Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Opini Hukum    
 
Zakat
Zakat dan Keamanan Sosial
Sunday 24 Mar 2013 03:13:20

Ilustrasi
Zakat adalah salah satu dari pilar Islam. Tingkat kepentingannya selalu bersandingan dengan shalat, yaitu ibadah yang pertama kali diperhitungkan di hari perhitungan bagi seorang Muslim. Lebih dari pada itu, karena sangat tingginya derajat Zakat di dalam Islam, maka Khalifah Abu Bakar RA, khalifah pertama dalam sejarah Islam, sampai memerintahkan untuk memerangi siapa saja yang menolak membayar zakat.

Kalo kita cermati, diantara rukun Islam yang lima, kesemuanya mengindikasikan bentuk ibadah yang memerlukan pengorbanan dari anggota tubuh kecuali zakat. Sholat, puasa, dan ibadah haji memerlukan pengorbanan fisik kita dalam berbuat, tetapi zakat memerlukan pengorbanan mental dari seorang Muslim. Ibadah zakat adalah murni pengorbanan harta dari seorang dan memerlukan kekuatan rasa ikhlas yang luar biasa, untuk membuktikan dirinya bahwa ia adalah seorang Muslim. Karena tidak sempurna ke-Islam-an seseorang sebelum ia: (i) Mengucapkan 2 kalimat syahadat, (ii) Mendirikan shalat, (iii) Membayar zakat, (iv) Berpuasa di bulan ramadhan, dan (v) Berhaji. Untuk berhaji memiliki catatan jika telah mampu melaksanakannya.

Sekali lagi jika kita perhatikan dan renungkan, dari ke-5 rukun islam tersebut, hanya zakat-lah yang tidak hanya berhubungan dengan Allah tetapi juga kepada sesama manusia. Sehingga jika kita menolak untuk membayar zakat, maka sesungguhnya kita telah melakukan 2 jenis kejahatan, yaitu: pertama, kejahatan kepada Tuhan yang telah memerintahkan berzakat namun kita tolak, dan kedua, kejahatan kepada orang-orang yang memiliki hak dari sebagian harta yang kita miliki, yang boleh jadi mereka itu sedang menanti-nanti hak mereka dari harta yang kita miliki. Padahal, bagi seorang Muslim, dia harus meyakini bahwa di antara harta yang dimilikinya, terdapat hak-hak orang lain yang memerlukan (QS. 70: 24-25), dan Tuhan telah melarang kekayaan yang ada di bumi ini hanya berputar di kalangan tertentu saja (QS. 59: 7; 2: 29).

Oleh karena itu, seorang Muslim harus berhati-hati dalam urusan zakatnya. Hal ini disebabkan dampak besar yang timbul jika lalai dalam membayarkan zakat. Dampak besar itu adalah terpeliharanya kemiskinan dimana-mana, yang efek multiplier-nya adalah tindak kriminalitas meningkat, tingkat kesehatan menurun, dan munculnya berbagai macam jenis penyakit baru dalam masyarakat. Perlu diingatkan kembali bahwa hak orang miskin atas harta kita bukan diberikan oleh pemerintah atau lembaga zakat manapun, melainkan itu adalah diberikan oleh Tuhan manusia.

Keamanan Sosial

Korban pertama atas penolakan seorang Muslim, yang masuk dalam kategori muzakki, dalam membayar zakatnya adalah orang-orang miskin dan yang membutuhkan. Setelah itu adalah mereka yang terjerat hutang berbasis riba, baik untuk memenuhi keperluan dasar harian mereka ataupun untuk modal usaha kecil-kecilan seperti jualan goring-gorengan dan sebagainya, disebabkan hak-hak mereka ditahan dengan kesadaran muzaki tersebut. Pantaslah jika Tuhan memberikan teguran berkali-kali kepada masyarakat yang enggan mengeluarkan zakat yang diwajibkan atas harta mereka.

Pengaruh zakat pada masyarakat dapat bermacam-macam. Pengaruhnya yang pertama adalah perasaan aman bagi kaum fakir dan miskin. Kedua, zakat dapat menghilangkan kesenjangan yang ada antara si kaya dan si miskin. Zakat dapat membentuk keterpautan hati dan perasaan antara kedua golongan ini, sehingga akan tumbuh rasa saling ber-empati diantar keduanya. Ini adalah pengaruh yang ketiga. Keempat, menumbuhkan perasaan yakin dan percaya atas karunia Allah dalam dada si miskin serta perasaan tunduk kepada perintah Allah dalam dada si kaya. Kelima, zakat dapat membantu kemandirian ekonomi suatu Negara.

