Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Opini Hukum    
 
Resesi Ekonomi
Bulan-bulan yang Berat! Masalah Datang Beruntun! Resesi Datang Lebih Cepat!
2019-10-04 17:27:01

Salamuddin Daeng sebagai pengamat ekonomi politik dan Peneliti senior dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI).
Oleh: Salamuddin Daeng


SITUASI INTERNASIONAL terus memburuk ;

1. Perang dagang USA Vs China menghajar ekonomi negeri negeri yang bergantung pada pasar China dan USA, maupun yang bergantung pada Dolar Amerika dan impor barang dari China. Dua pasar yang samgat besar yang sama sama menopang ekonomi global salam satu dekade terakhir.

2. Gelombang pembersihan skandal pajak di Amerika Serikat dan Eropa, menyapu para penjahat keuangan dunia. UU ekstradisi China segera akan membawa penjahat keuangan di Hongkong, Taiwan dan juga taipan taipan di wilayah Asia lainnya ke tiang gantung di Tiongkok. Baik China maupun USA dalam posisi ingin menyita uang kotor yang tersimpan di bank bank global. Internasional telah menetapkan arah baru bagi pembersihan uang kotor melalui skema Mutual Legal Assistance (MLA) yang berbasis peradilan/pemidanaan pelaku kejahatan keuangan internasional.

3. Ekonomi Singapura memburuk, pertumbuhan ekonomi terendah sejak krisis 2002, membawa negara itu pada krisis ekonomi dan krisis keuangan dalam waktu dekat lebih cepat dari perkiraan. Singapura adalah termometer ekonomi Asia dan global. Jika keadaan ekonomi Singapura demam tinggi maka itu berarti ekonomi global resesi. Singapura adalah investor terbesar bagi ekonomi Indonesia.

4. Harga komoditas makin memburuk, harga batubara anjlok, hanya minyak tetap rendah, harga CPO jatuh, keuangan negara negara yang bergantung pada migas jebol. Utang baru tampak sulit karena kemampuan bayar yang berat. Penerimaan negara berbanding terbalik dengan beban negara atas utang yang telah dibuat. Indonesia sangat bergantung pada harga komoditi primer dan pada saat yang sama bergantung pada dana segar dari utang luar negeri.

Pada saat situasi serba tidak menguntungkan, Indonesia dirundung masalah bertubi tubi. Apa yang terjadi dengan Indonesia? Mengapa masalah datang bertubi tubi. Maslaah alam, masalah ekonomi, keuangan, perdagangan, datang menjadi masalah secara beruntun. Tidak ada yang tau persis apa yang terjadi dan apa yang bakal terjadi sangat sulit ditebak.

Setelah masalah defisit neraca eksternal, defisit pendapatan primer, defisit migas, defisit jasa jasa, kembali masalah ekonomi lain datang. pemerintah seperti tidak tau mau berbuat apa. pemerintah sama dengan rakyat kebanyakan terkaget kaget dan tak tau apa yang terjadi :

1. Garuda bermasalah manipulasi laporan keuangan, dari untung kemudian direvisi menjadi rugi triliunan rupiah. Belum ada tindak lanjut secara hukum mengenak masalah ini.

2. Pertamina bermasalah tumpahan minyak Balikpapan digugat KemenLH Rp. 10 triliun dalam keadaan kondisi keuangan pertamina yang memburuk, beban utang dan kewajiban yang membesar.

3. Pertamina bermasalah tumpahan minyak di blok ex British Petroleum di Karawang ONWJ dampaknya hingga kepulauan seribu diduga karena penerapan sistem grossppit sehingga perusahaan memaksakan peningkatan produksi tanpa perhitungan matang.

4. PLN bermasalah mati listrik sepulau Jawa selama sehari dan belum tau penyebab secara pasti. PLN kembali pada pemadaman bergilir dalam beberapa hari. Ada informasi pembangkit PLN di jakarta dan jabar banyak di matikan karena harga bahan bakar yang mahal. Keadaan anomali ditengah menurunnya harga energi primer pada tingkat global.

