Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

White Crime    
 
Pencucian uang
Demokrat Persilahkan KPK Gunakan UU Pencucian Uang
Friday 28 Oct 2011 20:09:18

Tersangka M Nazaruddin usai menjalani pemeriksaan di KPK (Foto: BeritaHUKUM.com/RIZ)
*Petinggi Demokrat sudah lama minta bongkar siapa saja yang terkait kasus korupsi wisma atlet

JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggunakan UU Pemberantasan Pencucian Uang dalam perkara tersangka Muhammad Nazaruddin. Penggunaan ini dimaksudkan untuk menjerat penerima aliran dana kasus dari proyek pembangunan wisma atlet SEA Games XXVI/2011. Partai Demokrat pun takkan mempermasalahkan pengunaan UU tersebut.

“Silahkan saja. Kami sudah ngomong buka saja. Sejak awal, kami sudah minta KPK untuk sungguh-sungguh mengungkap kasus ini. Tapi jangan mengungkap kasus itu karena terpaksa, atau karena ditekan orang," kata Ketua DPP Partai Demokrat Benny K Harman kepada wartawan di Jakarta, Jumat (28/10) kemarin.

Namun, Benny mengingatkan KPK untuk berani mempertanggungjawabkan sesuai hukum. Institusi pembernatasan hukum ini juga harus dapat membuktikannya. "Pakai pasal apa saja boleh. Pasal pencucian uang, atau pencucian baju, silakan saja. Pokoknya, segala alat dipakai untuk menuntaskan kasus ini," ujar dengan nada sinis.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Chandra M Hamzah menyatakan bahwa tim penyidik KPK menggunakan UU Pemberantasan Pencucian Uang untuk kasus wisma atlet dengan tersangka Nazaruddin. Hal ini ditempuh, agar dapat mengungkap penerima aliran dana yang diduga diterima sejumlah elite parpol tertentu.

Tindakan ini juga ditempuh untuk melacak keberadaan dana suap senilai Rp 4,3 miliar yang diterima Nazaruddin. Penggunaan UU ini akan menjadi sejarah bagi KPK. Pasalnya, selama ini KPK belum pernah menggunakan UU Pemberantasan Pencucian Uang, karena kewenangan itu baru dimiliki KPK pada Desember 2010, setelah adanya revisi atas UU tersebut.

Tenggelamkan Demokrat

Dalam kesempatan terpisah, pakar komunikasi politik UI Effendi Gazali mengatakan, kasus korupsi Nazaruddin dipastikan bakal menenggelamkan popularitas Partai Demokrat. Bahkan, lambat laun pernyataan Nazaruddin yang liar itu akan membunuh Demokrat.

"Bahwa Nazaruddin nanti akhirnya akan membunuh Demokrat, bisa sangat benar. Dia kerap mengekspos tudingannya kepada media. Meski ditujukan kepada oknum partai, tapi getahnya akan diterima partai itu juga,” kata Effendi.

Menurut Effendi, alasan kenapa kasus Nazaruddin 'membunuh' Demokrat, disebabkan sikap partai itu dalam memberikan respon kasus tersebut, kurang meyakinkan kepada publik. Apalagi pernyataan dari elite partai itu yang cenderung formalistik.

"Jawaban normatif itu tidak bisa menjawab rasa ingin tahu publik. Bahkan, dapat diartikan menantang ketidakpercayaan publik. Apalagi dengan sikap masyarakat yang mempersepsikan Nazaruddin adalah Demokrat sebagai partai penguasa," tandas Effendi.(tnc/rob/irw)


 
Berita Terkait Pencucian uang
 
• Buntut Kasus Pencucian Uang Di Kasino, DPR Panggil Mendagri Tito Karnavian
 
• Aparat Hukum Diminta Selidiki Dugaan Money Laundering
 
• Gerakan SULTRA Menggugat Atas Dugaan TPPU Gubernur Sultra Nur Alam
 
• Tiga Tersangka Kasus Korupsi Pajak Diringkus Polisi
 
• Jaksa dan Saksi Irjen Djoko Berdebat Wewenang KPK Usut Pencucian Uang
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
• Beredarnya Video AI Prof Djokosoetono, Bantahan Mintarsih Ungkap Fakta Sebenarnya
• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua
• KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta
• BAM DPR Terima Aduan Warga Kebon Sirih Soal Tukar Guling Masjid Al Hurriyah dan Soroti Lokasi Pengganti di Pasar Minggu
• Pergantian Kapolri, Suyudi Ario Seto Resmi Pimpin Korps Bhayangkara Gantikan Listyo Sigit Prabowo
• Pasal 18 PKPU Nomor 19/2023 Diduga "Selundupan" Syarat Pendidikan, Pemohon MK: Gibran Didiskualifikasi
Untitled Document

  Berita Utama >
   
• Pemerintah Resmi Tutup dan Cabut Izin Tambang Emas Milik PT Kristalin Eka Lestari Seluas 275 Hektar di Papua
• KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta
• BAM DPR Terima Aduan Warga Kebon Sirih Soal Tukar Guling Masjid Al Hurriyah dan Soroti Lokasi Pengganti di Pasar Minggu
• Pasal 18 PKPU Nomor 19/2023 Diduga "Selundupan" Syarat Pendidikan, Pemohon MK: Gibran Didiskualifikasi
• Temuan Ombudsman, Lapas Cibinong Diduga Kelola Hunian Napi ala Villa Mewah
• Fahd El Fouz A Rafiq Diam Saat Ditanya Jadi Tersangka KPK yang Ketiga Kali
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]