Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Pemilu 2014
Mantan Panglima TNI: Soal Babinsa Tunjuk Orangnya, Jangan Fitnah!
Saturday 07 Jun 2014 19:16:27

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Djoko Santoso.(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Djoko Santoso meminta pelapor adanya oknum bintara pembina desa (babinsa) yang diduga tidak netral dalam Pilpres 2014 bisa membuktikan kebenaran laporannya.

"Saya harap, orang yang lapor soal babinsa itu, Mr. X, tunjuk orangnya. Kalau benar ditindak tegas, jangan fitnah karena fitnah memecah belah kita, tidak bagus," katanya yang ditemui saat menghadiri deklarasi dukungan relawan Komunitas Masyarakat Penyelamatan Indonesia (Kompi) kepada Prabowo-Hatta di Jakarta, Sabtu (7/6).

Menurutnya, adanya fitnah tentang pengerahan personel TNI dalam Pemilu 2014 merusak semangat demokrasi sekaligus memecah belah bangsa.

"Saya tidak rela TNI difitnah. Maka saya harap TNI bisa usut tuntas kejadian ini, dibantu dengan kepolisian," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menceritakan pengalamannya saat menjadi pimpinan satuan TNI pada Pemilu 2009 bahwa semua personel sudah diingatkan untuk selalu bersikap netral.

Ia bahkan mengaku sempat mencetak 500 ribu eksemplar buku saku bagi para anggotanya kala itu hanya untuk mengingatkan mereka atas netralitas satuan.

Sementara itu, mantan Kapolda Metro Jaya Komjen Pol (Purn) Nugroho Djayusman, dalam kesempatan yang sama, mengatakan, adanya kasus pengerahan babinsa ini merupakan salah satu upaya untuk menghancurkan lawan dengan tidak sportif.

"Ini menyesatkan, maka harus buktikan, tindak secara hukum dan tidak boleh fitnah. Boleh beda dukungan, tapi tidak boleh hancurkan seseorang," katanya.

Sebagaimana diberitakan salah satu media nasional, warga di kawasan Cideng Jakarta Pusat diresahkan oleh pendataan yang mengumpulkan data tentang calon Presiden dan calon wakil Presiden yang akan dipilih.

Pendataan itu dilakukan oleh orang yang mengaku Babinsa. Dalam pendataan itu, warga diarahkan untuk memilih pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Sementara itu, pihak tim sukses Prabowo-Hatta membantah telah melancarkan strategi tersebut.

Sementara, Ketua RT setempat, RF justru belum mendapat laporan langsung tentang 'pergerakan' Babinsa di wilayahnya ini. Namun, ia mengaku heran jika anggota Babinsa sampai turun tangan melakukan pendataan calon pemilih Pilpres dengan membawa data DPT.

"Saya sudah dikasih list daftar pemilih (DPT) dari RW. Seharusnya itu bukan tugasnya Babinsa," ujarnya di Cideng, Jakarta Pusat, Kamis (5/6).

Menurut penuturan petugas keamanan setempat, anggota Babinsa yang melakukan pendataan warga dan menanyakan pilihan capres tersebut merupakan anggota yang baru bertugas sekitar dua bulan.

"Kalau dia anggota Babinsa, ada nggak surat tugasnya. Saya kenalnya dengan Babinsa yang lama, kalau yang baru belum kenal. Tapi, seharusnya fungsi Babinsa 'kan untuk membantu keamanan," katanya.

Sedangkan, menurut Ketua tim pemenangan pasangan Prabowo-Hatta, Mahfud MD, membantah timnya menggerakan Bintara Pembina Desa (Babinsa) untuk mengarahkan pilihan masyarakat. Menurutnya, Prabowo tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan Babinsa.

"Itu tidak benar sama sekali, dan itu fitnah. Yang punya Babinsa kan pemerintah resmi atau TNI. Jadi Prabowo tidak punya kekuatan mengendalikan Babinsa," kata dia usai Deklarasi Relawan Kesatuan Aksi Pendukung Prabowo untuk Indonesia Satu (KAPPI-1) Jatim, di Surabaya, Sabtu (7/6).(ant/put/okz/tbn/bhc/sya)


 
Berita Terkait Pemilu 2014
 
Sah, Jokowi – JK Jadi Presiden dan Wakil Presiden RI 2014-2019
 
3 MURI akan Diserahkan pada Acara Pelantikan Presiden Terpilih Jokowi
 
Wacana Penghapusan Kementerian Agama: Lawan!
 
NCID: Banyak Langgar Janji Kampanye, Elektabilitas Jokowi-JK Diprediksi Tinggal 20%
 
Tenggat Pendaftaran Perkara 3 Hari, UU Pilpres Digugat
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]