Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

White Crime    
 
Kasus PLN
Hakim Vonis Mantan Dirut PLN Lima Tahun Bui
Wednesday 21 Dec 2011 16:41:56

Edie Widiono Suwondo (Foto: Ist)
JAKARTA (Berita HUKUM.com) – Mantan Direktur Utama PLN, Edie Widiono Suwondo dijatuhi hukuman selama lima tahun penjara. Terdakwa Edie dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, karena melakukan tindak pidana korupsi dalam proyek PLN Disjaya dan Tangerang pada 2004-2006.

"Menyatakan terdakwa Eddie Widiono terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan korupsi secara bersama-sama yang menguntungkan orang lain atau koorporasi," kata majelis hakim yang diketuai Tjokorda Rai Suamba mengutip amar putusan perkara tersebut di Pengadilan Tipikor, Jakarta. Rabu (21/12).

Selain pidana badan, majelis hakim juga membebankan denda kepada terdakwa sebesar Rp 500 juta subsider enam bulan kurungan. Hukuman yang dijatuhkan ini, dua tahun lebih ringan dari tuntutan JPU. Sebelumnya, JPU meuntut hukuman selama tujuh tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsider enam bulan kurungan.

Dalam amar putusannya tersebut, majelis hakim menyebutkan bahwa terdakwa Edie Widiono bersalah, baik secara sendiri ataupun bersama-sama dalam kasus korupsi proyek pengadaan Outsourcing Roll Out-Customer Information System-Rencana Induk sistem Informasi (CIS-RISI) PLN pada 2004-2006.

Menurut majelis, terdakwa Edie melakukan tindak pidana korupsi dengan menyalahgunakan kewenangan sehingga menimbulkan kerugian negara. Perbuatannya ini dilakukan terdakwa Edie dengan memerintahkan General Manajer PT PLN Disjaya-Tangerang Fahmi Mochtar untuk menunjuk PT Netway Utama dalam proyek CIS RISI senilai Rp 92,27 mliar.

Dari hitungan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), proyek yang berlangsung 2004-2006 itu semestinya hanya menghabiskan anggaran Rp 46,08 miliar. Sehingga terdapat selisih yang ada telah memperkaya PT Netway Utama sekaligus menimbulkan kerugian negara Rp 46,18 miliar.

Majelis juga menganggap langkah Edie itu tidak mendapat persetujuan dari Dewan Komisaris PLN. Namun oleh Edie, seolah-oleh sudah ada persetujuan dari Menteri BUMN selaku Dewan Komisaris PLN. Tindakan mantan pucuk pimpinan perusahaan setrum negara ini, terbukti melanggar pasal 3 UU Nomor 31/1999 jo UU Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Atas putusan itu, baik terdakwa Edie maupun JPU KPK belum menentukan sikap untuk menerima atau mengajukan banding. Terdakwa Edie dan penasihat hukumnya maupun JPU menyatakan pikir-pikir. Namun, di luar sidang, terdakwa Edie mengaku kecewa atas putusan itu. "Putusan majelis sangat mengecewakan. Nyata sekali banyak hal yang tidak dipertimbangkan," tandasnya.(dbs/spr)


 
Berita Terkait Kasus PLN
 
Hakim Tipikor Vonis Bebas Mantan Bos PLN Sofyan Basir
 
KPK Mulai Intensif Dalami Peran Mantan Dirut PLN dalam Kasus Proyek PLTU Riau-1
 
KPK Jadwalkan Periksa Direktur PLN Regional Sulawesi dan Kalimantan
 
Dugaan Korupsi Tender MVPP PLN, KPK Didesak Periksa Jampidsus Adi Toegarisman
 
KPK Cegah dan Tangkal Dirut PLN Nonaktif Sofyan Basir
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]