Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Opini Hukum    
 
Penistaan Agama Islam
Dibawah Kibaran Merah Putih, Kami Putuskan untuk Melawan
2016-12-01 14:32:07

Ilustrasi. Tampak para peserta Demo Aksi Bela Islam Jilid II, Jumat (4/11) lalu, bersama Bendera Merah Putih.(Foto: BH /mnd)
Oleh: Ferdinand Hutahaean

TINGGALKAN AYAH tinggalkan ibu, Izinkan kami pergi berjuang, dibawah kibaran sang merah putih, majulah ayolah maju menyerbu.....serbu.

Itu sepenggal nyanyian pembakar semangat yang sering dinyanyikan tentara saat latihan-latihan tempur dan menjadi penyemangat dalam setiap melakukan operasi. Lagu ini jugalah yang kami harapkan bisa menjadi pembakar semangat untuk para pejuang yang melawan ketidak adilan saat ini.

*Melihat para pejuang yang datang dari seluruh sudut negeri dan lorong-lorong perlawanan menuju Jakarta adalah fakta tak terbantahkan bahwa penistaan agama yang diduga dilakukan tersangka Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok telah menjadi api revolusi yang tidak bisa dianggab main-main atau dipandang sebelah mata oleh rejim berkuasa.

Massa yang berjalan kaki sejauh ratusan kilometer seperti yang dilakukan para mujahid dari Ciamis bukan sekedar sensasi atau gagah-gagahan. Mereka para Mujahid itu datang dengan dorongan iman dan keyakinan teguh membela aqidah yang dianutnya. Datang ke Jakarta untuk berjihad, bukan sekedar datang dan berdoa setelah itu pulang.

Indonesia dalam perlawanan

Seluruh sudut kota negeri ini mengirimkan para pejuang datang ke Jakarta untuk menuntut penegakan hukum yang adil, sama terhadap semua pihak, serta tidak diskriminatif apalagi rekayasa. Mereka adalah simbol perlawanan kepada ketidak adilan yang dilakukan oleh penguasa. Mereka adalah bukti nyata Indonesia sedang melakukan perlawanan terhadap penguasa yang tidak meletakkan hukum diatas segala kepentingan.

Mereka bukan pemecah belah NKRI, mereka bukan separatis, mereka bukan kaum intoleran, mereka bukan kaum radikal dan mereka bukan massa makar. Tapi mereka adalah para pemilik sah republik ini yang menuntut penegakan hukum kepada terduga penista agama bernama Ahok.

Langkah-langkah yang dilakukan penguasa seperti Parade Kebinekaan dan Apel Kenegaraan justru kontraproduktif untuk menyelesaikan kemelut bangsa yang timbul saat ini.

Langkah yang positif namun kontraproduktif karena kesan yang muncul adalah adanya pengotak-ngotakan antara kaum toleran dengan kaum intoleran. Sungguh kekeliruan mendalam yang dilakukan oleh penguasa, niat menyelesaikan masalah namun dengan cara yang salah. Bahkan saat ini beredar ajakan aksi 412 Hari Minggu di Car Free Day dengan tema Kita Indonesia. Jelas ini seperti mengolok-olok rasa umat Islam. Seolah-olah umat Islam yang menuntut penegakan hukum pada penista agama itu adalah musuh kebangsaan. Padahal musuh kebangsaan dan musuh toleransi sesungguhnya adalah si penista agama bukan umat Islam.

Adu domba ala PKI dan Penjajah

Rakyat diadu domba. Anak-anak bangsa diadu domba. Pertanyaan, siapa yang mengadu domba? Adu domba adalah ciri khas yang dilakukan PKI dan penjajah selama ratusan tahun. Tidak sulit menduga siapa pihak yang melakukan adu domba ini. Adu domba adalah cara-cara Komunis dan bangsa asing penjajah supaya bisa mengkooptasi bangsa Indonesia. Publik tentu tahu negara mana yang jadi sumber Komunis dan negara mana yang saat ini gencar menyerbu Indonesia.

Kami Putuskan Untuk Melawan

Atas pembiaran yang dilakukan oleh penguasa terhadap kekacauan bangsa ini, dan bahkan patut diduga tangan kekuasaan bekerja untuk melindungi sumber konflik sesungguhnya, yaitu sipenista agama, maka bagi kami, yang terancam saat ini adalah keutuhan bangsa dan Negara, Indonesia terancam dihancurkan oleh kekuatan komunis dan neo kolonialisme.

Setiap ancaman kepada negara akan kami respon, maka kami putuskan dibawah kibaran Merah Putih kami akan melawan. Rakyat bersama TNI akan menjaga keutuhan bangsa dari ancaman adu domba dan perusakan bangsa oleh golongan komunis dan kaum penjajah baru.

Indonesia Tanah Airku, ijinkan kami berjuang melawan penghancuran bangsa dan perusakan aqidah. Kalaupun kami mati, maka kami mati karena melawan demi tegaknya Negara Republik Indonesia.

Selamat berjuang para Pejuang dan Mujahid...!!

Jakarta, 01 Desember 2016.(fh/bh/mdb)

Penulis adalah aktivis mantan Relawan Jokowi, yang kini sebagai Pimpinan Rumah Amanah Rakyat (RAR)


 
Berita Terkait Penistaan Agama Islam
 
DICARI!!, Setelah M Kece, Pria Ini Jadi Buronan Netizen Gegara Hina Nabi Muhammad
 
HNW Apresiasi Kinerja Polri Tangkap Terduga Penista Agama
 
Sukmawati, Potret Sosial-Politik dan Hukum Kita
 
Bareskrim Polri Tetapkan Ustadz Bachtiar Nasir sebagai Tersangka Dugaan TPPU
 
Jubir PA 212 Kembali Mendatangi PMJ untuk Menanyakan LP Ketua BTP Mania, Immanuel Ebenizer
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
KAI Luncurkan Nusantara Explorer, Kereta Mewah yang Siap Ubah Wajah Pariwisata Indonesia
Purbaya curhat: Saya menteri paling tidak beruntung di dunia
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]