Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Opini Hukum    
 
Pilpres
Emak Emak Militan
2019-05-20 05:36:21

Ilustrasi. Ilustrasi. Tampak massa aksi Emak-emak militan berdemo di depan kantor Bawaslu, Jakarta.(Foto: BH /mnd)
Oleh: Ismoyo Jati

WAKTU MENUNJUKKAN pukul 23.00 wib, malam menjelang, Senin (20/5), HP-ku berdering, seketika aku terbangun, kulihat panggilan dari nomor HP yang belum tersimpan dikontak ponselku, tidak ada nama hanya deretan angka saja.

Sejenak aku bimbang akan kuangkat atau tidak, pikiranku melayang siapa gerangan, tengah malam begini menghubungiku, lantas naluriku berkata pasti ini penting, perkiraanku dari rekan kerja atau rekan lain, yang jelas ini pasti ada hal penting.

Lantas aku angkat dan dari seberang terdengar suara laki laki yang rupanya sudah mengenalku, mengutarakan maksud dan tujuanya, namun sayang sinyal kurang bagus, nadanya terputus putus, akhirnya kusarankan untuk washtap saja.

Tidak berapa lama, HP ku bergetar tanda pesan WA masuk, kubaca pesan pendeknya, yang intinya kawanku itu mengabarkan bahwa dirinya saat ini sedang mendampingi dan mengawal Emak Emak Militan yang sedang bersiap turun untuk menyampaikan pendapat untuk menyikapi kecurangan pemilu 2019, menegakan kedaulatan rakyat.

"Saya sedang mengawal gerakan Emak Emak Militan yang malam ini akan turun ke KPU. Tekad Emak Emak ini sulit sekali ditahan untuk bersabar menunggu besok.

Mereka tidak banyak, malam ini setelah pukul 00.00 wib, rencananya Emak Emak Militan ini akan bergerak, siap sebagai pionir untuk mengawali aksi damai gerakan kedaulatan rakyat, siap tidak pulang sampai dengan tanggal (22/5) dan besok akan datang susul menyusul barisan Emak Emak dari jaringan mereka. "

Begitulah salah satu pesan yang aku terima, aku membalasnya dengan memberikan motivasi untuk menyemangati mereka.

Sampai dini hari aku tidak bisa tidur, merenungkan betapa luar biasanya semangat Emak Emak Militan, akupun selalu memanjatkan doa untuk keselamatannya.

Aku semakin dalam merenung, apakah ada yang salah dengan pengelola negeri ini, mustahil kalau tidak ada, tidak terbayang dalam benak kita selama ini, seorang Emak Emak, rela berjuang ditengah malam, dengan modal seadanya, mereka rela tinggalkan keluarga, anak anaknya, hanya untuk memperjuangkan hakekat kebenaran yang mereka yakini.

Tanpa terasa air matapun menetes, aku semakin sedih, di era milenial seperti ini, dimana sebagian anak-anak muda, yang seharusnya bisa bergerak aktif, energik, untuk menyikapi kondisi negeri ini, tetapi justru mereka terlena dengan gadget-gadget yang menina bobokannya, apatis, masa bodoh, tidak peduli negeri yang kaya raya ini dijarah, dirampok oleh komprador-komprador asing.

Rupanya saraf mereka sudah dilemahkan begitu rupa, lewat gadget, game online, narkoba dan pornografi, sehingga giroh perjuanganya begitu lemah.

Berbeda dengan Emak Emak Militan, mereka berpikir ke masa depan, kepedulianya demi untuk generasi mendatang, anak cucu kelak, tidak semata mata untuk 01 atau 02, tetapi demi kedaulatan ibu pertiwi.

Setiap lima tahun pemilu, pilpres, suksesi kepemimpinan terus berlangsung, namun nasib rakyat seolah tak berubah, tetap dalam kubangan kemiskinan.

Bukan rahasia lagi, segelintir orang menguasai berhektar hektar lahan, sementara para petani miskin mengais ngais lahan tandus, tidak mampu membeli pupuk, diserbu produk import.

Kekayaan alam, hutan di Sumatera, Kalimantan, dll, porak poranda, kita kesulitan menarasikan antara "kebakaran" atau "pembakaran" hutan yang terus berlangsung setiap memasuki musim kemarau.

Ramalan ramalan masa depan ibu pertiwi yang katanya akan meroket, kalaupun benar, siapakah yang bisa menjamin kalian anak anak muda, yang sekarang terlena dengan gadgetmu itu bisa ikut menikmatinya, dan jangan sampai kalian hanya akan menjadi "babu", di negerimu sendiri, kelak.

Lantas apakah salah Emak Emak Militan, hanya ingin menyampaikan tekadnya, demi kalian generasi muda, anak anak, cucu Emak.

Penulis adalah peminat pada masalah sosial kemasyarakatan di Indonesia.(bh/sya)

Share : |

 
Berita Terkait Pilpres
Harus Diakui Kehebatan Mereka dalam Fabrikasi Pengalihan Isu
Demi Keutuhan NKRI, Jokowi-Titiek Soeharto Jadi Rekonsiliasi Politik Damai
PKS: Lebih Baik Prabowo Nyatakan sebagai Oposisi ke Jokowi
Rekonsiliasi dan Konstalasi Politik Pasca MRT
Rekonsiliasi Trah Jokowi-Titiek, Mungkinkah Jadi Solusi Cegah Perpecahan Bangsa?
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Pemboikotan Sawit Indonesia Oleh Uni Eropa Tidak Bisa Diabaikan
Bencana Asap Karhutla Coreng Diplomasi Sawit Indonesia
Tafsir 6A dan Tekanan Politik
Dr Jan Maringka: Penegakan Hukum Tidak Sama dengan Industri
Arab Saudi: Puing-puing Senjata 'Membuktikan Iran Berada di Balik' Serangan Kilang Minyak
Kejari Gunung Mas Tangkap Kontraktor Terduga Korupsi Dana Desa
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Polda Metro Jaya Bekuk Pengedar Narkoba Jaringan Malaysia-Batam-Jakarta
Willem Wandik: Usai Pulkam, Mahasiswa Harus Kembali Kuliah
Indonesia Darurat Asap, Presiden Segeralah Bertindak!
Jokowi Tolak Penyadapan KPK Seizin Pihak Eksternal, Padahal Memang Tak Ada di Draf Revisi UU KPK
Label Halal Dilidungi UU, MUI: Kebijakan Menteri Enggar Adalah Kemunduran Peradaban
RUU Perkoperasian Sepakat Dibahas di Paripurna DPR
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]