Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

EkBis    
 
Transportasi
Kebijakan Bagasi Pesawat Berbayar Perlu Dikaji Ulang
2019-02-10 05:32:18

Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemi Francis (tengah) mendapat penjelasan dari GM Bandara Pattimura Ambon Amirudin Florensius.(Foto: Sofyan/sf)
AMBON, Berita HUKUM - Rapat Dengar Pendapat Komisi V DPR RI dengan Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan beberapa waktu lalu, meminta agar pemerintah menunda kebijakan bagasi berbayar pada sejumlah maskapai penerbangan komersial, hingga selesainya kajian ulang terhadap kebijakan tersebut dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan kelangsungan industri penerbangan nasional. Pasalnya, kebijakan bagasi berbayar itu dikeluhkan masyarakat.

"Menyangkut maskapai penerbangan yang menerapkan bagasi berbayar, kita sudah rapat dengan Ditjen Perhubungan Udara untuk melakukan kajian berkaitan dengan peraturan menteri yang menyangkut aturan penerapan bagasi berbayar oleh maskapai penerbangan," kata Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemi Francis usai memimpin Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI ke Kota Ambon, Provinsi Maluku, Rabu (6/2).

Kunspek dalam rangka memantau penanganan banjir di Kota Ambon ini turut memantau dampak kebijakan bagasi berbayar di Bandara Pattimura Ambon. General Manager Bandara Pattimura, perwakilan Ditjen Hubud, dan perwakilan maskapai Lion Air Group pun menjelaskan bagaimana kebijakan bagasi berbayar diterapkan. Lion Air menerapkan kebijakan ini sejak 22 Januari 2019 lalu. Sementara Citilink Indonesia yang semula akan menerapkan mulai 8 Februari 2019 ini, dikabarkan menunda kebijakan bagasi berbayar ini.

"Kita pastikan Lion Air yang sudah menerapkan bagasi berbayar itu melakukan penundaan, sampai masyarakat paham betul berkaitan dengan peraturan baru ini. Bisa saja nanti penerapan bagasi berbayar itu ditinjau kembali kalau memang dalam pelaksanannya ada permasalahan-permasalahan dalam hal keselamatan dan keamanan daripada penerbangan. Sehingga jangan sampai masyarakat dirugikan," tandas Fary.

Sementara itu, Anggota Komisi V DPR RI Sungkono mengatakan, berdasar pengalamannya terbang menggunakan berbagai maskapai internasional dan nasional, ia mengaku barang-barang yang dibawa penumpang, biasanya akan dikenakan tambahan biaya jika kelebihan berat atau overweight. Sehingga menurutnya kurang lazim jika maskapai penerbangan yang beroperasi di wilayah Indonesia menerapkan kebijakan bagasi berbayar, berapapun berat barang bawaan penumpangnya.

"Saya khawatir kalau nanti tidak dievaluasi sungguh-sungguh, tidak bisa melindungi kepentingan rakyat. Saya pikir pemerintah harus lebih selektif dan lebih hati-hati, jangan sampai kebijakan ini terkesan berpihak (ke salah satu maskapai penerbangan). Saya melihat masyarakat mengenai bagasi berbayar ini sepertinya merasa kecewa. Jadi saya mohon ini dievaluasi kembali di Kementerian Perhubungan. Jangan sampai ada hidden di kebijakan itu," tandas Sungkono.

Sebelumnya, General Manager Bandara Pattimura Amirudin Florensius mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi mengenai kebijakan bagasi berbayar ini kepada calon penumpang. Selama berlakunya kebijakan ini yang mulai dilakukan Lion Air pada 22 Januari lalu, diakuinya ada beberapa kendala, namun dapat diselesaikan. Salah satunya dengan memberi pilihan, jika ada penumpang yang kelebihan kapasitas barang bawaannya, maka dapat disimpan.

Sementara itu, Kasie Sistem Informasi Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Meliana yang turut hadir dalam Kunspek ini menjelaskan, seharusnya maskapai penerbangan yang melaksanakan kebijakan ini untuk dapat melakukan sosialisasi lebih masif kepada penumpang. Ia pun mengaku kaget dengan langkah Lion Air ini. Seharusnya Lion Air terlebih dahulu mengajukan perubahan Standard Operating Procedure(SOP) kepada Ditjen Hubud, tidak tiba-tiba melaksanakan kebijakan ini.(sf/DPR/bh/sya)

Share : |

 
Berita Terkait Transportasi
Kebijakan Bagasi Pesawat Berbayar Perlu Dikaji Ulang
Citilink Indonesia Berlakukan Tarif Bagasi Mulai 8 Februari 2019
LRT Palembang Tak Terkoneksi Angkutan Massal
Ahli: Aturan Pelarangan Penggunaan GPS Melindungi Masyarakat
Menhub Pastikan Ganjil-Genap di Pintu Tol Bekasi Barat dan Bekasi Timur Berlaku 12 Maret
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Amien Rais Diperiksa sebagai Saksi terkait Kasus Dugaan Makar Eggi Sudjana
Komisi V Tinjau Kesiapan Pemerintah Antisipasi Mudik Lebaran
Muhammadiyah Kecam Aksi Unjuk Rasa 21-22 Mei yang Berujung Rusuh
Ciptakan Generasi Berkarakter Islam MIN 1 Gelar Pesantren Kilat
Dana BOS Triwulan ke II 2019 Sudah Cair untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan
AJI: Ada 7 Jurnalis Menjadi Korban Saat Meliput Aksi Demo 22 Mei
Untitled Document

  Berita Utama >
   
AJI: Ada 7 Jurnalis Menjadi Korban Saat Meliput Aksi Demo 22 Mei
Pemerhati Hukum Siber: Pembatasan Akses Media Sosial Adalah Kebijakan Yang Aneh
Mengapa Situng Baru 92 %, KPU Tiba-Tiba Menyahkan Rekapitulasi Pilpres?
Pesan Aksi Damai, Prabowo: Kami Ingin Menegakkan Kebenaran dan Keadilan
Potret Pemilu 2019, LKPI: Ada 72,8 Persen Mengatakan Ada Banyak Kecurangan
Bawaslu Sebut 6,7 Juta Pemilih Tak Dapat C6 dan 17 Ribu TPS Telat Dibuka
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]