Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Peradilan    
 
Kapolri
Ketentuan Pengangkatan Pelaksana Tugas Kapolri Digugat ke MK
Saturday 14 Feb 2015 21:12:07

Pemohon Windu Wijaya diwakili kuasanya Hazmin A. ST Muda saat menyampaikan dalil-dalil permohonan dalam sidang perdana Pengujian UU Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kamis (12/02) di RUang Sidang Pleno Gedung MK.(Foto: Humas/Ganie)
JAKARTA, Berita HUKUM - Direktur Pusat Advokasi dan Pengawasan Penegakan Hukum (PAPPH), Windu Wijaya ajukan pengujian ketentuan pemberhentian Kepala Polri (Kapolri) dan pengangkatan pelaksana tugas (plt) Kapolri oleh presiden dalam keadaan mendesak dalam Undang-Undang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Sidang perdana perkara yang teregistrasi dengan nomor 24/PUU-XIII/2015 digelar Kamis (12/2) di Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi (MK). Hazmin A Sutan Muda hadir selaku kuasa hukum Pemohon untuk menjelaskan pokok-pokok permohonan di hadapan panel hakim yang dipimpin Wakil Ketua MK Anwar Usman.

Dalam permohonan a quo, Wijaya menyatakan sebagai warga negara Indonesia merasa dirugikan atau berpotensi drugikan dengan ketentuan Pasal 11 ayat (5) UU Polri. Norma yang terkandung dalam pasal tersebut dianggap telah menimbulkan multitafsir dan bertentangan dengan prinsip pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil sebagaimana diamanatkan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. Pasal yang sama juga dikhawatirkan akan dapat melanggar hukum ketika pasal tersebut diartikan bahwa Presiden selaku kepala pemerintahan dan kepala negara yang memiliki kewenangan untuk mengangkat pelaksana tugas Kapolri tanpa menyertai alasan-alasan dalam keadaan mendesak dan tanpa meminta persetujuan DPR. Sehingga, presiden seolah-olah telah bertindak sesuai dengan hukum ketika mengangkat Kapolri. Untuk lebih jelasnya, berikut redaksional Pasal 11 ayat (5) UU Polri.

Pasal 11

(5) Dalam keadaan mendesak, Presiden dapat memberhentikan sementara Kapolri dan mengangkat pelaksana tugas Kapolri dan selanjutnya dimintakan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat

Ketentuan tersebut digugat setelah Pemohon merasa pengangkatan Wakapolri Komjen Polisi Badrodin Haiti sebagai pelaksana tugas dengan mendasarkan kepada Pasal 11 ayat (5) UU Polri tidak memenuhi syarat. Sebab, pengangkatan Badrodin dianggap oleh Pemohon tidak dalam keadaan mendesak dan tidak Kapolri sebelumnya tidak diberhentikan sementara.

“Pasal tersebut telah membuka peluang bagi presiden untuk mengangkat pelaksana tugas Kapolri tanpa persetujuan DPR dengan alasan bahwa pengangkatan pelaksana tugas Kapolri tersebut dilakukan secara hormat dengan tetap. Norma Pasal 11 ayat (5) Undang-Undang tentang Kepolisian Republik Indonsia merupakan norma yang telah menimbulkan multitafsir dan berpotensi menimbulkan tafsiran inkonstitusional. Oleh karenanya maka Pasal 11 ayat (5) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia telah menimbulkan ketidakpastian hukum dan bertentangan dengan asas negara hukum dan merugikan hak-hak konstitusional Pemohon sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945,” ujar Hazmin saat menjelaskan pokok-pokok permohonan di hadapan panel hakim.

Lebih lanjut, Pemohon mendalilkan seharusnya setiap orang sesuai Pasal 28J ayat (2) Undang-Undang Dasar harus patuh pada pembatasan dalam setiap undang-undang. Pembatasan seperti yang ada dalam Pasal 11 ayat (5) UU Polri semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain. Terlebih, bila Pasal 11 ayat (5) UU Polri salah ditadsirkan makan akan berpotensi menimbilkan penyalahgunaan jabatan presiden dalam mengangkat plt Kapolri dengan alas an keadaan mendesak dan tanpa persetujuan DPR. Oleh karena itu, Pemohon meminta Presiden Republik Indonesia, tanpa terkecuali, harus mampu mewujudkan kepastian hukum dan ketertiban hukum dalam menjalankan fungsi, tugas, dan kewenangannya.

Putusan Sela

Pemohon menganggap Mahkamah perlu menerbitkan putusan sela untuk perkara ini. Hal itu diperlukan untuk mencegah ketidakpastian hukum bagi Pemohon selaku warga negara Indonesia yang menganggap pengangkatan plt kapolri tidak sah karena tidak dalam keadaan mendesak. “Maka putusan provisi dalam perkara Pemohon dalam menguji Pasal 11 ayat (5) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah sangat mendesak untuk mencegah terjadinya pelanggaran hak asasi Pemohon apabila norma hukum diterapkan. Dalam perkara a quo putusan sela diperlukan untuk mencegah kemungkinan kerugian konstitusional hak Pemohon atas penggunaan kewenangan Presiden Republik Indonesia yang tidak sah,” jelas Hazmin lagi.

Menyadari akan terjadi kekosongan hukum bila Mahkamah menyatakan pasal a quo bertentangan dengan Konstitusi, Pemohon dalam petitumnya meminta Mahkamah memberikan tafsir atas Pasal 11 ayat (5) UU Polri sehingga menjadi konstitusional. Pemohon juga menyatakan pasal a quo harus ditafsirkan bahwa ketika presiden mengangkat pelaksana tugas Kapolri, maka pengangkatan pelaksana tugas Kapolri sah sepanjang Kapolri dalam masa jabatannya mengundurkan diri, berhalangan tetap, dan/atau diberhentikan sementara oleh presiden dalam keadaan mendesak dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.(YustiNurulAgustin/mk/bhc/sya)


 
Berita Terkait Kapolri
 
Kapolri: Layani dan Lindungi serta Perhatikan Rasa Keadilan Masyarakat
 
Kapolri Bilang 'Potong Kepala', Ditambahin Kapolda Metro: Saya 'Blender' Sekalian
 
Program 100 Hari Presisi Kapolri, Prakasa Asabels Nusantara Giatkan Layanan Ambulans Gratis untuk Masyarakat
 
100 Hari Kerja Kapolri Jenderal Listyo Dinilai Berperan Penting dalam Pemulihan Ekonomi Nasional
 
Romo Benny Apresiasi 100 Hari Kerja Kapolri: Penyelesaian Masalah Intoleransi dengan Penegakkan Hukum
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah
Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel
Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai
PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus
Diduga Peras Tersangka hingga Rp 375 Juta, Direktur Resnarkoba Polda NTT Dicopot
Presiden hingga DPR Minta Polri Usut Tuntas Kasus Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah
Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel
Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai
PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus
Diduga Peras Tersangka hingga Rp 375 Juta, Direktur Resnarkoba Polda NTT Dicopot
Presiden hingga DPR Minta Polri Usut Tuntas Kasus Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]