Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Freeport
Kapolri Harus Jelaskan Soal Dana Bantuan Freeport
Sunday 30 Oct 2011 23:31:33

Sejumlah anggota Polri tampak melakukan patroli di sekitar kawasan pertambangan PT Freeport Indonesia (Foto: Ist)
KPK harus menyelidiki kategori dari pemberian dana tersebut

JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Pernyataan Kapolri Jenderal Pol. Timur Pradopo yang menganggap wajar bagi anggota kepolisian menerima uang makan dari PT Freeport Indonesia, sangat disesalkan. Namun, yang lebih penting adalah Kapolri harus menjelaskan penggunaan uang itu dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) perlu menyelidiki kategori dana itu sebagai bentuk suap, gratifikasi atau lainnya.

Demikian yang diungkap anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Novel Ali dan Ketua Presidum Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane di Jakarta, Minggu (30/10). Desakan mereka ini menyusul kontroversi di masyakarat mengenai bantuan dana Freeport itu serta situasi keamanan Papua yang hingga kini tak juga kunjung kondusif.

Menurut dia, penerimaan dana bantuan dari perusahaan asing tersebut menjadi pertanyaan besar dari masyarakat. Padahal, Polri sudah punya anggaran sendiri yang berasal dari APBN untuk membiayai operasinal personelnya di Papua.

Namun, kata dia, mengapa Polri masih mau menerima dana perusahaan asing itu. Untuk itu, Kapolri harus jujur menjelaskannya kepada publik dan transparan membeberkan penggunaan dana itu. “Kapolri harus jujur dan harus memberi penjelasan mengapa sampai seperti ini. Apakah ini yang menyebabkan polisi lebih memilih membela Freeport ketimbang warga Papua,” ujar Novel.

Menurut dia, terbongkarnya soal aliran dana 14 juta dolar AS dari Freeport kepada Polri, sudah pasti menimbulkan kecurigaan publik terhadap independensi Polri. Tapi tetap saja soal dana ini harus dipaprkan kepada publik. “Pokoknya Kapolri harus menjelaskan soal dana itu. Tapi dengan menerima dana itu, bukan berarti polisi harus menjadi centeng Freeport,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Presidum Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera mengusut bantuan dana PT Freeport itu. Lembaga ini perlu menyelidiki soal dana PT Freeport tergolong suap, gratifikasi atau lainnya. “Dana 14 juta dolar AS itu tidaklah kecil, makanya harus diselidiki masuk kategori suap atau apa,” kata dia dalam rilisnya.

Jika bantuan dana itu masuk kategori suap dan gratifikasi, lanjut dia, oknum pejabat Polri yang menerimanya bisa diproses secara hukum. Jika melakukan pelanggaran hukum, harus diseret ke Pengadilan tipikor. Tapi yang paling disesalkan bahwa bantuan dana Freeport itu telah mengarah kepada politik adu domba antara aparat keamanan dengan rakyat Papua. “Untuk polisi bisa, mengapa untuk buruh Freeport tak mau memberikannya,” selorohnya.

Seperti yang telah diberitakan, Kontras mengungkapkan soal adanya pemberian imbalan kepada anggota TNI dan Polri dari PTFI sebesar Rp 1,25 juta per orang. Anggota DPR Lily Wahid pun menyampaikan hal serupa. Lalu, perushaaan itu mengakui telah mengelontorkan dana hingga 14 juta dollar AS. Dana ini untuk menjaga daerah pertambangan mereka di Papua.

Berdasarkan data Kontras, sebanyak 635 personel TNI dan Polri ditugaskan untuk melakukan pengamanan PTFI itu. Hal ini tertuang dalam SK Polda Papua Nomor B/918/IV/2011 tertanggal 19 April 2011. Pasukan gabungan ini terdiri atas 50 anggota Polda Papua, 69 Polres Mimika, 35 Brimob Den A Jayapura, 141 Brimob Den B Timika, 180 Brimob Mabes Polri dan 160 TNI. Personel ini diganti setiap empat bulan sekali. Satgas pengamanan ini diberi imbalan Rp. 1.250.000 per orang yang langsung diberikan manajemen PT Freeport Indonesia kepada aparat.(ppc/bie/rob)


 
Berita Terkait Freeport
 
Mulyanto: Isu Perpanjangan Izin PTFI Perlu Dibahas oleh Capres-Cawapres di Masa Kampanye
 
Legislator Nilai Perpanjangan Ijin Ekspor Konsentrat Tembaga Freeport Indonesia Akan Jadi Preseden Buruk
 
Ridwan Hisyam Nilai Pembangunan Smelter Freeport Hanya Akal-Akalan Semata
 
Wacana Pembentukan Pansus Freeport Mulai Mengemuka
 
Wahh, Sudirman Said Ungkap Pertemuan Rahasia Jokowi dan Bos Freeport terkait Perpanjangan Izin
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
KAI Luncurkan Nusantara Explorer, Kereta Mewah yang Siap Ubah Wajah Pariwisata Indonesia
Purbaya curhat: Saya menteri paling tidak beruntung di dunia
KPK Petakan 3 Titik Rawan Korupsi APBD, Mitigasi Potensi Kebocoran Daerah Capai Rp2,37 Triliun
RUU Perampasan Aset Masih Ada di Prolegnas Prioritas 2026, DPR-Pemerintah Concern Membahas
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]