5. Bank mandiri bermasalah shutdown sistem dan data nasabah kacau, diduga jebol. Belum pulih benar sampai saat ini. Sejak lama bank bank BUMN menghadapi masalah keuangan yang buruk akibat perlambatan ekonomi.

6. BPJS bernasalah defisit hingga puluhan triliun dan tidak ada jalan keluarnya. Kenaikan iuran BPJS menjadi opsi yang paling lemah karena masalah utamanya ada pada sistem BPJS yang buruk.

7. Beberapa BUMN terancam bangkrut yakni PT Pos, PT Jiwasraya, asuransi Bumi Putera, PT Pos Indonesia dan PT Krakatau Steel. Belum tau berapa lagi yang akan menyusul dalam bulan ini.

8. Angkasa pura II terancam bangkrut akibat sepinya penerbangan dan bangkrutnya maskapai. Ditambah lagi direksinya ditangkap KPK. Belum ada yang bertanggung jawab atas serangkaian masalah di sektor penerbangan.

KEJADIAN DEMI KEJADIAN SECARA BERUNTUN DAPAT DISIMPULKAN BAHWA ADA PERISTIWA SERIUS YANG TENGAH BERLANGSUNG.

Padahal sebentar lagi presiden Jokowi akan dilantik sebagai presiden untuk masa jabatan lima tahun berikutnya. Sebuah pelantikan yang diharapkan akan menciptakan image baik tentang politik Indonesia yang makin kondusif bagi masuknya investasi modal untuk berbisnis di Indonesia. Namun menjelang detik detik pelantikan masalah datang bertubi tubi tanpa disangka sangka. Sementara elite sibuk berebut jabatan, rakyat hanya melongo. Cemas besok ada apa lagi. Sementara tragedi beruntun terjadi ;

1. Kabut asap mengepung Sumatera dan Kalimantan, jutaan orang menjadi korban penyakit akibat asap, bahkan ada yang meninggal. Belum jelas kapan kabut asap akan berakhir. Tidak ada jalan keluar atas masalah ini. Belum ada angka pasti mengenai jumlah korban jiwa.

2. Di papua serangkaian kerusuhan terjadi dengan berbagai motif dan spektruktrum pooitik dan sosial. Mulai dari kerusuhan menuntut kemerdekaan, anti pendatang atau anti imigran, dll. Sebanyak 32 orang meninggal dalam kerusuhan, pembakaran rumah rumah pendatang dalam tragedi wamena Papua. Belum jelas kapan kerusuhan akan berakhir. Ribuan orang memgungsi dan ratus ribu dalam ancaman ketakutan.

3. Demonstrasi di jakarta yang dilakukan oleh mahasiswa dan pelajar STM untuk menolak revisi UU KPK, menolak pelemahan lembaga pemberantasan korupsi, menolak pengesahan RUU KUHP dan lain lain. Selain itu demonstrasi ribuan buruh menolak revisi UU perburuhan dan mendesak pemerintah mencabut berbagai regulasi yang memberatkan buruh. Ribuan petani menolak revisi UU agraria, disertai kritik reformasi agraria pemerintah tidak membagi tanah 0 hektar sekalipun. Berbagi Demonstrasi telah menelan korban meninggal 2 mahasiswa Kendari, 1 warga jakarta (di jakarta belum jelas berapa yang meninggal). Pihak berwenang masih menutup masalah ini dari publik. Ribuan orang ditangkap dalam demosntrasi berhari hari di jakarta.

Ekonomi Indonesia diprediksi akan terus memburuk dalam tahun tahun mendatang yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang makin menurun dan menghadapkan indonesia pada anomali ;

1. Ketergantungan yang semakin besar pada barang impor, investasi asing, sementara defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan sebagai akibat investasi asing itu sendiri, dampaknya makin tidak terbendung.

