Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Amien Rais
Buku Amien Rais, Hijrah: Selamat Tinggal Revolusi Mental, Selamat Datang Revolusi Moral
2019-01-13 08:54:28

Tampak Prof. Dr. H. Amien Rais saat acara peluncuran Bukunya berjudul, 'Hijrah: Selamat Tinggal Revolusi Mental, Selamat Datang Revolusi Moral' di Jalan Daksa, Jakarta Selatan, Jumat (11/1).(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais meluncurkan buku barunya yang berjudul 'Hijrah: Selamat Tinggal Revolusi Mental, Selamat Datang Revolusi Moral' di Jalan Daksa, Jakarta Selatan, Jumat (11/1).

Dalam buku ini tokoh politik senior di Indonesia Prof. Dr. H. Amien Rais secara lugas dan gamblang menuliskan Jokowi dengan program Nawacita dan Revolusi Mentalnya terbukti gagal dalam membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih kuat, lebih adil dan lebih makmur.

Bagi masyarakat apalagi kawulo alit, nawacita sudah berubah menjadi nawasengsara (hlm. 10). Dalam buku itu mengupas tentang Sengsara Sosial (kesenjangan makin lebar antara kelompok kaya dan kelompok miskin); Sengsara Ekonomi (Harga makin mahal dan ekonomi makin memburuk); Sengsara Hukum (hukum tumpul keatas tapi tajam ke bawah, pembubaran HTI tanpa peradilan yang diskriminatif, dsb) Sengsara HAM (pelanggar HAM di Aceh/ Papua semakin banyak); Sengsara Moral (kehidupan bangsa hampir tanpa rujukan moral) dan masih banyak lagi.

Amien Rais menyebutkan program Jokowi yang dinamakan revolusi mental mungkin terdengar begitu apik ditelinga masyarakat. Meski hingga saat ini Jokowi sendiri tidak pernah menguraikan apa yang dimaksud dengan revolusi mental tersebut. Masyarakat sendiri pun tidak benar-benar mengerti apa yang dimaksud dengan revolusi mental (hlm. 13). Revolusi mental hanya menjadi gerakan tanpa arah, kosong makna, hanya rangkaian slogan yang enak didengar dan pahit realitanya.

Amien Rais menulis, "Puluhan janji Jokowi haturkan ketika masa kampanye. Namun puluhan janji itu juga tidak ia tepati sampai menjadi presiden. Jokowi bahkan tidak pernah meminta maaf kepada rakyat Indonesia" (hlm. 24).

Untuk seorang pemimpin yang tidak punya wawasan moral, melakukan kebohongan untuk mencapai tujuan politik dianggap sebagai hal biasa. Bahkan pembangunan infrastruktur yang selama ini dibanggakan sebenarnya adalah kamuflase untuk memuluskan Jalan Sutra Cina/One Belt One Road lewat program Tol Laut, reklamasi, pelabuhan, bandara yang pada akhirnya hanya membuat Indonesia semakin terjerat hutang( debt trap)

Benar yang dikatakan Amien bahwa empat tahun terakhir ini justru berkembang luas budaya tipu-tipu, mengarah menjadi lying culture, budaya menipu, budaya pengibulan (hlm. 42).

Kita mungkin bisa merasakan sendiri, saat ini kita seperti hidup dijaman yang serba membingungkan, penuh musibah, jaman yang penuh kesulitan, jaman penuh kebohongan dan kepalsuan. Yang hitam dibuat seolah putih sementara yang putih dibuat hitam, kriminalisasi ulama, dan ketidaknetralan media terlalu mencolok mata. Media massa yang seharusnya menjadi Watch Dog (Anjing Pengawas) justru menjadi menjadi Guard Dog,anjing penjaga kepentingan penguasa (hlm. 69).

"Akibatnya masyarakat dibuat bingung, membedakan yang benar dan salah. Ranggawarsita menyebut ini Jaman Kalatidha (Jaman penuh keraguan), Amien Rais menyebutkan kekacauan ini hanya terjadi ketika bangsa ini kehilangan kompas moral."

Buku setebal 76 halaman ini ditulis berisi kritik Amien Rais terhadap revolusi mental yang digaungkan oleh Jokowi yang sebelumnya sangat apresiasi soal ide revolusi mental yang didorong oleh Jokowi. Akan tetapi, kata dia, belakangan ini penilaianya ternyata salah.

"Ide yang berasal dari presiden pertama Indonesia Soekarno itu tidak jelas arahnya setelah digaungkan oleh Jokowi," papar Amien.

Amien menuturkan, sewaktu masih mahasiswa tingkat awal, ia menyuruh untuk melakukan revolusi mental. Namun, revolusi mental Pak Jokowi itu memang tidak jelas.

"Tidak ada dokumen otentik mengenai, apa sih maksudnya? Pak Jokowi nggak punya otentik, kemudian tidak ada dokumen otoritatif dari pemerintah, cuman memang ada breakdownnya itu. Tapi, yang terjadi justru jauh dari konsepsi mental sebenarnya," papar Amien.

"Yang ada malah mental pecundang, orang malas itu mental pengemis, kalau orang yang sukses itu mental saudagar, mental pengusaha. Kemudian kalau ada followship mentality, mental pelanga pelongo mental pengikut," tuturnya.

Atas dasar itu, Amien menyebutkan, revolusi moral dibentuk untuk mengakhiri revolusi mental yang dicanangkan era Jokowi. Menurutnya, moral lebih memiliki arti mendalam daripada mental.

