Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Pidana    
 
Kasus Pajak
Hakim Tunda Tuntutan Terdakwa Pengemplang Pajak
Thursday 24 Nov 2011 20:56:24

Suwir Laut (Foto: Ist)
*Jaksa belum siap membacakan tuntutan hukuman

JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Sidang tuntutan kasus dugaan pengemplangan pajak Asian Agri dengan terdakwa Suwir Laut, mantan Manajer Pajak PT Asian Agri, ditunda dua minggu ke depan. Alasannya, tim penuntut umum belum siap dengan tuntutannya.

“Kami belum siap, karena perlu waktu untuk matangkan materi tuntutannya. Kami mohon majelis hakim untuk menundanya,” kata JPU I Ketut Winawa dalam sidang tersebut yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (24/11).

Atas permintaan tersebut, majelis hakim yang diketuai Martin Ponto pun mengabulkannya. Bahkan, tim JPU diberikan waktu relatif panjang untuk mempersiapkan tuntutannya tersebut. “Kami kabulkan dan kami minta harus siap untuk disampaikan pada Kamis (8/12) dua pekan mendatang. Setelah itu, tidak ada kesempatan lagi untuk pembacaan tuntutan jaksa," ujarnya mengancam jaksa.

Seperti diketahui, terdakwa Suwir Laut didakwa telah melakukan kejahatan berlanjut. Ia dituding turut menyuruh, menganjurkan dan membantu melakukan melakukan penggelapan pajak beberapa perusahaan yang bernaung di bawah Asian Agri Group. Perusahaan tersebut, yakni PT Dasa Anugerah Sejati, Raja Garuda Mas Sejati, PT Saudara Sejati Luhur, PT Indo Sepadan Jaya, PT Nusa Pusaka Kencana, PT Andalas Inti Agro Lestari dan lainnya. Akibat perbuatannya ini, negara dirugikan hingga mencapai Rp 1,259 triliun.

Menurut dakwaan jaksa, penggelapkan pajak dilakukan terdakwa Suwir dengan cara mengecilkan nilai pajak semua perusahaan yang bernaung di bawah kelompok perusahaan Sukanto Tanoto tersebut. Caranya, dengan merekayasa harga jual yang mengakibatkan keuntungan perusahaan menjaid lebih kecil dari yang sebenarnya.

Adanya rekayasa ini diperkuat dari pertemuan pada 4 dan 5 Agustus, 2 September, 18 dan 19 September 2002, antara Suwir Laut, Vincentius Joko Sutanto dan teman- temannya. Di mana dalam pertemuan itu dibahas tax planning meeting untuk membahas pengecilan jumlah pajak perusahaan tersebut. Rekayasa penjualan dengan mengubah harga jual, sehingga keuntugan menjadi lebih rendah. Pembuatan invoice tersebut dilakukan di Medan oleh karyawan AAG.

Cara lain yang dilakukan adalah dengan biaya fiktif dan menciptakan kerugian. Cara ini dilakukan dengan cara perusahaan yang bernaung di bawah AAG, seolah membuat kontrak ekspor penjualan minyak kelapa sawit mentah ke perusahan di Hongkong yang penyerahan barangnya dilakukan beberapa waktu kemudian. Namun, sebelum jatuh tempo penyerahan barang dilakukan pembelian kembali oleh perusahaan yang tergabung dalam AAG dengan harga yang lebih tinggi.

Atas perbuatannya ini, terdakwa Suwir Laut disangkakan melanggar Pasal 39 ayat (1) huruf C jo Pasal 43 ayat (1) UU Nomor 6 Tahun1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dan Pasal 38 huruf b jo Pasal 43 ayat (1) UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.(dbs/wmr)



 
Berita Terkait Kasus Pajak
 
KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Ditjen Pajak
 
Suap Pajak Saat Pandemi, Anis: Rapor Merah dan Kerja Berat Pemerintah
 
Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Limpahkan Berkas Perkara Faktur Pajak Ke PN Jaksel
 
Jampidsus Godok Standarnisasi Penanganan Perkara Pidana Pajak
 
2 Penyidik Pajak Divonis Sembilan Tahun Penjara
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah
Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit
Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional
Sinyal keterlibatan Menhut Raja Juli dalam kasus korupsi Bupati Kuansing Suhardiman Amby
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]