Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

EkBis    
 
Kasus di Pelindo
Demo SP JICT ke BUMN: Kembalikan JICT Koja ke Pangkuan Ibu Pertiwi
2018-12-17 12:04:36

Tampak suasana aksi demo anggota Serikat Pekerja Jakarta International Container Terminal (SP JICT) di depan gedung BUMN, Jakarta.(Foto: BH /mnd)
JAKARTA, Berita HUKUM - Ratusan anggota Serikat Pekerja Jakarta International Container Terminal (SP JICT) bersama elemen pekerja lain mengadakan aksi, "Selamatkan Pelabuhan Nasional, Save JICT-Koja". Adapun, aksi dilakukan di depan gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Republik Indonesia di Jl. Medan Merdeka Selatan No. 13 Jakarta dengan bertekat akan mendirikan tenda bermalam selama satu bulan ke depan.

Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja JICT, M Firmansyah sampaikan bahwa pekerja mengkritisi perpanjangan kontrak pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia JICT-Koja periode 2015-2038 kepada Hutchison Hong Kong yang terbukti melanggar Undang-Undang (Audit Investigatif BPK RI).

Kemuka Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja JICT, M. Firmansyah melanjutkan bahwa; pertama (1), Manajemen Pelindo II era RJ Lino tidak pernah memasukan rencana perpanjangan sebagai Rencana Kerja dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan *(RKAP). Selain itu, tidak ada informasi terbuka kepada pihak pemangku kepentingan sejak 2014.

Yang kedua (2), Perpanjangan kontrak JICT-Koja tanpa izin konsensi pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan.

Selanjutnya, ketiga (3), Mekanisme pemilihan mitra Hutchison sarat penyalahgunaan wewenang dan manajemen JICT-Koja yang mengesampingkan opsi pengelolaan kedua pelabuhan petikemas secara mandiri

"Atas itulah, maka pelanggaran Undang-Undang tersebut, BPK RI menyebut negara rugi hampir Rp 6 trilyun," ungkap Firmansyah, Senin (17/12).

Pengelolaan pelabuhan nasional JICT-Koja yang berdampak kepada hajat hidup rakyat Indonesia harus berlandaskan semangat konstitusi, bukan liberalisasi asing yang membahayakan kedaulatan dan hilangnya potensi ekonomi nasional.

Selain itu, dampak sosial liberalisasi asing di pelabuhan tidak kalah terpuruk. Pekerja yang membangun produktivitas, hingga menjadikan pelabuhan peti kemas JICT terbaik di Asia malah di-phk massal dan pola outsourcing yang melanggar aturan pun subur di pelihara.

Kemudian lanjutnya, "pihak asing leluasa melakukan pemberangusan halus dan kasar kepada pekerja yang mengkritik buruknya pengelolaan pelabuhan serta pemenuhan asas keadilan," jelasnya.

Padahal, patut digarisbawahi, ungkapnya secara proporsional pekerja pelabuhan adalah garda terdepan penjaga kedaulatan negara dan amanat konstitusi.

Saat ini baik pemerintah dan aparat penegak hukum terkesan berlarut-larut dalam menyelesaikan kasus yang duduk permasalahannya sudah terang benderang ini.

"Apalagi Hutchison terus abai dan memaksakan perpanjangan kontrak berjalan di JICT dan Koja tanpa alas hukum," tegas Firmansyah.

Untuk itu, Serikat Pekerja JICT menuntut pemerintah Indonesia dan aparat penegak hukum supaya :

(1) Bersikap atas nama hukum Indonesia mengusut kasus indikasi korupsi kontrak JICT-Koja. Negara tidak boleh kalah dengan manuver dan pelanggaran aturan oleh asing di pelabuhan nasional.

(2) Kembalikan JICT-Koja ke pangkuan Ibu Pertiwi karena SDM, sistem dan peralatan sudah mumpuni. Silahkan Hutchison berinvestasi di pelabuhan lain yang belum tergarap, bukan pelabuhan mapan dan untung seperti JICT-Koja yang kontraknya berakhir 2019.

"Kami mengajak seluruh komponen bangsa bersama-sama selamatkan aset strategis nasional "Pelabuhan JICT-Koja" untuk masa depan Indonesia yang lebih baik," tandasnya. #SaveJICTKoja #ByeHutchison.(bh/mnd)

Share : |

 
Berita Terkait Kasus di Pelindo
Demo SP JICT ke BUMN: Kembalikan JICT Koja ke Pangkuan Ibu Pertiwi
Ketum FSP BUMN Bersatu: Skandal JICT, Harus Disidangkan Dahulu RJ Lino Biar Jelas !
Pansus Pelindo II Serahkan Hasil Audit BPK ke KPK
Lagi Asik Main Golf, 2 Tersangka Kasus Pelindo II Ditangkap Bareskrim
Dalih Jasa Service Pandu, Pungli Kembali Dituding Merajalela di Pelindo Samarinda
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Jokowi di Ambang Kekalahan?
Aher Serukan Hadapi Pemilu Damai dengan Sejuk dan Gembira
Indonesia Menang Mutlak Atas Perkara Gugatan Churchill Mining Plc dan Planet Mining Pty Ltd
Hormati Pilihan Politik Pihak Lain, Ialah Cara Jawara Banten Dukung Pemilu Damai
Anies Baswedan Apresiasi Seluruh Pekerja Pembangunan MRT
Kampanye Akbar Capres 02 Prabowo di Karebosi Makassar Ada Bendera Golkar
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Indonesia Menang Mutlak Atas Perkara Gugatan Churchill Mining Plc dan Planet Mining Pty Ltd
KPK OTT Direktur BUMN Krakatau Steel, Jokowi Gagal Kelola BUMN yang Bersih dari Korupsi dan Suap
Polisi Menangkap 9 Tersangka Sindikat Pemalsu Materai yang Dijual Online
KPK Tetapkan 3 Tersangka Dalam Kasus Suap Seleksi Jabatan di Lingkungan Kementerian Agama
Tunjukkan Solidaritas, Lampu JPO GBK Visualkan Warna Bendera Selandia Baru
KPK Akhinya Tetapkan Ketum PPP Romahurmuziy Tersangka
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]