Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Cyber Crime    
 
Hoax
Awalnya Off the Record, Begini Cerita Kebohongan Ratna ke Fadli Zon
2018-10-06 06:38:29

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon saat Apa Kabar Indonesia Malam (5/10)
JAKARTA, Berita HUKUM - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menjelaskan kronologi pengakuan Ratna Sarumpaet soal penganiayaan yang dialaminya. Pengakuan itu bermula dari foto lebam yang dikirim Ratna.

"Dia mengirim foto ke saya, ke ajudan Prabowo, Said Iqbal, ditulis 'off the record' 21 September malam," ujar Fadli dalam diskusi 'Ancaman Hoax dan Keutuhan NKRI' di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (5/10).

Setelah menerima foto itu, Fadli mengaku langsung meminta konfirmasi kepada Ratna siapa sosok dengan wajah lebam tersebut. Ia menyatakan siap menunjukkan percakapannya dengan Ratna melalui WhatsApp.

"Saya sampai langsung bertanya, saya bisa tunjukkan WA saya sama RS (Ratna Sarumpaet) itu. Dan kalau misalnya ada yang menyadap, buka saja sadapannya WA, telepon saya. Saya langsung katakan itu siapa, karena saya nggak kenal. 'Itu aku' (jawaban Ratna)," katanya.

Membaca jawaban Ratna, Fadli kemudian langsung menghubunginya melalui sambungan telepon. Dalam percakapan itulah Ratna kemudian mengaku dianiaya.

"Langsung saya telepon. Loh, kenapa Bu Ratna? 'Saya dianiaya' (jawaban Ratna). Kapan terjadinya, terus kenapa baru sekarang? Kenapa nggak lapor polisi. 'Ah nanti saya ini dululah,'" ujar Fadli sembari menirukan percakapannya dengan Ratna.

Kemudian, pada 30 September 2018, Fadli menemui Ratna di kediaman eks jurkamnas Prabowo Subianto-Sandiaga Unoitu di Jalan Kampung Melayu, Tebet, Jakarta Selatan. Ia mendatangi rumah Ratna sekitar pukul 15.00 WIB setelah menghadiri penyambutan obor Asian Para Games di gedung DPR, Senayan.

"Di dalam antara lain saya mendengarkan kronologi yang diceritakan Bu RS. Saya anjurkan lapor ke polisi, buat visum, ini harus diungkap ke publik karena membahayakan. Saya lihat secara fisik lebam-lebam. Terus waktu sebelum saya ke luar dari rumahnya, dia bilang, 'Aku sangat down, saya nggak terima perlakuan negara ini kepada saya.' Itu kata dia," tutur Fadli.

Wakil Ketua DPR itu mengaku berulang kali meminta Ratna melapor ke polisi dan melakukan visum. Namun, kata Fadli, Ratna enggan kasus 'penganiayaan' itu menjadi konsumsi publik.

"Tiba-tiba Selasa pagi dan Senin malam banyak beredar foto-foto itu di WhatsApp. Saya nggak tahu dari mana beredarnya kabar RS dianiaya," ucapnya.

"Saya telepon waktu rapur (rapat paripurna DPR), karena ramai yang telepon saya. Saya tanya Bu Ratna ini foto sudah beredar sudah ada beritanya, bagaimana ini saya harus menjelaskan dan bagaimana ini saya harus menjawab. Kita nggak bisa mendiamkan ini, jadi akhirnya dia bilang, 'silakanlah,'" imbuh Fadli.

Kemudian, drama tersebut menjadi 'bola salju'. Fadli mengatakan Ratna kemudian meminta bertemu dengan capres nomor urut 02 sekaligus Ketum Gerindra, Prabowo Subianto, dan tokoh lainnya, seperti Amien Rais dan Said Iqbal.

"Dan menceritakan kembali apa yang terjadi kurang-lebih dengan cerita yang sama. Dan tentu Pak Prabowo merasa terusik. Pak Prabowo ini orang yang selalu berusaha membela kalau ada yang meminta bantuan apa lagi," ungkap Fadli.

Fadli mengatakan ia bersama Prabowo dan tim pemenangannya pun percaya, mengingat Ratna memiliki reputasi yang baik di matanya. Tak sedikit pun mereka buruk sangka terhadap pengakuan tersebut.

Menurut Fadli, Prabowo juga terus-menerus meminta Ratna melapor ke polisi agar kasus 'penganiayaan' tersebut menjadi terang benderang.

"Oleh karena itu, Pak Prabowo kemudian mengambil konferensi pers dan menyampaikan ini. Bahwa ini suatu tindakan yang ini kan mengirim message kalau ini tindakan yang benar terjadi kita kan tidak tahu. Ini bukan suatu skenario yang kita tahu. Kita tidak tahu bahwa ini sebuah kebohongan dan setelah itu Pak Prabowo menulis surat untuk Kapolri untuk meminta waktu dan meminta ini diselidiki, minta waktu untuk ketemu dan untuk menyelidiki ini," beber Fadli.

Fadli pun mengaku pihaknya tak menyangka pengakuan Ratna tersebut ternyata hanya sebuah kebohongan semata. Jadi pihaknya pun disebut terseret dalam drama kebohongan itu.

"Kita kalahlah, aktingnya dahsyat sekali. Nah tinggal ditelusuriaja di belakang ini apa. Saya setuju polisi selidiki aja. Apa motifnya, yang transparan semua, jelas," pungkasnya.

Lihat Video YouTube Kotak Pandora Drama Ratna || Apa Kabar Indonesia Malam (5/10) di TvOne Klik disini.(elz/fjp/detik/bh/sya)

Share : |

 
Berita Terkait Hoax
Boni Hargens: Politik Indonesia Sudah Masuk era 'Post-Truth Society'
Siarkan Berita Hoax Prabowo Kampanye di Padang, Andre Rosiade Akan Laporkan Metro TV ke Dewan Pers
Arief Poyuono: Pertengkaran dan Adu Domba Dirinya di Twitter dengan Ferdinan Hutahaean Adalah Hoax
FSP LEM SPSI DKI Jakarta Deklarasikan Pemilu Damai Tanpa Hoax
Khilafatul Muslimin Dukung Pemilu 2019 Damai Tanpa Hoaks
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Pengamat: Rusuh 22 Mei Diharapkan Jadi Momen Perubahan Budaya Politik
Ini Tanggapan Presidium Alumni 212 Soal People Power dan Rusuh di Bawaslu
Pemprov DKI Jakarta Gelar Lomba Foto dan Vlog
AJI: Kekerasan terhadap 20 Jurnalis Saat Aksi 22 Mei Harus Diusut
Sandiaga Uno: Sulit Mengakui Pemilu 2019 Ini Jurdil
Brexit: PM Inggris Theresa May akan Mundur karena Tak Mampu Bawa Inggris Keluar dari Uni Eropa
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Sandiaga Uno: Sulit Mengakui Pemilu 2019 Ini Jurdil
AJI: Ada 7 Jurnalis Menjadi Korban Saat Meliput Aksi Demo 22 Mei
Pemerhati Hukum Siber: Pembatasan Akses Media Sosial Adalah Kebijakan Yang Aneh
Mengapa Situng Baru 92 %, KPU Tiba-Tiba Menyahkan Rekapitulasi Pilpres?
Pesan Aksi Damai, Prabowo: Kami Ingin Menegakkan Kebenaran dan Keadilan
Potret Pemilu 2019, LKPI: Ada 72,8 Persen Mengatakan Ada Banyak Kecurangan
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]