Dan yang paling membahagiakan adalah ketika zakat mampu membuat seluruh masyarakat memiliki rasa persaudaraan yang tinggi serta kesadaran bahwa pembangunan ekonomi bangsa beserta proses kontrolnya harus dilakukan secara bersama-sama. Semua ini dapat terwujud ketika zakat telah dibayarkan oleh seluruh muzakki secara suka rela tanpa paksaan. Karena berbeda dengan pajak yang dipaksakan terhadap manusia oleh sesama manusia, perintah membayar zakat dipaksakan atas mereka oleh Tuhan mereka, sehingga perasaan beribadah turut melekat di dalamnya ketika mereka menyadari bahwa mereka sedang membangun Negara dengan jalan membantu meningkatkan konsumsi saudara-saudara mereka yang kurang beruntung.

Perasaan ikut serta dan ikut berkontribusi dalam proses pembangunan Negara ini menjadi aura positif dalam hidup bermasyarakat. Disinilah akan tercipta komitmen bersama dari masyarakat untuk menciptakan kemanan sosial. Mereka yang memiliki kekayaan akan merasa bahagia ketika melihat sesama saudaranya yang kurang beruntung menjadi dapat berbahagia. Tanpa aura positif ini dan tanpa keinginan untuk berpartisipasi dari masyarakat maka laju pertumbuhan ekonomi bangsa akan tertahan, atau bahkan akan terpuruk. Dengan distribusi zakat ini, permasalahan bangsa yang mendasar yaitu kemiskinan dapat terkurangi atau bahkan hilang jika umat Islam membayar zakat-nya dan melengkapinya dengan infaq, shadaqah, dan waqaf. Wallahu A’lam Bish-Showab.

*Foto: Dr. Muhammad Abduh (tengah), pada saat menerima anugrah/penghargaan dalam presentasi tentang Keuangan Islam.

*Biodata Penulis: Saat ini bekerja sebagai dosen di IIUM Institute of Islamic Banking and Finance (IIiBF) dengan pangkat Assistant Professor. Sejak Juli 2012 sampai Juni 2013 mendapat amanah sebagai Head of Research di fakultas IIiBF. Selain itu, juga sebagai Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Indonesia wilayah Malaysia dan Ketua Unit Pelayanan Zakat, Badan Amil Zakat Nasional (BazNas) Indonesia untuk periode 2012-2014.

Share : |

 
Berita Terkait Zakat
SBY Ajak Masyarakat Ikuti Proses Pilpres Hingga Pelantikan Presiden Mendatang
Sinergisitas Pengelolaan Zakat antara UU Penanganan Fakir Miskin dan UU Tentang Pengelolaan Zakat
Penerimaan Zakat Terus Meningkat
Sekjen DPR Serahkan Zakat kepada Mustahiq di Lingkungan Kesetjenan
Penyaluran Zakat Yang Akurat Dapat Mengurangi Kemiskinan
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Legislator Minta Ketegasan Kemenlu Terhadap Penahanan Muslim Uighur di Cina
Persija Pawai Juara, Ditlantas PMJ Lakukan Rekayasa Lantas di SU GBK dan Balaikota
Selangkah Lagi Indonesia Menjadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia 2020
PAN: Pro-Jokowi di Sumsel Bukan Kader, Keterlaluan Bohongnya!, DPW Sumsel Tempuh Jalur Hukum
BPN Prabowo-Sandi: Alhamdulillah, Biang Fitnah Sudah Dukung Jokowi
Kapendam Jaya Mengapresiasi Polisi Cepat Menangkap Pelaku Penganiayaan Anggota TNI
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Tim Siber Bareskrim Polri Menangkap 3 Pelaku Pembobol Kartu ATM Mencapai Rp 2,5 Miliar
Fahri Hamzah Dukung Pansus Tercecernya KTP-el
SAPDA5 Laporkan Hasto ke Bawaslu RI, Diduga Sekretaris TKN Jokowi-Ma'ruf Lakukan Black Campaign
Inilah 3 Orang DPO Pelaku Pengeroyokan Anggota TNI di Ciracas, Jakarta Timur
Diduga Kasus Tambang di Bukit Soeharto, Kejati Kaltim Geledah Kantor PT Kaltim Batu Manunggal
Kapolda Metro Jaya Memerintahkan untuk Ungkap Pelaku Anarkis di Polsek Ciracas
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]