Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Nusantara    
 
Kenaikan Harga BBM
FITRA: Peneriman Negara Bukan Pajak, Dapat di Gunakan Cegah Kenaikan BBM
Sunday 23 Jun 2013 14:49:34

Koordinator Divisi Investigasi dan Advokasi FITRA, Uchok Sky Khadafi.(Foto: BeritaHUKUM.com/put)
JAKARTA, Berita HUKUM - Koordinator SEKNAS FITRA Ucok Sky Khadafi dalam Konferensi Pers di Cava Lounge and Bistro Jl. Cikini Raya No. 38, Menteng Jakarta Pusat, Minggu mengungkapkan piutang Pajak yang berasal dari piutang Peneriman Negara Bukan Pajak, (PNBP) dapat digunakan sebagai anggaran belanja dan modal fasilitas umum.

Ucok mengungkapkan seharusnya pemerintah SBY tidak perlu menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan alasan untuk menyelamatkan anggaran yang hampir jebol.

FITRA menilai kebijakan SBY keliru, dan sebenarnya ada banyak alternatif lain yang bisa dilakukan pemerintah selain menaikan harga BBM. Pemerintah dapat memanfaatkan piutang negara yang jumlahnya begitu besar.

Menurut Ucok, piutang negara adalah hak pemerintah pusat yang dapat dinilai dengan perjanjian berdasarkan perundang-undangan berlaku UU nomer 1 tahun 2004 tentang perbendahan Negara, dan Permen Keu No 128 tentang Pengurusan Piutang Negara.

"jika aturan perundangan ini dapat dimanfaatkan secara optimal, sesungguhnya lebih dari cukup untuk menyelamatkan anggaran belanja negara tanpa harus menaikkan harga BBM," ujar Ucok.

Dijelaskanya, total jumlah piutang pajak per 31 Desember 2012 dan 31 Desember 2011 sebesar Rp. 93.468.526.344.200 dan Rp. 108.063.462.383.641.

Dan piutang Pajak ini berasal dari piutang Peneriman Negara Bukan Pajak, (PNBP) yang juga jumlahnya cukup besar. Misalnya piutang PNBP pada Kejaksaan sebesar Rp. 12.570.632.222.592 merupakan piutang dari uang pengganti, denda tilang dan sewa rumah dinas, Piutang PNBP pada Kementerian ESDM sebesar Rp. 9.399.082.826.374 merupakan piutang yang berasal dari Iuran Royalty dan Iuran Tetap KK/IUP dan PKP2B.

Piutang PNBP pada Kementerian Kehutanan sebesar Rp. 2.067.471.003.070 berasal dari tunggakan Provisi Sumber Daya Hutan dan Dana Reboisasi, tunggakan ganti rugi tegakan, dan Piutang PNBP pada Kementerian Komunikasi dan Informatika sebesar Rp 2.780.032.927.625 berasal dari Biaya Hak Penyelenggaran telekomunikasi dan pengenaan denda.

"Pemerintah sesunguhnya memiliki jumlah piutang (dana) yang cukup begitu besar. Sehingga kebijakan pemerintah untuk menaikan harga BBM, merupakan kebijakan jalan pintas dan pemerintah tidak mempunyai keinginan untuk bersunguh-sunguh membela kepentingan rakyatnya," pungkas Ucok.(bhc/put)


 
Berita Terkait Kenaikan Harga BBM
 
FITRA: Peneriman Negara Bukan Pajak, Dapat di Gunakan Cegah Kenaikan BBM
 
Fuad Bawazier: Pemerintah Keliru Menaikkan Harga BBM
 
Inilah Program Kompensasi Untuk Mempertahankan Kesejahteraan Masyarakat
 
Pengendara Sepeda Motor Padati SPBU Sebelum Pukul 00:00 WIB
 
Para Menteri Berkumpul Umumkan Kenaikan Harga BBM
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah
Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit
Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional
Sinyal keterlibatan Menhut Raja Juli dalam kasus korupsi Bupati Kuansing Suhardiman Amby
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]