upaya Taliban untuk membangun sistem Islamis.

"Anda telah mengatakan dalam pidato anda bahwa pena lebih kuat daripada pedang, jadi mereka menyerangmu karena pedangmu, dan bukan karena buku dan sekolah," tulis dia.

Rasheed mengakhiri suratnya Malala untuk "kembali ke rumah, mengikuti budaya Islamis dan Pashtun dan masuk dalam madrasah Islam untuk perempuan... gunakan pena anda....ungkapkan konspirasi elit yang ingin memperbudak kemanusiaan".

Sementara itu, orangtua Malala dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa mereka mengetahui mengenai surat tersebut tetapi tidak secara langung menerimanya dan tidak ingin mengomentarinya.(bbc/bhc/rby)


 
Berita Terkait Afghanistan
 
Afghanistan: Eks Presiden Ghani Minta Maaf Kabur ke Luar Negeri Demi 'Selamatkan Kabul dan 6 Juta Penduduknya'
 
Afghanistan: Qatar dan Turki Memberi Jalan Bagi Taliban untuk Unjuk Gigi di Panggung Dunia
 
Kesepakatan Taliban dan Trump yang Menjadi Kunci Kelompok Ini Menguasai Kembali Afghanistan
 
Afghanistan: Perang Selama 2 Dekade, Berikut Fakta-faktanya dalam 10 Pertanyaan
 
Biden Janji Bantu Afghanistan secara Berkelanjutan di Tengah Penarikan Pasukan AS
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Akhirnya MK hapus pasal penghinaan terhadap pemerintah, Prabowo dan Gibran tak bisa laporkan warga
Kasus 'Kardus Durian' Belum Tuntas, KPK Diminta Periksa Muhaimin Iskandar
Kerusuhan pengibaran bendera bulan bintang di Hari Damai Aceh - "Masalah bendera seperti api dalam sekam"
Begini Sibuknya Polri Distribusikan Bantuan Logistik Kapolri untuk Korban Gempa di Flores
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Akhirnya MK hapus pasal penghinaan terhadap pemerintah, Prabowo dan Gibran tak bisa laporkan warga
Kasus 'Kardus Durian' Belum Tuntas, KPK Diminta Periksa Muhaimin Iskandar
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]