Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Pilpres
Jokowi Dilaporkan Ke Bawaslu, Dituding Melakukan Pembohongan Publik
2019-02-27 17:48:31

Koordinator Koalisi Masyarakat Antihoaks, Dolly Yatim.(Foto: BH /mnd)
JAKARTA, Berita HUKUM - Koalisi masyarakat antihoaks melaporkan calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) ke Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia Bawaslu RI) atas dugaan kebohongan publik yang dilakukan terkait beberapa data yang disampaikan saat acara Debat kedua Pilpres 2019 yang diselenggarakan secara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI dan disiarkan LIVE di beberapa Media TV pada Minggu 17 Februari 2019 lalu. Laporan ke Bawaslu telah dilakukan koalisi tersebut pada satu pekan kemarin.

"Saat ini para pelapor juga telah di periksa oleh Bawaslu. Ruang lingkup laporan kita ke Bawaslu adalah hasil dari debat kedua capres kemarin," kata Koordinator Koalisi Masyarakat Atihoaks, Dolly Yatim di Jakarta, Selasa (26/2).

Dolly memaparkan terkait laporannya ke Bawaslu, karena Bawaslu adalah badan resmi yang ditunjuk oleh negara dengan UU untuk mengawasi pelanggaran - pelanggaran yang terjadi dalam proses Pemilu yang dilakukan peserta, penyelenggara kampanye, dan aktivitas yang dilakukan para peserta. Diduga dalam debat kedua kemarin, Jokowi menyerang dan menyinggung lawan debatnya. Padahal dalam tata tertib debat jelas disebutkan aturannya tidak boleh menyinggung, menyerang pribadi atau personal lawan.

"Saat terjadi serangan atau menyinggung personal maka otomatis akan membuat kekisruhan. Sehingga terjadi pelaporan ke Bawaslu. Jokowi melakukan pelanggaran pasal 280 ayat 1b UU Nomor 7 tahun 2017 tentang KPU, yang membahayakan keutuhan Republik Indonesia," tegas Dolly, Selasa (26/2).

Dolly menjelaskann, selain serangan ke personal, Jokowi juga telah melakukan pembohongan publik dalam debat kedua KPU kemarin yang langsung dilihat dan didengar setidaknya oleh puluhan juta masyarakat Indonesia melalui televisi. Di antara kebohongan-kebohongan yang diduga guat dilakukan dengan sengaja adalah terkait data impor jagung dan beras.

"Dalam debat Jokowi menyebut hanya 180 juta ton. Padahal impor jagung berjumlah 737 juta ton," tegas Dolly.

Kecurangan Jokowi saat debat mengatakan, "Dalam lingkungan hidup, kebakaran lahan gambut tidak terjadi lagi dan ini sudah bisa kita atasi. Dalam tiga tahun ini tidak terjadi kebakaran, hutan, kebakaran lahan gambut. Itu adalah kerja keras kita semua," ujar Jokowi.

"Faktanya kebakaran hutan terjadi dibeberapa lokasi diantaranya di Riau yang hingga kini belum padam ungkap Dolly.

"Dalam debat Jokowi juga menyebut petani memiliki lahan sawit. Padahal petani tersebut adalah buruh yang sudah pasti tidak memiliki lahan. Selain itu Jokowi menyebut jalan tol, infrasruktur yang dibangun 1900 Km lebih. Padahal itu jumlah jalan yang sudah ada di Indonesia. Panjang jalan itu tidak mungkin dibangun dalam waktu empat tahun," cetus Dolly.

Dolly juga memaparkan, pembohongan publik yang dilakukan Jokowi juga adalah ketika penyampaian visi misi yang tidak rasional. Apalagi pernyataan Jokowi juga dicounter oleh badan atau pemerintah lainnya seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Bahkan lembaga lingkungan asing seperti Greenpeace juga langsung protes dengan mengcounter pernyataan Jokowi terkait kebakaran hutan. Oleh karena itu Jokowi jelas telah melakukan pembohongan publik.

"Tindakan Jokowi membahayakan keutuhan NKRI karena sebagai presiden atau capres membuat pembohongan publik. Karena akibat pernyataan itu di masyarakat muncul adu domba atau class karena ada yang mengkalim itu salah dan ada yang mengklaim itu benar," jelasnya.

Sementara, dikonfirmasi Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo atau Jokowi - Ma'ruf Amin, Arif Budimanta mengatakan bahwa, tidak masalah ada pihak yang melaporkan data-data yang disampaikan Jokowi dalam debat kedua capres kemarin ke Bawaslu. "Semua ada mekanismenya kita serahkan saja pada proses hukum dan kita percaya," ujarnya usai menjadi pembicara dalam diskusi di Jakarta, Selasa (26/2).

Saat dicecar akan melakukan upaya apa terhadap laporan tersebut, sambil tertawa Arif menyatakan, "nanti ada upaya hukum yang dilakukan TKN. Ada bagian hukum diTKN. Coba tanya bagian hukum di TKN. Karena di TKN ada bagian - bagiannya," ujar Arif.(bh/mnd)


 
Berita Terkait Pilpres
 
Beredar 'Bocoran' Putusan Pilpres di Medsos, MK: Bukan dari Kami
 
Selain Megawati, Habib Rizieq dan Din Syamsuddin Juga Ajukan Amicus Curiae
 
Ahli dari Kubu Prabowo Sebut Pencalonan Gibran Sesuai Putusan 90, Hakim MK Bilang Begini
 
Bertemu Ketua MA, Mahfud MD Minta Pasangan Prabowo-Gibran Didiskualifikasi di MK
 
Tak Mau Buru-buru Soal Hasil Pemilu, Koalisi Amin Kompak Tunggu Pengumuman KPU
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]