Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Legislatif    
 
IMF
Anggaran Pertemuan IMF-WB Lebih dari Rp 1,1 Triliun Sebaiknya untuk Bencana Alam
2018-10-03 07:20:59

Annual Meeting International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB) yang menggelontorkan dana triliunan rupiah dari APBN dinilai tidak tepat.(Foto: twitter)
JAKARTA, Berita HUKUM - Anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk pertemuan tahunan (annual meeting) International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB) pada 8-14 Oktober mendatang di Bali sangat fantastis, lebih dari Rp 1,1 triliun. Bahkan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan dana untuk mendukung pertemuan IMF-WB 2018 mencapai Rp 6,9 triliun.

Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan mengatakan, sangat tidak tepat menggelontorkan anggaran sebesar itu untuk pertemuan dua lembaga keuangan dunia. Anggaran sebesar itu sebaiknya diberikan untuk penanganan bencana gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) serta Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah.

"Kami melihat anggaran yang dialokasikan untuk Annual Meeting IMF-World Bank, sebenarnya akan jauh lebih bermanfaat jika dialihkan untuk hal yang saat ini lebih prioritas. Seperti rehabilitasi Lombok, Palu, Donggala, atau hal-hal lain yang baik bagi masyarakat secara langsung," kata Heri dalam rilisnya kepada Parlementaria, Selasa (2/10).

Selain acara tersebut dihelat di tengah suasana ekonomi yang memprihatinkan, juga tidak akan ada dampak positif yang betul-betul strategis bagi Indonesia. Sementara Bappenas berkeyakinan, pertemuan tersebut akan menyerap 18.000 wisatawan (hanya meningkat 0,3 persen), yang diklaim mendatangkan manfaat sebesar Rp 5,9 trilliun terhadap perekonomian Bali. Namun, Heri mengkritik obsesi Bappenas itu dengan mengatakan, sebagian besar pemilik hotel dan restoran di Bali adalah orang-orang asing.

Orang Indonesia justru hanya berperan sebagai pelayan, koki, dan sebagainya. Bukan pemilik hotel dan restoran. Dampak yang akan muncul bagi perekonomian lokal seperti yang pemerintah kampanyekan, patut dipertanyakan. Selama ini, resep yang selalu diberikan IMF kepada negara-negara yang menjadi pasiennya juga sangat textbook dan bersifat generic, seperti menaikkan suku bunga acuan, mencabut subsidi yang membebani keuangan negara, dan merestrukturisasi perbankan.

IMF, nilai Heri, tidak memperhatikan secara saksama seluk-beluk dualisme ekonomi yang melekat pada perekonomian Indonesia. Sejarah kemudian mencatat, kemerosotan ekonomi Indonesia berimbas pada turbulensi politik hingga kejatuhan rezim. "Sejak itu, masyarakat memiliki kesan yang kurang baik terhadap sepak terjang IMF. Mereka dipandang liberal, mengagungkan mekanisme pasar, dan menafikkan peran negara dalam urusan kesejahteraan sosial," ucapnya.

Anggota F-Gerindra DPR RI ini mengingatkan, restrukturisasi yang kini tengah digeber IMF tidak serta merta mengubah citra bagi negara berkembang yang dulu pernah jadi pasien IMF. Pembahasan perang dagang yang dikibarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada rival utamanya Cina, diperkirakan mendominasi pertemuan ini.

Sistem perdagangan global yang saat ini berkembang sangat mengganggu pertumbuhan ekonomi global dan membuat konsumen lebih miskin karena mahalnya harga yang harus dibayar. "Jika demikian halnya, Christine Lagarde akan bersedekap terenyuh menyaksikan penyesalan mendalam seluruh elemen bangsa. Lalu, apa yang bisa diharapkan dari pertemuan yang berlangsung nanti?" imbuh Heri, penuh tanda tanya.(mh/sf/DPR/bh/sya)

Share : |

 
Berita Terkait IMF
SBY Harapkan Rakyat Rasakan Manfaat 'IMF - World Bank Annual Meeting' di Bali
Tiga Catatan Gerindra Sebut Penyelenggaraan Annual Meeting IMF Tak Pantas Dilemparkan ke Pemerintahan SBY
Membantah Pernyataan Jokowi, Heri: Anggaran Pertemuan IMF-WB Bukan Untuk Perluasan Apron
Akan Jumpa Pers, Prabowo Minta Pertemuan IMF-World Bank Ditunda
Anggaran Pertemuan IMF-WB Lebih dari Rp 1,1 Triliun Sebaiknya untuk Bencana Alam
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Tiga Jurkam Capres No Urut 01 Jokowi - Ma'ruf Amin Ditangkap KPK, Prihatin dan Ironis
Gerindra Minta Pemerintah Setop Klaim Divestasi Saham Freeport
Komisi VII Sesalkan Dampak Lingkungan PLTU PT Indo Bharat Rayon
Tim Pemenangan DPW Partai Berkarya DKI Jakarta Beri Motivasi Kader dan Caleg DPD untuk Serap Aspirasi Warga
BPJS Kesehatan Defisit Anggaran Sudah Kewajiban Presiden Mengkoordisanikan Para Pembantunya, Jangan Cuci Tangan
Bukti Persidangan Kasus Korupsi di Bakamla, Tersangka Mengaku Dikenalkan Keluarga Jokowi
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Gerindra Minta Pemerintah Setop Klaim Divestasi Saham Freeport
Belum Ada Se-Rupiah pun Pembayaran Pembelian Saham PT Freeport
Sukseskan Pemilu Damai 2019, PB HMI: Strategi Jitu Tangkal Isu Hoax, Intoleransi dan Radikalisme
Ini Do'a Titiek Soeharto untuk Ulang Tahun Prabowo Subianto
Buruh Minta Atensi Kapolri Usut Tuntas Dugaan Keterangan Palsu Putusan Pailit CV 369 Tobacco
Hutang Luar Negeri RI Terus Naik Menjadi Rp5.410,50 Triliun
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]