Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Perdata    
 
Advokat
Hakim Tolak Gugatan PMH 10 Pejabat RI, Penggugat Banding
2019-10-02 05:09:42

Alexius Tantrajaya bersama stafnya di depan Ruang Sidang, PN Jakpus (Foto: BH/ ams)
JAKARTA, Berita HUKUM - Apes benar nasib yang dialami oleh Maria Magdalena Andriani Hartono. Pasalnya, Laporan Polisi (LP) diduga telah dihentikan alias SP3. Sedangkan gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) telah di tolak oleh Majelis Hakim yang diketuai Muhammad Djoenaidie, di PN Jakarta Pusat pada, Selasa (1/10).

Dalam putusannya majelis hakim memutuskan bahwa gugatan yang diajukan penasehat hukum Maria Magdalena, advokat Alexius Tantrajaya sebagai Penggugat bukan domain perdata melainkan ranah pidana.

Dalam pertimbangnnya majelis berkesimpulan bahwa gugatan yang diajukan penggugat bukan kewenangan perdata melainkan ranah pidana. Menurut Hakim agar penggugat sebaiknya melakukan gugatan praperadilan

"Setelah kami pertimbangkan dan cermati gugatan dari penggugat itu. Justru yang dipermasalahkan itu adalah laporan pidana yang tidak ditindaklanjuti hingga sepuluh tahun lebih delapan bulan. Majelis "seakan-akan" dalam gugatannya diminta pengugat untuk para tergugat melakukan penyelidikan dan penyidikan. Padahal itu bukan kewenangan perdata, itu ranah pidana. Artinya gugatan itu bisa dilakukan dengan gugatan praperadilan," ucap Majelis Hakim di PN Jakpus, Selasa (1/10).

Usai pembacaan putusan, Alexius Tantrajaya menyatakan akan banding, karena ia merasa beda pendapat dengan majelis hakim.

"Saya akan banding karena beda pendapat," ujarnya kepada wartawan di depan ruang sidang PN Jakpus.

Menurut Alexius perkara pidana itulah yang menyebabkan dirinya menggugat selaku advokat. Karena ia merasa dirugikan, ucapnya.

Alexius berkisah, dulu saat disumpah, menurutnya harus memperjuangkan hak klien. "Apabila ada hak-hak hukumnya dilanggar, sebagai advokat kita harus memperjuangkannya dan itulah sumpah kita sebagai advokat," ungkapnya.

Duduk Perkara

Perkara ini bermula ketika Maria melaporkan kasus yang dialaminya ke Mabes Polri pada 8 Agustus 2008 lalu, sesuai LP No. Pol: LP/449/VIII/2008/Siaga-III, tanggal 8 Agustus 2018, di Bareskrim Mabes Polri. Perihal dugaan keterangan palsu dan terlapornya Lim Kwang Yauw, Kustiadi Wirawardhana, Sutjiadi Wirawardhana, Martini Suwandinata dan Ferdhy Suryadi Suwandinata.

Nah, hingga Juli 2019, LP kasusnya belum ada kejelasan, dan konon kabarnya kasus tersebut telah dihentikan alias SP3 oleh Mabes Polri secara diam-diam. Oleh sebab itu Maria pun melalui kuasa hukumnya, Alexius Tantrajaya menggugat ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Dalam hal ini, Alexius sebagai advokat disebut sebagai penggugat. Sedangkan dasar gugatannya karena dirinya hingga saat ini belum mendapatkan kepastian hukum, dan profesinya sebagai advokat merasa dilecehkan para tergugat.

Tergugat yang dimaksud Alexius adalah: Pemerintah Indonesia (Presiden RI), Ketua DPR, Ketua KPK, Ketua Kompolnas, Ketua Komnas HAM, Jaksa Agung, Kapolri, Kepala Inspektur Pengawasan Umum Kepolisian RI, Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI, Kepala Devisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian RI, masing masing disebut sebagai tergugat I sampai dengan X. Sedangkan Ketua Ombudsman diposisikan sebagai turut tergugat.

Dalam berkas gugatannya, tergugat I sampai X menurutnya telah melakukan perbuatan melawan hukum (PMH) terhadap penggugat. Terkait PMH tersebut, Alexius Tantrajaya mengajukan ganti rugi sebesar Rp 1,1 miliar secara tanggung renteng terhadap tergugat I sampai X.

Menurut Alexius para tergugat telah mengingkari sumpah dan janji sebagai penegak hukum. Sebagai penegak hukum tidak dapat melaksanakan secara maksimal Pasal 1 ayat (3) jo Pasal 27 ayat (1) UUD 1945, yang berbunyi, "Negara Indonesia adalah negara hukum dan menjamin semua warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan wajib menjunjung hukum dengan tidak ada kecualinya,” ujarnya.

Sedangkan surat permohonan perlindungan hukum yang diajukannya diabaikan selama rentan waktu 10 tahun lebih.

“Kepada presiden, kami juga sudah berkirim surat seperti ke lembaga-lembaga pemerintah lainnya. Hasilnya, jangankan perlindungan hukum, merespon surat kami pun tak pernah. Akibatnya, pengaduan klien kami menggantung terus padahal batas kadaluarsanya tinggal setahun, lagi” pungkasnya.(bh/ams)


 
Berita Terkait Advokat
 
KIN-RI Melaporkan ke Polisi Oknum Mengaku Advokat yang Diduga Tidak Memiliki Legalitas
 
Memakai Toga dan Duduk di Kantin PN Samarinda, Kamto Mengaku sebagai Pengacara
 
Aturan Syarat Kewajiban Magang Bagi Calon Advokat Konstitusional
 
Advokat Sujiono & Associates Resmikan Kantor Baru di Komplek Ruko Citra Town Samarinda
 
VP KAI Henry Indraguna 'Tuding' Pasal 282 RUU KUHP, Melecehkan Advokat
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Kerusuhan pengibaran bendera bulan bintang di Hari Damai Aceh - "Masalah bendera seperti api dalam sekam"
Begini Sibuknya Polri Distribusikan Bantuan Logistik Kapolri untuk Korban Gempa di Flores
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]