Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Pilpres
Dahlan Iskan: Hari Ini Saya Menjatuhkan Pilihan ke Pak Prabowo
2019-04-13 17:32:12

Pada masa akhir kampanye Pilpres 2019, Paslon 02 Prabowo - Sandi mendapat dukungan para tokoh Indonesia; Ustadz Abdul Somad, Ustadz Arifin Ilham, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Abdurrasyid Abdullah Syafei, Gatot Nurmantyo, Dahlan Iskan, dan Sjafrie Sjamsoeddin.(Foto: twitter)
SURABAYA, Berita HUKUM - Tokoh nasional yang juga mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan dukungan pada Pilpres 17 April 2019 mendatang kepada calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto.

Dahlan mengungkap pilihannya tersebut dalam acara pidato kebangsaan Prabowo di Dyandra Convention Center, Kota Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/4) sore. Dahlan datang belakangan, disambut langsung oleh Prabowo.

Dia duduk di kursi paling depan bersama Prabowo, Rizal Ramli, Fadli Zon, Sudirman Said, Gatot Nurmantyo dan sejumlah tokoh lainnya.

Setelah acara dimulai dengan doa yang dipimpin Ustadz Yusuf Martak, Dahlan diberikan kesempatan menyampaikan pidato pendek, tepat sebelum Prabowo naik ke podium.

Dalam sambutannya itulah Dahlan menyatakan dukungan kepada Prabowo-Sandi di Pilpres 2019. "Hari ini saya menjatuhkan pilihan kepada Pak Prabowo," ujar Dahlan disambut riuh pendukung 02.

Dia menuturkan lima tahun yang lalu dia menganggap calon presiden Jokowi memiliki program yang mampu menciptakan perubahan, yakni revolusi mental. Namun, Dahlan menilai, janji-janji Jokowi tidak terwujud selama periode pertama pemerintahannya.

Dahlan yang juga dikenal sebagai tokoh pers di Indonesia serta mantan direktur utama PLN itu menuturkan bahwa dirinya pada Pilpres 2014 memilih Joko Widodo alias Jokowi.

"Waktu itu (2014, Red) saya berharap banyak karena Pak Jokowi punya program besar yang disebut Revolusi Mental. Juga waktu itu Pak Jokowi punya program hebat berupa pertumbuhan ekonomi yang tinggi," tutur Dahlan di hadapan ribuan pendukung Prabowo - Sandi.

Dahlan mengaku sangat berharap agar Jokowi dalam masa kepemimpinannya bisa mengerek pendapatan per kapita hingga USD 7 ribu per tahun. "Karena lima tahun yang lalu pendapatan per kapita sudah USD 5 ribu per tahun, jadi wajar saya berharap lima tahun kemudian jadi tujuh ribu dan lima tahun (berikutnya) jadi sembilan ribu," tuturnya.

Menurut Dahlan, Indonesia jadi negara besar dan jaya jika pendapatan per kapitanya mencapai USD 7.000 per tahun. "Namun itu tidak terlaksana," ujarnya disambut aplaus.

Karena itu Dahlan menjatuhkan pilihannya kepada Prabowo-Sandi. Dia menegaskan, keputusan politiknya sama sekali bukan karena masalah pribadinya.

"Bukan karena mempertimbangkan nasib saya selama lima tahun terakhir. Itu saya anggap sebagai risiko saya sebagai pengabdi. Seperti juga risiko Pak Jokowi menjadi presiden difitnah selama 4,5 tahun, bahkan seperti juga Pak Prabowo yang difitnah selama 17 tahun," katanya.

Selain itu, Dahlan juga berusaha menampung aspirasi pendukungnya. Dia menceritakan, pada Pemilu 2014 para pendukungnya yang dikenal dengan sebutan Dahlanis mendukung Prabowo.

Namun, Dahlan memilih mendukung Jokowi. "Karena program-program itu. Sekarang, pemilu tahun ini ganti saya yang ikut pimpinan Dahlanis se-Indonesia itu," pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, pada masa akhir kampanye Pilpres 2019 menjelang masa tenang mulai besok Minggu (14/4), Paslon Capres / Cawapres 02 Prabowo - Sandi mendapat dukungan beberapa tokoh, selain dari Dahlan Iskan, Koalisi Adil Makmur pasangan Prabowo Sandi juga mendapat dukungan dari Ustadz Abdul Somad, Ustadz K.H. Muhammad Arifin Ilham, Ustadz Adi Hidayat, KH Abdurrasyid Abdullah Syafei, Gatot Nurmantyo, dan Sjafrie Sjamsoeddin.(jpc/jpg/rmol/jpnn/bh/sya)


 
Berita Terkait Pilpres
 
Sepiring Berdua, Ngapain Ada Pilpres?
 
Langkah Kuda Hitam Mega
 
Harus Diakui Kehebatan Mereka dalam Fabrikasi Pengalihan Isu
 
Demi Keutuhan NKRI, Jokowi-Titiek Soeharto Jadi Rekonsiliasi Politik Damai
 
Rekonsiliasi dan Konstalasi Politik Pasca MRT
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Sosialisasi Jamu Herbal Kenkona di Depok, Ketum HMS Centre Yakin Tak Sampai 5 Persen Terpapar Covid19 di Indonesia
Kabaharkam Serahkan Ribuan APD Covid-19 Bantuan Kapolri untuk RS Bhayangkara Polda Jawa Timur
Kasus Kondensat BP Migas - TPPI, Terdakwa: Pemberian Kondensat Kepada PT TPPI Berdasarkan Kebijakan Pemerintah
Dekan FH UII: Guru Besar Hukum Tata Negara Kami Diteror!
Lindungi Warga DKI, Anies Pasang Badan
Beberapa Hari Dibuka, Ratusan Sekolah di Korsel Harus Ditutup Lagi karena Lonjakan Kasus Covid-19
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Ternyata Sebelum Ruslan Buton, Khoe Seng Seng Juga Sudah Lebih Dulu Minta Jokowi Mundur
Inilah Pernyataan Pers PP Muhammadiyah Tentang Pemberlakuan New Normal
Polri Siap Masifkan Protokol New Normal
Anies: Perpanjangan PSBB Jakarta Jadi Penentu Transisi Memulai 'New Normal'
Polri Tutup Pintu Masuk Arus Balik Menuju Jakarta
Polri Tangkap 2 WNA dan Sita 821 Kg Sabu
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]