Lebih lanjut, Amien menuturkan, persoalan moral ini lah yang dinilainya belum banyak disentuh oleh pemerintahan Jokowi. Dia menilai, rezim saat ini belum punya arah untuk membentuk moral bangsa.

"Saya mohon maaf, setelah empat tahun mengikuti rezim Jokowi itu memang tidak punya kompas moral, tidak ada moral guidence. Jadi, enteng kalau orang tidak punya kompas moral itu berjanji sebanyak mungkin, itu tak apa-apa. Kemudian bohong pun tak apa-apakarena enggak punya kompas moral, kemudian jadi permissive," ucapnya.

Mental, menurut Amien, merupakan sebuah sikap yang muncul dari suasana batin kejiwaan seseorang. Sedangkan moral adalah kemampuan seseorang membedakan suatu hal yang baik dan buruk. Dia mengatakan rezim Jokowi tak punya penunjuk moral. Hal itu menurut Amien membuat pemerintahan Jokowi lemah.

"Lo ini saya justru mengakhiri revolusi mental. Pak Jokowi itu kan mental. Saya mengatakan bahwa rezim Jokowi ini tidak punya moral kompas. Tidak punya kompas paradigma atau penunjuk moral, sehingga sangat lemah," jelasnya.

Dia mengatakan isi bukunya juga berisi kutipan dari John Buchan, sejarawan dan novelis Skotlandia. Revolusi moral, menurut dia, lebih penting ketimbang revolusi mental.

"Yang dikatakan Buchan itu saya kutip, bedanya sama Jokowi, dia (Buchan) mengatakan revolusi moral atau persenjataan moral itu dibutuhkan lebih penting daripada persenjataan militer dan lain-lain," katanya.

Dia menilai bahwa apa yang disampaikan Buchan dirasa cocok dengan ajaran Islam, di mana akhlak adalah hal penting di dalam agama Islam. Amien mengatakan akhlak adalah mahkota umat Islam.

"Kebetulan omongan dia (Buchan) itu cocok dengan Islam, yaitu akhlak itu adalah yang paling penting di dalam agama Islam. Di atas ibadah-ibadah itu, akhlak adalah mahkota-mahkotanya, makanya saya mengatakan bahwa rezim Jokowi ini tidak punya moral kompas," papar Amien.

Kembali ke soal ketiadaan kompas moral, menurut Amien Rais, hal itu sangat mengganggu. Dia pun menyinggung budaya baru yang muncul di masyarakat. "Budaya tipu-tipu," sebutnya.

"Jadi ini yang betul-betul mengganggu saya. Bahwa there's something very, very, very wrong 4 tahun ini," imbuhnya.

Di akhir bukunya Amien Rais juga mengingatkan integritas moral KPU untuk menjaga fairness and transparancy (hlm. 65). Ibarat wasit yang memimpin pertandingan bola, jika berat sebelah, maka seluruh penonton di stadion bisa gaduh dan marah besar. Demikian pula TNI/Polri, harus tetap menjadi alat negara dan bukanya alat kepentingan pemerintah.

Bila penguasa sebuah bangsa sudah tuna moral, maka penguasa itu bisa menjadi permisif, kelihatan bodoh tetapi arogan, kelihatan bingung tetapi merasa benar sendiri (Solipsistik)

Tanpa kompas moral kita jadi manusia bingung, tidak mampu lagi kita membedakan benar dan salah, mana yang moral dan mana yang immoral. Kehilangan kompas moral itulah musibah yang menimpa rezim Jokowi sekarang dan sebaiknya harus segera ditinggalkan.(dbs/panjimas/des/jawapos/detik/bh/sya)


Share : |

 
Berita Terkait Amien Rais
Amien Rais Bersyukur Tabligh Akbar Alumni 212 di Solo Dihadiri Puluhan Ribu Massa
Buku Amien Rais, Hijrah: Selamat Tinggal Revolusi Mental, Selamat Datang Revolusi Moral
Fahri Hamzah: Kelompok Penyerang Amien Rais Bargaining dengan Penguasa
Amien Rais: Ikan Busuk dari Kepala, Negara Rusak dari Presiden
Amien Rais Sindir TGB, Ada Tokoh Keluar Jalan Allah
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Inilah Deretan Penghargaan Diraih Pemrov DKI Jakarta Dibawah Kepemimpinan Anies Baswedan
Ketum PP Muhammadiyah, Haedar: Ta'awun Merupakan Ajaran Inklusinya Agama Islam
Ratusan Orang Ikut Sandiaga Uno Berlari di Surabaya, Winarsih Curhat
51 TKA Asal Cina Tanpa Dokumen Lengkap Diusir dari Aceh
Fadli Zon Pamer Foto Ribuan Santri Madura, Simbol Pendukung Prabowo
MetroTV Mendapat Teguran Keras dari KPI
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Inilah Deretan Penghargaan Diraih Pemrov DKI Jakarta Dibawah Kepemimpinan Anies Baswedan
Ditlantas Polda Metro Jaya Gelar Acara Millennial Road Safety Festival 2019
LIPI: Ada 3 Provinsi di Indonesia Rawan Hoaks
Polri Siap Meluncurkan Gebrakan Milenial Road Safety Festival Guna Menekan Angka Kecelakaan
Kaku dan Kurang Menarik, Format Debat Pilpres Berikutnya Harus Dievaluasi
GARBI: Divestasi Freeport, Indonesia Diakali McMoran dan Rio Tinto?
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]