Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Cyber Crime    
 
Hoax
Abu Janda (Permadi Arya) dan Ratusan Akun Saracen Penyebar Hoax di Hapus Facebook
2019-02-10 04:12:46

JAKARTA, Berita HUKUM - Arya Permadi alias Abu Janda dan ratusan akun daftar jaringan Saracen atau penyebar berita bohong/ hoax dihapus oleh Facebook, karena akun-akun tersebut dianggap melakukan perilaku tidak wajar di situsnya.

Arya telah melayangkan somasi kepada pihak Facebook dan juga mengancam akan menggugat Facebook secara perdata. Ancaman gugatan yang akan dilayangkan senilai Rp 1 triliun. Dia meminta Facebook mengklarifikasi perkara ini dalam batas waktu 4x24 jam.

Dalam keterangannya pada tanggal 31 Januari, Facebook mengumumkan penghapusan ratusan akun yang ternyata termasuk milik Abu Janda. Ratusan akun Instagram juga mereka blokir. Berikut ini alasan lengkap mereka.

"Hari ini, kami menghapus 207 Facebook Pages, 800 akun Facebook, 546 Facebook Groups dan 208 akun Instagram, karena terlibat perilaku terkoordinasi tidak otentik di Facebook di Indonesia, menyesatkan yang lain tentang siapa mereka dan apa yang mereka lakukan," sebut Nathaniel Gleicher, Head of Cybersecurity Policy Facebook.

"Semua halaman, akun dan grup itu berhubungan dengan grup Saracen, sindikat online di Indonesia. Penyalahgunaan terkoordinasi grup Saracen di platform menggunakan akun tidak otentik adalah pelanggaran kebijakan kami dan kami pun melarang seluruh organisasi itu," tutur Nathaniel.

Berikut temuan Facebook tersebut yang dipaparkan Nathaniel:

- Jumlah di Facebook dan Instagram: 207 Pages, 800 akun, dan 546 Groups di Facebook, juga 208 akun Instagram

- Follower: Sekitar 170.000 orang mengikuti sedikitnya satu dari halaman Facebook itu, dan lebih dari 65.000 mengikuti setidaknya satu dari akun Instagram itu.

- Contoh Pages and Groups yang dihapus sebagai bagian dari jaringan ini: Permadi Arya (Page), Kata Warga (Page), Darknet ID (Page), berita hari ini (Group), ac milan indo (Group).

"Kami menurunkan halaman, grup dan akun itu berdasarkan behavior, bukan konten yang mereka posting. Dalam kasus ini, orang di balik aktivitas ini berkoordinasi satu sama lain dan menggunakan akun palsu untuk menggambarkan diri mereka dan itulah dasar aksi kami," jelas Nathaniel.

"Kami secara konstan bekerja untuk mendeteksi dan menghentikan tipe aktivitas ini karena kami tidak ingin layanan kami dipakai untuk memanipulasi orang. Pengumuman hari ini hanyalah satu dari berbagai langkah yang kami ambil untuk mencegah penyalahgunaan platform. Kami akan terus berinvestasi besar dalam rangka memastikan orang bisa terus percaya dengan koneksi yang mereka buat di Facebook," pungkas Nathaniel.

Taking Down Coordinated Inauthentic Behavior in Indonesia:
https://newsroom.fb.com/news/2019/01/taking-down-coordinated-inauthentic-behavior-in-indonesia/

Sementara, Pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda yang sebelumnya dikenal sebagai pendukung Basuki Tjahaja Purnama atay Ahok dan kini sebagai pendukung Joko Widodo (Jokowi) Capres patahana pada Pilpres 2019 mendatang melayangkan surat somasi Rp1 triliun kepada CEO dan pendiri Facebook Mark Zuckerberg atas tuduhan dirinya termasuk produsen fitnah Saracen.

Hal itu dilakukan Abu Janda yang didampingi lebih dari 10 kuasa hukum dari FMP Law Firm saat mendatangi perwakilan kantor Facebook di kawasan Gatot Subroto.

"Alasan saya karena katanya menurut temuan mereka, Page Abu Janda followers-nya 500 ribu bagian dari Saracen dan nama saya disebut jelas," kata Arya di Capital Place, Jakarta, Jumat (8/2).

Arya menyatakan somasi dilayangkan karena dirinya tak terima dituduh menjadi bagian Saracen penyebar berita bohong atau hoax. Somasi ditegaskan tak semata-mata karena akun Facebooknya ditutup.

"Ini kami kasih waktu empat hari buat Facebook membersihkan nama saya dan mengembalikan akun saya yang di-banned. Kalau dalam empat hari tidak dibuat clear, serius kami akan gugat ke pengadilan materiil dan Kepolisian soal UU ITE," tuturnya.(dbs/detik/cnn/bh/sya)

.

Share : |

 
Berita Terkait Hoax
Boni Hargens: Politik Indonesia Sudah Masuk era 'Post-Truth Society'
Siarkan Berita Hoax Prabowo Kampanye di Padang, Andre Rosiade Akan Laporkan Metro TV ke Dewan Pers
Arief Poyuono: Pertengkaran dan Adu Domba Dirinya di Twitter dengan Ferdinan Hutahaean Adalah Hoax
FSP LEM SPSI DKI Jakarta Deklarasikan Pemilu Damai Tanpa Hoax
Khilafatul Muslimin Dukung Pemilu 2019 Damai Tanpa Hoaks
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Kornas Anak Republik Berharap Capres Jokowi dan Prabowo Bertemu Langsung Tanpa Utusan
Muffest 2019, Gaungkan Identitas Busana Muslim Indonesia
Ini Kata KPK Soal Pengakuan Tersangka Bowo Terima Uang dari Mendag Enggartiasto
Caleg PDIP Jadi Tersangka Pembakaran Kotak Suara di Jambi
Sembuh, Sandiaga Perintahkan Semua Pendukung Kawal C1
Data C1 Tak Seluruhnya Benar, C Plano Adalah Kunci
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Ini Kata KPK Soal Pengakuan Tersangka Bowo Terima Uang dari Mendag Enggartiasto
Data C1 Tak Seluruhnya Benar, C Plano Adalah Kunci
Cegah Konflik Usai Pemilu, MUI Keluarkan Tausiyah Kebangsaan
DKPP Mesti Periksa Komisioner KPU Yang Coba Curangi Perhitungan Suara Pilpres
Sebut Ada Kecurangan Massif, Fahri Hamzah: Kita Harus Serius dan Bersatu
Prabowo: Saya Akan Jadi Presiden Untuk Semua Rakyat, Termasuk Pendukung Jokowi
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]