Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

EkBis    
 
Nelayan
Komisi IV DPR RI Temukan Sejumlah Permasalahan Nelayan
2017-10-30 12:35:36

Tim Kunspek Komisi IV DPR menyerap aspirasi terkait permasalahan yang dialami oleh nelayan di Kabupaten Kuburaya, Kalbar.(Foto: Ayu/jk)
KALIMANTAN BARAT, Berita HUKUM - Komisi IV DPR RI temukan sejumlah permasalahan yang dialami oleh nelayan di Kabupaten Kuburaya, Kalimantan Barat, khususnya terkait Permen KKP No.2 Tahun 2015. Hal itu terungkap dalam kunjungan kerja Komisi IV DPR ke Pelabuhan Sungai Kakap, Kuburaya, Kalimantan Barat, Sabtu (28/10).

"Sebelumnya ada kesepakatan pihak istana (diwakili oleh Staff Kepresidenan Teten Masduki) dengan nelayan yang salah satu isinya adalah bahwa pemerintah akan melakukan kajian atas beberapa kebijakan yang menyangkut nasib nelayan, salah satunya tentang Permen No.2 Tahun 2015 yang melarang penggunaan alat tangkap ikan Pukat Hela (thrawl) dan Pukat Tarik, atau cantrang. Namun hingga dua bulan lagi (setelah perpanjangan waktu) peraturan tersebut akan diterapkan, kajian tersebut belum juga ada hasilnya," papar Ketua Tim Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI Daniel Johan.

Akibat dari Permen tersebut, lanjut Wakil Ketua Komisi IV ini, tidak sedikit nelayan yang ditangkap. Padahal hingga saat ini di Kuburaya sendiri baru dua puluh persen nelayan yang mendapatan bantuan alat tangkap yang diperbolehkan oleh pemerintah, yang konon lebih ramah lingkungan.

Bahkan jika pelarangan alat tangkap ikan seperti cantrang terus diimplementasikan, Daniel meyakini akan berdampak besar bagi kehidupan nelayan. Banyak nelayan yang takut melaut, sehingga penghasilannya pun menurun dan akhirnya akan timbul dampak sosial lainnya seperti pengangguran, peningkatan angka kejahatan dan sebagainya.

Tidak hanya itu, ketidaksesusian data nelayan dan data yang ada pada dinas perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan terkait jumlah nelayan yang harus mendapat bantuan alat tangkap pukat juga berbeda. Kondisi ini tentu akan membahayakan, karena akan menyebabkan konflik horizontal, kecemburuan antar nelayan penerima bantuan alat tangkap.

"Ketidaksinkronan data yang dimiliki dinas Perikanan KKP dengan data di lapangan terkait jumlah nelayan yang seharusnya menerima bantuan alat tangkap (yang diperbolehkan) akan berdampak dan membahayakan juga. Data yang ada pada dinas perikanan sekitar 1400 an, sementara data di lapangan ada sekitar 2500 an nelayan di Kuburaya yang seharusnya mendapatkan bantuan alat tangkap baru, ini sangat jauh berbeda. Untuk itu saya meminta pendataan ulang agar menghasilkan data yang lebih valid," terang politisi dari Fraksi PKB ini.

Terkait Permen No.2 Tahun 2015 itu Daniel mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan desakan terhadap pemerintah untuk segera meninjau ulang kebijakan tersebut. Bahkan, sebagai langkah akhir, pihaknya tidak segan untuk menahan atau tidak menyetujui anggaran Kementerian KKP jika pemerintah belum menemukan solusi atau kajian yang disepakati oleh nelayan dan bisa meningkatkan kesejahteraan para nelayan.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Dirjen Perikanan Tangkap Syarief Hidayat yang ikut dalam kunjungan tersebut mengatakan bahwa saat ini pemerintah masih terus melakukan kajian atas segala kebijakan yang telah dikeluarkannya. Ia meyakini bahwa segala kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tujuan akhirnya untuk kesejahteraan rakyat, dalam hal ini nelayan.

"Bantuan alat tangkap, saat ini memang masih 221 buah yang kami berikan untuk nelayan Kuburaya, Kalbar ini. Namun akan menyusul pada pekan atau bulan berikutnya. Jika ada yang belum terdaftar boleh menyusul pendaftarannya. Sekaligus apa yang menjadi kebutuhan nelayan bisa dilaporkan pada kami," papar Syarief.(ayu/sc/DPR/bh/sya)

Share : |

 
Berita Terkait Nelayan
Kampung Nelayan, Tanggul Laut Kamal Muara Terus Tertata dan Dipoles
Komisi IV DPR RI Temukan Sejumlah Permasalahan Nelayan
Perjuangkan Nasib Nelayan, MPM PP Muhammadiyah Gagas Gerakan 1 Juta Surat Nelayan untuk Presiden
Pemerintah Harus Fokus Tingkatkan Kesejahteraan Nelayan
Pangarmabar Tegaskan Tidak Ada Korban Penangkapan Kapal Nelayan Tiongkok
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Muhammadiyah dalam Amalnya Tidak Berpikir Untung Rugi
Gubernur Anies Baswedan Bertemu Presiden Turki di Istanbul
Ibu Negara Iriana Melepas Peserta Lomba Kartini Run 2018
Ahli Ekonomi Ichsanuddin Noorsy: Holdingisasi BUMN Harus Penuhi Syarat
PD Sindir PDIP: Dulu BBM Naik Sampai Nangis-nangis!
Prajurit TNI dan Polri Jangan Menyakiti Hati Rakyat
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Gubernur Anies Baswedan Bertemu Presiden Turki di Istanbul
Fadli Zon: Pemerintah Indonesia Istimewakan Tenaga Kerja Asing
Dewan Pers Digugat ke Pengadilan atas Perbuatan Melawan Hukum
Banyak Proyek Infrastruktur Runtuh, Jokowi Pura-Pura Tidak Tahu
Fahri Hamzah: Pemerintah Harus Segera Mencabut Perpres TKA
Amien Rais Disebut 'Politikus Comberan', PAN Kesal dan Angkat Bicara
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]