Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Pilpres
Hadana: Masyarakat Indonesia Mengerti akan Capaian yang Sudah Dilakukan Jokowi
2019-03-05 02:59:32

Dewan Pembina Hadana Ayub Basalamah (tengah) bersama Ketua Hadana Habib Syahdu (kiri) dan Sekjen Hadana Helmi saat menghadiri silaturahmi Akhawat Hadana di Jakarta.(Foto: BH /amp)
JAKARTA, Berita HUKUM - Dewan Pembina Hadana Ayub Basalamah mengatakan, hampir seluruh masyarakat Indonesia mengerti akan capaian yang sudah dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama memimpin bangsa Indonesia. Ia pun menyakini bahwa masyarakat Indonesia masih mengharapkan kepemimpinan Jokowi kembali menjadi presiden untuk periode 2019-2024.

Hal itu disampaikan Ayub menanggapi soal do'a dan puisi yang diucapkan Neno Warisman (artis kondang/ustazah) saat acara malam munajad 212 yang digelar di Monas, Jakarta (21/2) lalu.

"Tentunya kita bukan masyarakat yang tidak mengerti, masyarakat kita sudah cerdas sehingga tau apa isi makna toleransi. Jadi apa hasil tanggapan dari rakyat ya kita buktikan saja nanti di 17 April," ujar Ayub, di restoran Raden Bahari, Jalan Warung Jati Barat, Buncit, Jakarta Selatan, Minggu (3/3).

Menurut Ayub, hasil dan kinerja kepemimpinan Jokowi sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan Jokowi masih dibutuhkan untuk memimpin Indonesia lebih maju.

"Bahwa sebenarnya masyarakat Indonesia atau rakyat Indonesia masih mencintai pak Jokowi," tukasnya.

Ditempat sama, Ketua Hadana Habib Syahrir atau akrab sapaan Habib Syahdu mengatakan, do'a yang diucapkan Neno Warisman tidak merepresentasikan situasi dan keadaan di Indonesia. Bahwa, lanjut Habib Syahdu, kondisi Indonesia saat ini (Pilpres 2019) baik-baik saja dan bukan situasi yang mengkhawatirkan atau situasi perang yang sesungguhnya.

"Apakah Indonesia dalam keadaan 'perang'?, Tidak!!. Siapapun yang menang (pilpres), baik dari 01 atau 02, Indonesia tetap bersatu dengan mayoritas umat yang beragama dan masyarakat yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai Pancasila yang diawali dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa," lugasnya.

Untuk itu, Habib Syahdu mengajak masyarakat dan seluruh umat berdo'a demi persatuan dan kesatuan bangsa, serta ikut mewujudkan Indonesia damai dan bermartabat.

"Ya Allah, tolong jadikanlah negara ini yang aman dan karuniakan negeri ini dengan rizkiMu. Dan inilah Indonesia. Kita akan selalu tetap bersatu dan tetap Jaya," do'a Habib Syahdu.

Sebagai informasi, do'a dan puisi yang diucapkan Neno Warisman dan viral di pemberitaan itu menjadi kontroversi karena dianggap berisi ancaman. Neno mengatakan dalam puisi yang dibaca di Munajat 212 adalah do'a yang sering dibacanya. Dan dia hanya membawakan diri berdo'a sebagaimana biasanya.

Puisi Neno awalnya ramai di media sosial karena dianggap 'mengancam Tuhan'. Puisi tersebut juga dikritik langsung oleh Cawapres 01 Ma'ruf Amin karena mengandaikan pilpres seperti 'Perang Badar'.

"Pilpres kok jadi kayak perang badar. Perang badar itu kan perang habis-habisan, hidup mati. Kita kan hanya memilih pemimpin," kata Ma'ruf di Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (23/2) lalu.

Berikut isi potongan puisi Neno Warisman yang beredar tersebut:

Namun kami mohon jangan serahkan kami pada mereka
Yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak cucu kami
Dan jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami
Karena jika Engkau tidak menangkan
Kami khawatir ya Allah
Kami khawatir ya Allah
Tak ada lagi yang menyembah-Mu.(bh/amp)



 
Berita Terkait Pilpres
 
Beredar 'Bocoran' Putusan Pilpres di Medsos, MK: Bukan dari Kami
 
Selain Megawati, Habib Rizieq dan Din Syamsuddin Juga Ajukan Amicus Curiae
 
Ahli dari Kubu Prabowo Sebut Pencalonan Gibran Sesuai Putusan 90, Hakim MK Bilang Begini
 
Bertemu Ketua MA, Mahfud MD Minta Pasangan Prabowo-Gibran Didiskualifikasi di MK
 
Tak Mau Buru-buru Soal Hasil Pemilu, Koalisi Amin Kompak Tunggu Pengumuman KPU
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]