Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Pilpres
Mulyana W. Kusumah: Prospek Capres Berlatar Belakang Militer
Tuesday 01 Oct 2013 16:49:36

Mulyana W Kusumah Dalam Diskusi di Kantor GPI, Menteng, Jakarta Pusat (Foto : bhc/rat)
JAKARTA, Berita HUKUM – Saingan utama capres dari militer dalam pemilu 2014 adalah capres dari kalangan sipil yang dinilai populis, membawa harapan baru dan dinilai memiliki eligibiltas tinggi. Hal tersebut dikemukana mantan anggota KPU Pusat, Mulyana W. Kusumah, dalam diskusi yang digelar Gerakan Pemuda Islam (GPI) di, Kantor GPI, Menteng Raya No.58, Kamis (26/09).

Selain Mulyana, nara sumber lain dalam diskusi tersebut, menghadirkan pengamat politik, Zulkifli yang lebih banyak menyoroti, kebobrokan dan penyelewengan pelaksanaan demokrasi yang ada saat ini, bahkan Zulkifli mempertanyakan, apakah demokrasi yang ada saat ini akan dilanjutkan.?. Dokter yang memilih jalan sebagai aktivis ini juga menyoroti berbagai hal mulai dari mentahnya amandemen UUD 1945 tahun 2002, sampai dengan prediksi kerawanan pemilu 2014 mendatang.

Sementara itu Mulyana W. Kusumah, juga menegaskan bahwa hasil pilpres 2004 menunjukan capres berlatar belakang militer, Susilo Bambang Yudhoyono (yang berpasangan dengan Jusuf Kalla) meraih 33,57 persen suara, unggul dari capres asal militer lain Wiranto (yang berpasangan dengan Salahudin Wahid) yang memperoleh suara 22,15 persen, serta pasangan Megawati Soekarnoputri – Hasyim Muzadi (26,51 persen suara). Pada putaran ke dua SBY – JK unggul mutlak dengan menapat 60,32 persen mengalahkan Megawati Soekarnoputri – Hasyim Muzadi (39,38 persen).

Dalam pilpres 2009, lanjut Mulyana, SBY yang kali ini berpasangan dengan Boediono menang dengan 60,80 persen suara, mengalahkan Megawati – Prabowo (26,76 persen) serta JK – Wiranto (12,41 persen). Pilpres 2009 merupakan konstestasi satu capres dan dua cawapres dari kalangan militer.

“Dalam pilpres 2014 diprediksi bakal capres hasil konvensi Partai Demokrat (PD) Pramono Edhie Wibowo (yang tentu harus diusung koalisi parpol, karena sulit bagi Partai Demokrat untuk memenuhi 20 persen kursi DPR atau 25 persen perolehan suara (pemilu), serta bakal capres Partai Gerindra Prabowo Subianto (yang juga diyakini harus didukung koalisi parpol), dipredisksi akan menjadi calon kuat untuk bersaing meraih kursi Presiden RI 2014. Bahkan lebih jauh kedua parpol tersebut akan menjadi poros koalisi parpol, dan bukan mustahil satu diantaranya merupakan grand coalition,”ungkap mantan anggota KPU Pusat, Mulyana W.Kusumah.

Lebih jauh Mulyana juga memaparkan, bahwa sejauh ini, saingan dari kalangan sipil yang mengedepankan berdasarkan hasil lembaga-lembaga survey yang dapat dipercaya dalam enam bulan terakhir adalah Jokowi, Megawati Soekarnoputri dan Aburizal Bakrie. PDIP dan Partai Golkar juga diprediksi dapat menjadi poros koalisiparpol.

Walaupun menurut lembaga-lembaga survey tingkat elektabilitas Pramono Edhie Wibowo masih jauh di bawah Prabowo Subianto, namun dipastikan dukungan penuh segenap sumberdaya politik dan sumberdaya financial Presiden SBY dengan keluarganya akan mampu mengubah peta elektabilitas dalam beberapa bulan ke depan.

Dalam konteks perilaku pemilihan pasca 1998, nampaknya tidak ada pola preferensi tertentu yang lebih cenderung untuk memilih capres dari kalangan sipil atau yang berlatar berlatar belakang kalangan militer. Dengan begitu secara umum dapat disimpulkan tidak ada resistensi politik rakyat terhadap capres yang berasal dari militer.

“Artinya, capres berlatar belakang militer berpotensi memperoleh legitimasi politik dalam bentuk dukungan rakyat dalam pilpres 2014,”jelas Mulyana W.Kusumah.(bhc/rat)


 
Berita Terkait Pilpres
 
Beredar 'Bocoran' Putusan Pilpres di Medsos, MK: Bukan dari Kami
 
Selain Megawati, Habib Rizieq dan Din Syamsuddin Juga Ajukan Amicus Curiae
 
Ahli dari Kubu Prabowo Sebut Pencalonan Gibran Sesuai Putusan 90, Hakim MK Bilang Begini
 
Bertemu Ketua MA, Mahfud MD Minta Pasangan Prabowo-Gibran Didiskualifikasi di MK
 
Tak Mau Buru-buru Soal Hasil Pemilu, Koalisi Amin Kompak Tunggu Pengumuman KPU
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]