Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Arab Saudi
Arab Saudi Usulkan Rencana Perdamaian untuk Mengakhiri Perang Saudara Selama Hampir 6 Tahun
2021-03-25 05:59:41

Sanaa, kota yang berada di bawah kendali kelompok Houthi, telah menjadi sasaran serangan Houthi.(Foto: REUTERS)
ARAB SAUDI, Berita HUKUM - Arab Saudi mengajukan rencana perdamaian baru untuk mengakhiri peperangan di Yaman, yang telah berlangsung selama hampir enam tahun.

Rencana itu mengusulkan gencatan senjata yang diawasi PBB antara pemerintah Yaman, yang disokong Saudi, dan pemberontak Houthi, yang didukung oleh Iran.

Rencana Saudi juga meliputi pembukaan kembali hubungan udara dan laut yang vital, serta dimulainya negosiasi politik.

Pemberontak Houthi mengatakan tawaran tersebut tampaknya tidak sampai mengangkat blokade udara dan laut yang saat ini berlaku.

Usulan tersebut diumumkan di ibu kota Saudi, Riyadh, oleh Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan. Dia meminta kelompok Houthi, yang menguasai sebagian besar Yaman, untuk menerimanya.

Dia mengatakan gencatan senjata akan mulai berlaku segera setelah Houthi menerimanya.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyambut baik tawaran tersebut, namun kelompok Houthi mengatakan inisiatif itu tidak menawarkan "hal baru", dan gagal memenuhi permintaan mereka untuk mencabut sepenuhnya blokade di bandara di ibu kota, Sanaa, serta pelabuhan Hudaydah di bagian barat.

"Kami berharap Arab Saudi akan mengumumkan akhir dari blokade pelabuhan dan bandara serta inisiatif untuk mengizinkan 14 kapal yang ditahan oleh koalisi," kata ketua juru runding Houthi, Muhammad Abdulsalam kepada kantor berita Reuters.

Kelompok itu akan terus berbicara dengan Saudi, AS, dan Oman selaku mediator untuk kesepakatan damai, katanya.

Para pejabat Saudi mengatakan mereka sedang mengoordinasikan langkah-langkah mereka dengan PBB dan Amerika Serikat, yang juga meningkatkan upaya untuk mengakhiri konflik yang telah menciptakan krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Baru beberapa hari yang lalu, Houthi menolak rencana AS untuk gencatan senjata nasional.

Tawaran Saudi bertepatan dengan peningkatan serangan dron dan rudal oleh pemberontak Houthi terhadap infrastruktur energi dan keamanan Saudi.

Pasukan koalisi pimpinan Saudi juga kembali melancarkan serangan pengeboman terhadap kota Sanaa, yang berada di bawah kendali Houthi.

Banyak rencana perdamaian sebelumnya untuk Yaman gagal, termasuk gencatan senjata Saudi tahun lalu. Tetapi kerajaan itu sekarang menawarkan beberapa konsesi yang sudah lama diminta oleh Houthi, termasuk pembukaan bandara internasional di Sanaa, yang saat ini di bawah kendali Houthi, meskipun koalisi yang dipimpin Saudi masih mengontrol wilayah udara.

Jika pihak yang bertikai sepakat untuk gencatan senjata, PBB akan mengawasi, dan langkah itu akan membantu membuka jalan untuk perundingan damai.

Kedua belah pihak masih berjauhan, tetapi ini adalah upaya paling terpadu untuk berusaha menyatukan mereka, kata kepala koresponden internasional BBC Lyse Doucet.

Konflik dimulai pada akhir 2014, ketika pemberontak menguasai sebagian besar bagian barat negara itu dan koalisi negara-negara Arab yang dipimpin Saudi melancarkan operasi militer untuk memulihkan pemerintahan Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi.

Map







1px transparent line


Riyadh memimpin koalisi militer ke negara itu pada 2015 untuk menopang pemerintah yang diakui secara internasional, tetapi mereka kesulitan untuk menggulingkan pemberontak.

Sekitar 20 juta orang - dua pertiga dari populasi Yaman - bergantung pada bantuan kemanusiaan. Sekitar dua juta anak mengalami kekurangan gizi akut.

Selain konflik, Yaman telah mengalami keruntuhan sistem kesehatan, membuatnya tidak mampu mengatasi pandemi virus korona.(BBC/bh/sya)


 
Berita Terkait Arab Saudi
 
Beredar Foto Pegunungan di Mekkah Arab Saudi Menghijau, Benarkah Tanda-Tanda Kiamat Sudah Dekat?
 
Saudi: Alasan OPEC+ Kurangi Produksi Minyak karena Ekonomi
 
Uni Emirat Arab Sulut Konflik dengan Arab Saudi Soal Kuota Minyak
 
Arab Saudi Usulkan Rencana Perdamaian untuk Mengakhiri Perang Saudara Selama Hampir 6 Tahun
 
Raja Salman Pecat Anggota Keluarga Kerajaan dari Kementerian Pertahanan
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Ketua BEM FH UBK mengaku terima uang Rp20 juta usai demo bertemu Gibran, ini rincian aliran dananya
Heboh dugaan suap ketua BEM FH UBK jadi tanda wapres menunggangi demonstrasi mahasiswa
Korupsi BGN, Kejagung tolak permohonan justice collaborator Sony Sanjaya
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Viral...Ketua dan Pengurus BEM UBK Akui Terima Sogokan Aksi Demonstrasi, Ada Disebut dari "Kapolda"
Perolehan Gelar Doktor Kilat Kakorlantas Polri Jadi Sorotan Akademis.?
KPK Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di BRI dan Telkom terkait Pengadaan Layanan Notifikasi Perbankan
Dirut Pengembang Emeralda Resort Dipolisikan, Diduga Tipu Konsumen hingga Rp 117 Miliar
Silmy Karim Ditetapkan Tersangka KPK dan Disebut Terima Jatah Pemerasan Urus Izin Tinggal WNA Rp 100 Juta Tiap Minggu
Wamen Imipas Silmy Karim Dicari KPK Usai OTT KaKanim Jakarta Barat
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]