Pertanyaan seperti ini pula yang diajukan para psikolog ketika memulai konsultasi dengan para klien. Secara naluriah kita juga mengajukan pertanyaan" /> BeritaHUKUM.com - Aktivitas di Facebook Bisa Mengungkap Kondisi Kejiwaan Kita

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Gaya Hidup    
 
Media Sosial Facebook
Aktivitas di Facebook Bisa Mengungkap Kondisi Kejiwaan Kita
2016-10-30 09:25:45

Status, foto, catatan, dan apa yang kita bagi di media sosial 'adalah cermin suasana hati atau kondisi mental kita'.(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - "Apa yang ada dalam pikiran Anda?" demikian Facebook menyapa kepada para penggunanya yang berjumlah tak kurang dari 1,7 miliar.

Pertanyaan seperti ini pula yang diajukan para psikolog ketika memulai konsultasi dengan para klien. Secara naluriah kita juga mengajukan pertanyaan serupa kepada kawan atau anggota keluarga yang sepertinya sedang memiliki masalah.

Kegiatan kita di media sosial bisa mengungkap kondisi kejiwaan dan tak mengherankan jika para ahli sekarang juga mencermati status, catatan, dan bahkan apa saja yang kita bagikan di media sosial untuk menganalisis kondisi mental kita.<

Kajian terhadap 555 pengguna Facebook di Amerika Serikat menunjukkan orang-orang yang ekstrover cenderung menulis pesan atau mengunggah hal-hal yang terkait aktivitas sosial dan kehidupan sehari-hari dan mereka ini melakukannya relatif sering.

Orang-orang yang punya kepercayaan diri yang rendah biasanya mem-posting pacar atau pasangan yang romantis, sementara yang terkena narsisime lebih sering memamerkan keberhasilan mereka.

Atau memamerkan diet atau kegiatan mereka untuk menurunkan berat badan.

Kajian lain memperlihatkan orang-orang yang banyak mengunggah selfie biasanya lebih narsisistik dan psikopatik dan mereka yang memoles foto secara digital boleh jadi punya kepercayaan diri yang rendah.

Media sosial sebagai terapi?

Pernah marah-marah dan melampiaskan emosi di Facebook atau Twitter dengan harapan tindakan ini bisa meredakan suasana hati?

Mungkin Anda mengira mengeluarkan kemarahan di media sosial akan membantu menenangkan kondisi mental, namun para ahli di Meksiko memperingatkan media sosial bukan terapi atas persoalan kejiwaan.

TwitterImage copyrightREUTERS
Image captionPara ahli memantau twit untuk mengetahui para pengguna yang mungkin akan melalukan bunuh diri.

Artinya, Anda harus memikirkan kemungkinan bahwa marah-marah di Facebook atau Twitter mungkin saja akan membuat suasana hati Anda lebih parah lagi.

Tapi marah-marah di media sosial juga punya sisi positif.

Para peneliti di Australia menelusuri cuitan untuk 'memindai orang-orang yang berisiko' melakukan bunuh diri, seperti yang dilakukan akademisi Helen Christensen.

Ia dan timnya -dengan menggunakan program khusus- memantau twit dan menggolongkan cuitan mana saja yang memerlukan perhatian khusus, misalnya dengan memberitahukan risiko bunuh diri kepada keluarga, dokter, atau psikolog.

Di internet juga sudah banyak muncul komunitas online yang memantau posting yang dinilai mengisyaratkan kemungkinan seseorang melakukan bunuh diri dan komunitas ini kemudian menawarkan bantuan kepada yang bersangkutan.

Para peneliti tidak hanya memantau aktivitas di media sosial, bahkan ketika tiba-tiba ada yang 'menghilang dari jagad media sosial' para ahli bisa menyimpulkan bahwa seseorang sedang atau tengah mengalami depresi.

Senang dan sedih

Hal lain yang dilakukan para pakar adalah mengukur kebahagiaan dengan memantau twit berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris, Prancis, Arab, dan bahasa Indonesia.

Ini dilakukan oleh tim peneliti yang tergabung di Hedonometer Project yang menggunakan aneka teks dari Twitter, surat kabar, Google Books, dan bahkan judul film untuk mendapatkan suasana hati pemakai media sosial.

Mereka mengumpulkan 10.000 kata yang paling banyak dipakai dan kemudian menilai tiap kata berdasarkan skala positif-negatif.

Tim di proyek tersebut sekarang memakai pendekatan ini untuk menganalisis tingkat kebahagiaan pengguna Twitter. Mereka juga menganalisis bagaimana kebahagiaan atau kepuasaan terkait dengan faktor lain seperti status sosial ekonomi, geografi, dan demografi.

Jadi, apa yang kita baca dan bagikan di media sosial -tanpa kita sadari- sebenarnya adalah pintu masuk tentang apa yang sebenarnya ada di dalam hati dan benak kita.(BBC/bh/sya)



 
Berita Terkait Media Sosial Facebook
 
Wahh, Facebook Ratings 'Jeblok' dan Terancam Didepak dari Play Store
 
Bocor Lagi, 533 Juta Nomor Ponsel dan Informasi Data Pengguna Facebook Dicuri
 
Facebook Didenda Rp70 Triliun terkait Pelanggaran Privasi Data
 
Jelang Hari Pencoblosan, Facebook Luncurkan Fitur Info Kandidat Pemilu 2019
 
AS Gugat Facebook Gara-gara Skandal Cambridge Analytica
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Diminta AS mengakui Israel, begini sikap tegas Pakistan
PDIP persilakan Jokowi keliling Indonesia: Tunjukkan ijazah asli!
4 WNA asal China Ditangkap Terkait Dugaan Tambang Ilegal di Papua
KPK Tangkap 1.880 Pelaku Korupsi Selama 22 Tahun Berdiri
Gedung 13 Lantai RS Roemani Resmi Berdiri, Muhammadiyah Dobrak Mitos Angka Horor!
Prabowo sentil 'Hijau-Cokelat' jadi beking pelanggar hukum
Untitled Document

  Berita Utama >
   
4 WNA asal China Ditangkap Terkait Dugaan Tambang Ilegal di Papua
Prabowo sentil 'Hijau-Cokelat' jadi beking pelanggar hukum
Pidato Presiden Tunjukkan Komitmen Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi
Aliansi PHPI Sorot Kinerja Polda Metro, Proses Hukum Kasus Pelecehan Seksual 3 Wanita Tak Kunjung Tuntas
Polri Amankan 321 WNA Operator Judi Online Scam Jaringan Internasional di Kawasan Hayam Wuruk
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]