Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Cyber Crime    
 
Revolusi Industri 4.0
Indonesia Harus Jadi Pemenang dalam Revolusi Industri 4.0
2019-08-09 13:29:39

Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Politik Hukum dan HAM, Fadli Zon usai menjadi keynote speaker pada acara Seminar Nasional dengan Tema 'Revolusi Industri 4.0 dan Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan' yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Setjen dan BK DPR RI di Gedung Nusantara, Senayan (Foto
JAKARTA, Berita HUKUM - Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Politik Hukum dan HAM, Fadli Zon berharap Indonesia bisa menjadi winner atau pemenang dalam revolusi Industri 4.0 dengan tidak hanya sekedar menjadi market atau pasar, melainkan juga menjadi penarik manfaat yang bisa meningkatkan kesehahteraan masyarakat.

Demikian diungkapkan Fadli usai menjadi keynote speaker pada acara Seminar Nasional dengan Tema 'Revolusi Industri 4.0 dan Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan' yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Setjen dan BK DPR RI di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Kamis (8/8).

"Seminar yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Setjen dan BK DPR RI tentang revolusi Industri 4.0 dan pembangunan ekonomi berkelanjutan menjadi sesuatu yang penting. Namun saya berharap agar seminar ini tidak terjebak dalam jargon-jargon revolusi 4.0 saja, tetapi kita tidak mampu mengatasi persoalan-persoalan yang masih tradisional," kata Fadli

Ia menambahkan, kejadian black out atau padamnya listrik secara massal yang melanda Jabodetabek, Jawa Barat dan Banten beberapa waktu lalu, sempat disebut sebagai black out 4.0. Ini menunjukan infrastruktrur digital dan infrastruktur lain yang sangat rapuh, sewaktu-waktu bisa lumpuh dengan mudah.

Politisi dari Fraksi Partai Gerindra ini kembali mencontohkan peristiwa padamnya listrik beberapa hari lalu, dimana masyarakat banyak yang kembali menyalakan lilin. Ini harus dilihat sebagai sebuah perspektif yang besar. Pihaknya berharap Indonesia harus menjadi winner atau pemenang dalam revolusi Industri 4.0 ini, dan tidak sekedar menjadi pasar atau market saja. Hal ini yang menurutnya harus digaris bawahi.

"Revolusi Industri 4.0 ini akan menjadi omong kosong tanpa adanya electricity, infrastruktur tradisional yang merupakan basic services seperti listrik dan BBM. Infrastruktur ini harus sustainable, karena jika infrastruktur tradisional ini tidak ada sustainability atau keberlanjutan, revolusi 4.0 ini akan omong kosong," ucapnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, Revolusi Industri 4.0 harus ditopang oleh infrastruktur tradisional yang kokoh. "Disinilah, kita harus bisa pastikan akan menjadi pemenang. Revolusi industri 4.0 harus diarahkan untuk bisa meningkatkan suatu kesejahteraan, keadilan yang inklusif, terutama masyarakat yang mendapatkan benefit, bukan orang asing," tegasnya.

Fadli mencontohkan dunia digital, dimana saat ini memiliki kekuatan inovasi yang sangat tinggi. "Disini kita melihat kekuatan digital saat ini yang diuntungkan asing, sementara kita hanya menjadi pasar atau market mereka saja. Dengan kata lain, saat ini kita baru sekedar menjadi penikmat, bukan penarik manfaat," papar Fadli.

Seminar tersebut juga dihadiri oleh Pejabat Sekretariat Jenderal (Setjen) dan Badan Keahlian (BK) DPR RI diantaranya, Deputi Persidangan Damayanti, Kepala Pusat Penelitian Setjen dan BK DPR RI Indra Pahlevi, beberapa pejabat eselon I dan II di lingkup Setjen dan BK DPR RI.

Beberapa keynote speaker seperti pelaku entrepreneur Sandiaga Uno, Dekan FEB UI Ari Kuncoro, Kepala BI Institue Solikin M Juhro, Staff Ahli Bidang Organisasi, Birokrasi dan Teknologi Informasi Kementerian Keuangan Sudarto, Asisten deputi Fiskal Kemenko Perekonomian Gunawan Pribadi.

Turut hadir juga Prof. Riset Bidang Pembangunan Daerah LIPI Carunia, Prof. Riset Bidang Sosial Ekonomi Pertanian Kementan Achmad Suryana, Pakar Kebijakan Publik Riant Nugroho, serta Dosen FEB Unika Atma Jaya Dadan YB Suhartoko.(ayu/es/DPR/bh/sya)


Share : |

 
Berita Terkait Revolusi Industri 4.0
RUU Keamanan dan Ketahanan Siber Jadi Pondasi Baru Pertahanan Indonesia
Indonesia Harus Jadi Pemenang dalam Revolusi Industri 4.0
Kemnaker: Pentingnya Memaknai Perkembangan Revolusi Industri 4.0
Menaker Hanif Dhakiri Membuka Seminar Kompetensi Lulusan Politeknik di Era Revolusi Industri 4.0
Kekuatan Militer Salah Satu Unsur Penting di Era Revolusi Industri 4.0
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Label Halal Dilidungi UU, MUI: Kebijakan Menteri Enggar Adalah Kemunduran Peradaban
KPK Salah Jalan
DPR dan Pemerintah Sepakat Revisi UU MD3
RUU Perkoperasian Sepakat Dibahas di Paripurna DPR
Festival Budaya Bahari Internasional Bakal Digelar di Pulau Tidung
Gubernur Anies Gowes Sepeda Temui Anak Yatim di Ancol
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Label Halal Dilidungi UU, MUI: Kebijakan Menteri Enggar Adalah Kemunduran Peradaban
RUU Perkoperasian Sepakat Dibahas di Paripurna DPR
Wakil Ketua DPR: UU Otsus Papua Perlu Direvisi
DPR RI Pilih Firli Bahuri sebagai Ketua KPK Baru Periode 2019-2023
BJ Habibie Wafat, Pemerintah Ajak Kibarkan Bendera Merah Putih Setengah Tiang
Tenaga Kerja Asing (TKA) Semakin Dipermudah, Masa Depan Rakyat Indonesia Semakin Suram
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]