Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Lingkungan    
 
PLTU Batang
Konflik Lingkungan PLTU Batang Masih Mengalami Kebuntuan
Tuesday 12 Feb 2013 11:39:59

Aksi warga beberapa waktu silam menolak PLTU Batang di kawasan konservasi laut.(Foto: Ist)
JATENG, Berita HUKUM - Penolakan warga terhadap rencana pembangunan PLTU Batang saat ini disikapi secara serius oleh Pemerintah Daerah baik Pemerintah Daerah Jawa Tengah maupun Pemerintah Kabupaten Batang. Keinginan besar untuk mendirikan PLTU Batang di kawasan konservasi terumbu karang, di desa Karanggeneng ini dilakukan oleh Pemerintah daerah Provinsi maupun Kabupaten dengan menerjunkan puluhan aparat, baik itu TNI maupun Polri dengan dalih untuk mengkondusifkan suasana di masyarakat. Mereka dari Polres Batang dan Kodim Batang. “Kami merasa takut dan tidak nyaman dengan keberadaan TNI dan Polri di desa kami, karena kami merasa tidak ada apa-apa. Keberadaan mereka malah melarang kami berkumpul bersama warga dan kemarin menyobek aspirasi tertulis yang dipasang ditembok rumah masing-masing warga,” kata Imiyanto, warga Ponowareng.

Dalam rilis dijelaskan, sebelum adanya aparat TNI dan Polri, keadaan desa Karanggeneng dan desa Ponowareng itu relatif kondusif dan seperti biasa adanya. Penerjunan TNI dan Polri di desa Karanggeneng dan Ponowareng ini dibuat seolah-olah terjadi konflik yang serius dan suasana desa mencekam, agar ada alasan pembenar terhadap penerjunan tersebut. “Kepada siapa kami meminta perlindungan HAM, kalau aparat pemerintah justru yang melanggar HAM dan melarang Hak asasi kami,” jelas Ilmiyanto, warga Ponowareng

Hal senada juga dilontarkan oleh Didit dari Greenpeace Indonesia yang mendampingi warga desa. “Kami berharap aparat TNI dan Polri harus segera ditarik karena keberadaannya malah membuat takut warga dan ini bukan daerah konflik,” ungkap Didit.

Menurut LBH Semarang, walaupun secara hukum dan HAM masyarakat ini mempunyai hak untuk keberatan tetapi mereka dianggap oleh pemerintah sebagai masyarakat yang melawan pemerintah. Banyak nilai-nilai HAM dalam rencana pembangunan PLTU Batang ini diabaikan dan dilanggar, hal tersebut dapat dibuktikan bahwa adanya kriminalisasi terhadap sejumlah warga yang menolak. “Kami menuntut agar TNI dan Polri harus segera di tarik, Bubarkan Posko Pengadaan Tanah dan Lindungi Hak Asasi warga setempat karena sangat meresahkan para warga dan membatasi Ham warga setempat,” tegas Wahyu Nandang Herawan, Staff LBH Semarang.

Dalam menangani kasus PLTU Batang, Polri dan TNI langsung menggunakan Instruksi Presiden (Inpres) No 2 tahun 2013 tentang Penanganan Gangguan Keamanan Dalam Negeri yang mengatur penanganan khusus terhadap konflik sosial sangat membahayakan situasi dalam negeri karena kembali melibatkan TNI seperti di era Orde Baru. ”Jangan berlindung dalam Inpres No 2 Tahun 2013 karena di Batang ini tidak ada konflik,” tutup Nandang.(mgb/bhc/opn)


 
Berita Terkait PLTU Batang
 
Presiden Rakyat, Selamatkan Rakyat dari Ancaman PLTU Batubara
 
PLTU Batubara Batang, Sebuah Ancaman untuk Komitmen Perubahan Iklim Pemerintah SBY
 
Konflik Lingkungan PLTU Batang Masih Mengalami Kebuntuan
 
Badan Lingkungan Hidup Jawa Tengah Tolak PLTU Batang Karena Salahi Aturan
 
Warga Batang Demo di Jakarta Tolak Pembangunan PLTU
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]