2. Ketergantungan yang semakin besar pada utang, sementara kemampuan membayar utang pemerintah dan swasta memburuk. Kondisi paling sulit dihadapi oleh APBN.

3. Kebutuhan yang sangat besar untuk menaikkan berbagai jenis pajak dan pungutan yang bersifat memaksa, iuran dll, sementara pada saat yang sama kondisi dunia usaha memburuk dan pendapatan masyarakat atau daya beli masyarakat kian melemah. Saat ini rakyat justru butuh subsidi dalam rangka menopang pertumbuhan ekonomi.

4. Dengan ruang fiskal yang makin sempit, sumber keuangan eksternal dari utang juga tidak mudah di dapat, maka pemerintah dalam posisi mau tidak mau akan memangkas subsidi sektor publik, baik yang berkaitan dengan energi, transportasi, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya.

5. Penyitaan harta bermasalah hasil korupsi, kejahatan keuangan lainnya, melalui MLA tidak mengalami kemajuan. Indonesia belum menyita sedikitpun melalui MLA yang telah disepakati setahun lalu dengan Swis. Dalam hal ini pemerintah dapat dituduh sebagai pelindung penjahat keungan. Apalagi dengan ingin melaksanakan Tax amnesti jilid II, sebuah skema pengampunan penjahat keuangan dan memgembalikan harta ke tangan mereka. Tax amnesty akan dijadikan ajang cuci uang oleh penjahat keuangan global.

RESESI TELAH DATANG LEBIH CEPAT DI INDONESIA, KARENA BERHIMPIT DENGAN MASALAH EKONOMO INTERNAL YANG LEMAH, DAN KOMPLIKASI POLITIK YANG KERAS ANTARA AKTOR AKTOR GLOBAL DENGAN OLIGARKI KAPITALIS YANG MENJADI PENYANGGA EKONOMI INDONESIA. SULIT MEMPREDIKSI MAGNITUDO GUNCANGAN AKIBAT KOMPLIKASI INI. END GAME!

Penulis adalah pengamat ekonomi politik dan Peneliti senior dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI).(bh/mnd)


Share : |

 
Berita Terkait Resesi Ekonomi
Bulan-bulan yang Berat! Masalah Datang Beruntun! Resesi Datang Lebih Cepat!
Indonesia Dihantui Resesi, KPPU: Persaingan Usaha Akan Makin Kacau-Balau
Aviliani dan Kwik Kian Gie Bicara Apakah Indonesia Sudah Dalam Resesi Ekonomi?
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Buku Merah: Polisi 'Semestinya' Tindak Lanjuti Temuan Investigasi IndonesiaLeaks
Masjid di Afghanistan Dibom Saat Shalat Jumat, Sedikitnya 62 Orang Tewas
Akbar Tanjung Komentari Sikap Politik Gerindra dan Demokrat Merapat ke Kubu Jokowi
Sulli: Perempuan yang Berani Memberontak terhadap Dunia K-pop
Polda Gelar Doa Bersama untuk Situasi Kamtibmas di Gorontalo
Polda Gorontalo Gelar Apel Kesiapsiagaan Jelang Pelantikan Presiden Dan Wakil Presiden
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Buku Merah: Polisi 'Semestinya' Tindak Lanjuti Temuan Investigasi IndonesiaLeaks
BW: Sejarah Mencatat KPK Resmi 'Dihabisi' di Era Jokowi
BEM SI Kembali Gelar Aksi Siang Ini Mendesak Jokowi Terbitkan Perppu KPK
Mungkinkah Prabowo Akan Jadi Penghianat Istana?
Utang Luar Negeri RI Makin Bengkak, Naik Jadi Rp 5.553,5 Triliun
Jelang Pelantikan Presiden, DPR RI Berlakukan Sistem 'Clearance'
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]