Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Kanada
Hawa Panas Ekstrim di Kanada Sebabkan Puluhan Orang Meninggal Dunia
2018-07-07 19:13:25

Anak-anak mencelupkan kepala mereka di air mancur selama gelombang panas Montreal pada Senin (2/7).(Foto: Istimewa)
KANADA, Berita HUKUM - Tiga puluh tiga orang tewas akibat hawa panas ekstrim di Provinsi Quebec, Kanada, yang melanda sejak Jumat (29/6) selama seminggu pekan lalu dengan suhu mencapai 35'C dan tingkat kelembapan yang tinggi pula.

Jumlah korban jiwa terus meningkat sepanjang sepekan belakangan dan sebagian besar korban berusia antara 50 hingga 80 tahun.

Hawa panas ini, menurut pihak berwenang, merupakan yang terburuk dalam waktu beberapa dekade belakangan.

Sejauh ini 18 dari 33 korban jiwa jatuh di Montreal -kota yang paling padat di provinsi tersebut- dan yang lainnya di kawasan lainnya.

Warga didesak untuk meminum banyak air dan mencari tempat berteduh dari sinar matahari.

Dewan kota sudah membuka kolam renang dan ruangan-ruangan dengan mesin penyejuk AC untuk warganya. "Kami melakukan semua hal yang bisa," tutur wali kita Montreal, Valerie Plante.

Plante menambahkan bahwa petugas juga sudah mendatangani langsung rumah 15.000 warga yang dianggap lemah terserang hawa panas.

"Saya mengandalkan penduduk Montreal mengetuk pintu, mungkin hanya pintu tetangga, untuk mengetahui apakah mereka baik-baik saja. Ini merupakan upaya tim."

Hawa panas khususnya berbahaya bagi bayi, manusia lanjut usia, dan orang-orang yang fisiknya lemah, menurut pejabat kesehatan umum.

Seorang pejabat kesehatan umum Montreal, Mylene Drouin, mengatakan keepada BBC bahwa sebagian besar warga Montreal yang meninggal adalah berusia 65 tahun, tidak memiliki mesin penyejuk, dan sebelumnya pernah menderita masalah kesehatan.

Suhu rata-rata di Montreal berada di atas rata-rata 25'C, yang biasanya terjadi pada musim saat ini.

Namun, Badan Lingkungan Kanada, memperkirakan suhu Jumat (6/7) akan turun ke 24'C.

Sementara, Dr. David Kaiser, seorang spesialis di departemen kesehatan umum, menjelaskan bahwa individu yang telah meninggal karena panas diidentifikasi dalam berbagai cara. Beberapa kematian ditemukan lebih cepat, setelah seorang individu tidak turun dari kamar mereka di tempat tinggal untuk sarapan, sedangkan yang lain memakan waktu lebih lama, seperti kasus di mana seseorang secara sosial terisolasi, katanya.

Lingkungan Kanada mengangkat peringatan panas minggu lalu dan menyaksikan badai siang hari untuk daerah Montreal Jumat pagi.

Terakhir kali Montreal melihat gelombang panas tujuh hari dengan suhu di atas 30 C pada tahun 1973, menurut ahli meteorologi Alexandre Parent. Dia mengatakan cuaca ekstrim seperti ini memiliki kecenderungan terjadi setiap 20 tahun.

Namun, stasiun cuaca di kampus pusat Universitas McGill tidak pernah mengambil lebih dari lima hari berturut-turut selama lebih dari 33 C dalam 147 tahun operasinya, membuat gelombang panas ini menjadi yang pertama.

Efek kumulatif dari panas yang berkepanjangan, di mana tingkat humidex mencapai hingga 40 C, mungkin masih berdampak pada penduduk, jelas Stefan Overhoff, juru bicara Urgences-Sante.

Sepanjang pekan lalu, jumlah panggilan ke layanan darurat melonjak sekitar 30 persen, kata Overhoff, dari 1.000 panggilan per hari ke antara 1.200 hingga 1.350 intervensi.(montrealgazette/BBC/bh/sya)

Share : |

 
Berita Terkait Kanada
Hawa Panas Ekstrim di Kanada Sebabkan Puluhan Orang Meninggal Dunia
Penembak di Parlemen Kanada Pernah Dibui
Lima Orang Tewas dan Puluhan Hilang dalam Kebakaran di Kanada
Puluhan Hilang Pasca Kecelakaan Kereta Api di Kanada
Korban Ledakan Kereta Api di Kanada Bertambah
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Menaker Hanif Dhakiri Membuka Seminar Kompetensi Lulusan Politeknik di Era Revolusi Industri 4.0
Polisi Menggelar 35 Adegan Reka Ulang Kasus Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi
Jenazah Dufi, Korban Dalam Drum Dimakamkan di TPU Semper Cilincing
KPU Optimis, Pemilu Siap Diselenggarakan
Perang di Yaman: 'Bencana Kemanusiaan Terburuk Selama Satu Abad'
Poster Jokowi Raja, Pasang Sendiri, Gaduh Sendiri, Copot Sendiri Lalu Tak Sudi Salahkan Diri
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Jenazah Dufi, Korban Dalam Drum Dimakamkan di TPU Semper Cilincing
Peserta Kirab Pemuda 2018 Diharapkan Mampu Berimajinasi, Jangan Berhenti Menulis dan Membaca tentang Indonesia
Jokowi Izinkan Asing Kuasai 100 Persen Saham di 54 Industri Lagi
KSPI Mendesak Semua Provinsi Tetapkan UMK di Atas PP 78/2015
Wakapolda Metro Jaya: Motif Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi karena Sakit Hati
Keabsahan dan Eksistensi Anggota Dewan Pers Dituding Cacat Hukum
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]