Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Lingkungan    
 
Virus Corona
Lonjakan Kasus Covid-19 Perlu Direspon dengan Persiapan
2021-05-28 11:48:03

Anggota Komisi IX DPR RI Dewi Asmara.(Foto: Jaka/man)
JAKARTA, Berita HUKUM - Anggota Komisi IX DPR RI Dewi Asmara mengingatkan lonjakan kenaikan kasus Covid-19 yang terjadi Indonesia hendaknya direspon dengan berbagai persiapan, dan tidak perlu terlalu merasa gamang. Menurut politisi Fraksi Partai Golongan Karya ini, kewaspadaan menjadi hal yang ditingkatkan dengan meningkatkan testing rate Covid-19, mengingat varian baru mulai masuk di Indonesia.

"Mungkin beberapa teman sudah mengatakan, kurangnya testing yang masif dan tidak adanya testing yang intended, karena kita ketahui bersama testing rate kita masih jauh dari apa yang direkomendasikan oleh WHO (World Health Organization)," terang Dewi dalam Rapat Kerja dengan Wakil Menteri Kesehatan dan Ketua Satgas Penanganan Covid-19 di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (27/5).

Pada periode 18 hingga 24 Mei 2021, diketahui Indonesia mengalami kenaikan kasus Covid-19 hingga sebesar 46 persen. Tercatat penambahan sebesar 3.782 kasus dibandingkan sepekan sebelumnya sebanyak 25.470 kasus dan saat ini terbesar keenam di Asia. Kenaikan ini juga berdampak pada kenaikan okupansi di rumah sakit.

Menanggapi kenaikan angka kasus ini, Dewi juga mempertanyakan kesiapan yang dilakukan Kementerian Kesehatan dalam menghadapi pandemi. Dewi menilai, paparan dari Kemenkes tersebut hanya berisikan data-data dan tidak menggambarkan keterlibatan Kemenkes terhadap penanganan pandemi Covid-19.

"Di mana peran Kemenkes dengan data-data yang dipaparkan di (lampiran bahan rapat, red) sini. As a government, apa yang sedang dan akan dilakukan (Kemenkes)? Bagaimana upaya koordinasinya baik itu internal maupun eksternal? Bagaimana upaya tracing dan testing-nya yang kita ketahui sama-sama, itu kan suatu tolok ukur untuk kita bisa tahu secara pasti besaran masalah dari Covid," tegas politisi dapil Jawa Barat IV itu.

Dewi juga mengkritisi capaian tracing dan testing Covid-19. Paparan Wamenkes menunjukkan, jumlah laboratorium PCR mengalami peningkatan sebesar 54 persen dari November 2020 sampai Mei 2021. Ironisnya, tes PCR secara nasional hanya berkisar di angka 28-29 ribu per hari dengan jumlah pelapor kasus hanya sebesar 52 persen dalam dua bulan terakhir. Adapun alokasi anggaran untuk tracing dan tracking per 11 Mei 2021, sebesar Rp9,9 triliun dan dialokasikan dari total anggaran penanganan Covid-19 sebesar Rp172,35 triliun.

"Oleh karenanya saya katakan, bahwa testing harian seperti ini menyebabkan dengan laporan yang hanya 50 persen seakan akan kasus Covid-19 ini landai atau naik sedikit. Padahal, bukan landai atau naik sedikit, ya karena yang melaporkan hanya 52 persen, atau kita melakukan testing dan tracing-nya sedikit. Jadi ini semu, bukan menggambarkan situasi yang sebenarnya. Untuk itu, tentu ini harus ada perbaikan," pungkas Dewi.(hal/sf/DPR/bh/sya)


 
Berita Terkait Virus Corona
 
Pemerintah Perlu Prioritaskan Keselamatan dan Kesehatan Rakyat terkait Kedatangan Turis China
 
Pemerintah Cabut Kebijakan PPKM di Penghujung Tahun 2022
 
Indonesia Tidak Terapkan Syarat Khusus terhadap Pelancong dari China
 
Temuan BPK Soal Kejanggalan Proses Vaksinasi Jangan Dianggap Angin Lalu
 
Pemerintah Umumkan Kebijakan Bebas Masker di Ruang atau Area Publik Ini
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
KAI Luncurkan Nusantara Explorer, Kereta Mewah yang Siap Ubah Wajah Pariwisata Indonesia
Purbaya curhat: Saya menteri paling tidak beruntung di dunia
KPK Petakan 3 Titik Rawan Korupsi APBD, Mitigasi Potensi Kebocoran Daerah Capai Rp2,37 Triliun
RUU Perampasan Aset Masih Ada di Prolegnas Prioritas 2026, DPR-Pemerintah Concern Membahas
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]