Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Krisis Suriah
Oposisi Desak PBB Turun Tangan Usut Pembantaian
Saturday 26 May 2012 15:27:39

Oposisi Suriah mendesak PBB setelah aksi 'pembantaian' (Foto: AFP)
DAMASKUS (BeritaHUKUM.com) - Syrian Observatory for Human Rights mengungkap lebih dari 50 penduduk sipil, termasuk 13 anak-anak, dibunuh di kota Houla. Menanggapi kejadian tersebut, partai oposisi Syrian National Council (SNC) mendesak PBB segera mengambil tindakan terhadap rezim yang berkuasa.

Gejolak kekerasan yang terbaru timbul seiring utusan Liga Arab PBB untuk Suriah, Kofi Annan, memutuskan untuk kembali ke Damaskus. Kehadiran Kofi Annan di Suriah berperan menengahi pelanggaran gencatan senjata yang beberapa kali terjadi di bulan lalu.

"Ini benar-benar pembantaian dan pengawas dari PBB hanya diam tak bersuara," ujar ketua kelompok pengawasan tersebut, Rai Abdul Rahman pada AFP.

Namun ternyata, SNC yang mendesak PBB untuk bertindak menemukan pembantaian itu memakan lebih banyak korban. "Leih dari 110 orang dibunuh (setengahnya adalah anak-anak) tentara rezim Suriah. Beberapa korban dihantam dengan senjata artileri berat sementara yang lain, seluruh keluarga, dibantai," ujat juru bicara SNC, Basma Kodmani.

Sedangkan laporan dari Sekjen PBB, Ban Ki-moon mengatakan kelompok penentang presiden Bashar Al Assad kini mengendalikan beberapa bagian penting kota. Selain itu diperkirakan terdapat kerusakan fisik yang cukup parah di sepanjang negara.

Laporan ini akan diperdebatkan dalam Dewan Keamanan PBB pada pekan mendatang. Annan yang menengahi enam rencana perdamaian, akan segera kembali ke Suriah seiring kelanjutan upaya menemukan solusi damai terhadap krisis ini.
Sebelumnya kelompok itu melaporkan bahwa seorang pemuda tewas di Aleppo, ketika tentara menembak dengan peluru tajam dan gas air mata pada pengunjuk rasa di kota, di mana gerakan besar anti-rezim demonstrasi berlangsung pada Jumat.

"Hidup Suriah Gulingkan Assad!" demonstran meneriakkan pada saat pemakaman, kata pengawas. Seperti yang dikutip dari asiaone pada Sabtu (26/5).

Empat warga sipil juga tewas akibat tembakan di Aleppo, pengawas ditambahkan, termasuk dua anak.

Abdel Rahman kepada AFP di Beirut protes di Aleppo adalah yang terbesar di kota itu sejak pemberontakan dimulai pada Maret 2011.

Di barat laut provinsi Idlib, puluhan ribu juga berbaris di daerah yang dikuasai pemberontak dari Maaret al-Numan, Saraqe, Kafrnoubol, Hass dan Sarge, Abdel Rahman mengatakan.

Dan di selatan Daraa provinsi, tempat kelahiran pemberontakan terhadap Assad, pasukan menembaki demonstran, beberapa di antaranya terluka dalam serangan ketika mereka muncul dari masjid setelah shalat Jumat, ujar pengawas itu.

Aktivis demokrasi telah menyerukan protes di bawah slogan: ". Pertemuan kami berikutnya, Damaskus"

Damaskus dan Aleppo, awalnya terhindar dari kekerasan mematikan yang melanda Suriah sejak tahun lalu, telah terseret ke dalam krisis dalam beberapa pekan terakhir dan juga telah menjadi tempat pemboman mobil bunuh diri mematikan.

Protes dilaporkan pada fajar di sedikitnya lima lingkungan perumahan ibukota untuk mendukung Tentara Free Syrian Army (FSA), yang kebanyakan adalah desetir dari tentara reguler.

Pasukan Loyalis menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstran berbaris di distrik Midan, Observatorium dilaporkan, mengatakan seorang anak dibunuh oleh penembak gelap di pinggiran Irbin.

Sebuah panel PBB, Kamis, mengatakan pasukan Pemerintah yang harus disalahkan atas pelanggaran yang paling dalam pada kekerasan yang telah berlangsung pada setiap hari, meskipun gencatan senjata seharusnya diberlakukan 12 April.

Lebih dari 12.600 orang tewas di Suriah dalam pemberontakan melawan kekuasaan Assad, termasuk hampir 1.500 orang sejak gencatan senjata yang didukung PBB itu mulai berlaku, menurut angka Observatory.(afp/nao/yga)


 
Berita Terkait Krisis Suriah
 
Suriah: Kami Bangga Mengakui Cina dan Rusia Bukan Negara Penjajah
 
Dua Ratus Orang Terbunuh dalam Serangan di Suriah
 
PBB: Anak-anak Di Suriah Dijadikan Tameng Hidup Oleh Tentara
 
Supir KBRI Suriah Tewas Tertembak
 
Oposisi Desak PBB Turun Tangan Usut Pembantaian
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Ketua BEM FH UBK mengaku terima uang Rp20 juta usai demo bertemu Gibran, ini rincian aliran dananya
Heboh dugaan suap ketua BEM FH UBK jadi tanda wapres menunggangi demonstrasi mahasiswa
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]