Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Pemilu 2014
DPRD DKI: Jokowi Tak Jalankan Program Pusat
Thursday 12 Jun 2014 05:20:18

Ilustrasi. Joko Widodo (Jokowi) Capres nomer urut 2.(Foto: BH/mdb)
JAKARTA, Berita HUKUM - Politik anggaran yang diangkat Capres No urut 2 Jokowi saat debat Capres, Senin (9/6) lalu, tidak sejalan dengan cara dia menangani DKI Jakarta dua tahun ini, saat menjadi Gubernur.

Salah satu anggota DPRD DKI Jakarta M.Sanusi mengatakan, Jokowi sebagai Gubernur sebenarnya juga tidak melaksanakan program pemerintah pusat di bawah Presiden SBY.

Dia menjelaskan, alur program-program pemerintah pusat yang dilaksanakan pemerintah daerah itu tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP), dan oleh daerah diterjemahkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).

"Anggaran di DKI memang parah, ini tahun terparah. Bayangkan, sudah semester II ini, baru terserap 6%," kata Sanusi, kepada INILAHCOM, Kamis (12/6).

Dia mengatakan, kalau dibilang tidak patuh pada pemerintah pusat, justru Provinsi DKI di bawah kepemimpinan Jokowi yang tidak patuh.

RKP yang tertuang dalam RKPD saja, itu tidak dijalankan.

Jelas Sanusi, RKPD biasanya diterjemahkan lagi oleh Gubernur dalam bentuk RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) maupun jangka panjang.

Tapi, kata Sanusi, selama menjabat Gubernur DKI, itu tidak dilaksanakan. Jadi, kata dia, bertolak belakang dengan konsep politik anggaran yang dikatakannya.

"Baru hampir satu tahun tidak ada yang jalan," katanya.

Dia mencontohkan, program-program RKPD maupun RPJMD, seperti kampung deret yang dinilainya masih bermasalah.

Lanjut Sanusi, Monorel sebenarnya masuk juga dalam program utama. Tapi buktinya, kini tidak ada pelaksanaannya. Termasuk, lanjutnya, persoalan Waduk Pluit, yang belum ada penggunaan anggarannya.

"Anggaran Waduk Pluit itu CSR lho (Corporate Social Responsibility), itu bukan dari APBD lho. Lelang jabatan pun bermasalah, seperti (lelang jabatan) kepala sekolah," tegasnya.

Dia juga menyoroti, tidak adanya sekretaris daerah yang definitif. Menurut Sanusi, ini berbahaya. Karena beban kerja diambil oleh Gubernur, sehingga pelaksanaan pemerintah didasarkan pada like and dislike.

Sanusi membeberkan bukti-bukti merosotnya pembangunan Jakarta. "Kejadiannya Adipura tidak dapat, seumur-umur ini baru pertama kalinya DKI (tidak dapat Adipura)," kata dia.

Menurut dia, tidak pantas mengancam daerah dengan politik anggaran, sementara selama menjabat Gubernur di DKI saja, justru tidak melaksanakan program pusat.

Bahkan termasuk program utama daerah, yang tertuang dalam RKPD.

"Beliau (Jokowi) tidak tahu tentang demokrasi Indonesia. Dia cuma tahu Jakarta sedikit. Kalau dia tahu banyak, kendala tidak seperti itu," kata Sanusi.

Dalam debat itu, Jokowi menjawab pertanyaan soal cara pemerintah pusat menangani daerah yang tidak patuh pada pemerintah pusat.

Jokowi mengatakan, dengan politik anggaran. Karena anggaran dari pemerintah pusat 85%, maka kalau ada daerah yang membandel, pusat bisa memotong sebagai punish atau hukuman.

Sebaliknya, kalau menaati, maka perlu diberi reward atau tambahan anggaran.(inilah/gus/bhc/sya)


 
Berita Terkait Pemilu 2014
 
Sah, Jokowi – JK Jadi Presiden dan Wakil Presiden RI 2014-2019
 
3 MURI akan Diserahkan pada Acara Pelantikan Presiden Terpilih Jokowi
 
Wacana Penghapusan Kementerian Agama: Lawan!
 
NCID: Banyak Langgar Janji Kampanye, Elektabilitas Jokowi-JK Diprediksi Tinggal 20%
 
Tenggat Pendaftaran Perkara 3 Hari, UU Pilpres Digugat
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja
Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal
Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?
Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?
Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara
Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta
Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]