Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Penembakan
PM Australia menjenguk 'pahlawan sejati Australia' Ahmed el Ahmed yang berhasil merebut senjata pelaku penembakan masal
2025-12-22 13:00:01

AUSTRALIA, Berita HUKUM - Perdana Menteri (PM) Australia, Anthony Albanese menemui Ahmed al Ahmed, pria yang merebut senjata dari pelaku penembakan di Pantai Bondi, Australia. Dia menyebut pria pemilik kios buah itu sebagai 'pahlawan sejati Australia'.

Ahmed kini dirawat di sebuah rumah sakit setelah menjalani operasi akibat luka tembak di lengan dan tangannya.

Usai menjenguk Ahmed, Anthony Albanese menyebut pria asal Suriah itu sebagai "pahlawan sejati Australia".

Ahmed juga disebutnya "mewakili yang terbaik dari negara kita".

"Dia sangat rendah hati. Dia merenungkan proses berpikirnya saat melihat kekejaman itu terjadi. Dia pergi ke Bondi bersama teman dan kerabatnya,"ungkap perdana menteri.

"Dia hanya ingin minum kopi, sesederhana itu, dan mendapati dirinya berada di saat orang-orang ditembak di depannya. Dia memutuskan untuk bertindak, dan keberaniannya adalah inspirasi bagi semua warga Australia."

Menurutnya, ibu dan ayah Ahmed sudah tiba di Australia setelah melakukan perjalanan dari Suriah.

"Saya juga dapat bertemu mereka. Mereka adalah orang tua yang sangat bangga." Di saat kita menyaksikan kejahatan terjadi, dia bersinar sebagai contoh kekuatan kemanusiaan," tandas Anthony Albanese.

Apa yang dilakukan Ahmed al Ahmed?

Dalam video yang beredar, Ahmed terlihat bersembunyi di balik sebuah mobil yang diparkir, lalu melompat keluar ke arah penyerang dan menjatuhkannya.

Dia berhasil merebut senjata api dari tangan penyerang, mendorongnya ke tanah, lalu mengarahkan senjata tersebut ke pelaku.

Penyerang kemudian mulai mundur kembali ke arah jembatan.

Ahmed lalu menurunkan senjata itu dan mengangkat satu tangan ke udara, seolah menunjukkan kepada polisi bahwa ia bukan salah satu pelaku penembakan.

Penyerang yang sama kemudian terlihat kembali berada di jembatan, mengambil senjata lain dan kembali melepaskan tembakan.

Siapa Ahmed al Ahmed?

Ahmed adalah seorang pemilik toko buah dan ayah dari dua anak.

Dia dilaporkan masih dirawat di rumah sakit karena luka-luka.

Ia telah menjalani operasi akibat luka tembak di lengan dan tangannya, kata keluarganya kepada 7News Australia.

Sepupu Ahmed, Mustafa, mengatakan kepada 7News Australia pada Minggu malam: "Dia pahlawan, 100% dia pahlawan. Dia terkena dua tembakan, satu di lengannya dan satu di tangannya."

Dalam perkembangan terbaru, Senin (15/12) dini hari, Mustafa berkata: "Saya berharap dia akan baik-baik saja."

"Saya menjenguknya tadi malam. Dia dalam kondisi cukup baik, tapi kami masih menunggu k

eterangan dari dokter."

Apa perkembangan terbaru penyelidikan?

Kepolisian Australia mengkonfirmasi bahwa para pelaku penembakan mematikan di Pantai Bondi pada Minggu (14/12) telah melakukan perjalanan ke Filipina pada November 2025..

"Alasan mengapa mereka pergi, tujuan mereka, dan ke mana mereka pergi selama berada di sana, sedang diselidiki saat ini," kata Komisaris Polisi New South Wales, Mal Lanyon.

Sebelumnya, dilaporkan bahwa para pelaku penembakan- yang diidentifikasi oleh media lokal sebagai Sajid Akram, 50, dan putranya Naveed, 24 - pergi ke Filipina untuk menerima "pelatihan bergaya militer".

Lanyon juga mengatakan dua bendera kelompok ISIS "buatan sendiri" dan alat peledak improvisasi (IED) ditemukan di dalam kendaraan yang digunakan oleh para pelaku.

Keterangan ini muncul setelah Perdana Menteri (PM) Australia, Anthony Albanese, mengatakan serangan itu tampaknya "dimotivasi oleh ideologi ISIS".

15 orang meninggal ketika dua pelaku penembakan menargetkan orang-orang Yahudi yang menghadiri acara Hanukkah.

Para korban meninggal; termasuk seorang gadis berusia 10 tahun, seorang rabi kelahiran Inggris, seorang pensiunan petugas polisi, dan seorang penyintas Holokos.

Sebelumnya, dua pria bersenjata yang menewaskan 15 orang di Pantai Bondi, Sydney, pada Minggu (14/12) telah diidentifikasi oleh media lokal sebagai Sajid Akram, 50 tahun, dan putranya, Naveed, 24 tahun.

Polisi sebelumnya telah mengkonfirmasi bahwa para pelaku adalah ayah dan anak.

Pria yang lebih tua meninggal di tempat kejadian, sementara putranya dalam kondisi kritis di rumah sakit.

Kedua pria tersebut dilaporkan telah menyatakan kesetiaan kepada kelompok Negara Islam atau ISIS.

Kepolisian New South Wales, Australia, mengatakan 15 orang, termasuk seorang gadis berusia 10 tahun, tewas dalam penembakan di Pantai Bondi pada Minggu (14/12).

Serangan itu terjadi saat acara sedang berlangsung untuk menandai dimulainya Festival Hanukkah.

Polisi mengatakan mereka memperlakukan kasus penembakan ini sebagai insiden teror.

Kedua pelaku penembakan adalah ayah dan anaknya, ungkap polisi.

Pria terduga pelaku berusia 50 tahun meninggal di tempat kejadian.

Adapun anaknya yang berusia 24 tahun masih dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis.

Perdana Menteri (PM) Australia, Anthony Albanese menyebut serangan itu sebagai "tindakan kejahatan murni" yang "dengan sengaja menargetkan" komunitas Yahudi.

Siapa pelaku penembakan di Pantai Bondi?

Para pelaku penembakan yang menargetkan komunitas Yahudi di acara Hanukkah di Pantai Bondi adalah ayah dan anaknya, kata para pejabat Australia.

Lima belas orang-termasuk seorang gadis berusia 10 tahun-tewas dalam serangan itu, yang oleh Perdana Menteri (PM) Australia, Anthony Albanese disebut sebagai "tindakan antisemitisme... [dan] terorisme di pantai kita".

Pelaku penembakan yang lebih tua, 50 tahun, meninggal setelah ditembak mati oleh polisi.

Adapun anaknya, pria yang berusia 24 tahun, dalam kondisi kritis.

Penembakan massal di Australia sangat jarang terjadi, dan serangan di Bondi adalah insiden paling mematikan di negara itu sejak pembantaian Port Arthur pada 1996.

Ketika itu 35 orang tewas oleh seorang penembak tunggal.

Polisi telah menyatakan insiden tersebut sebagai serangan teroris.

Pihak berwenang Australia belum mengungkap lebih jauh soal identitas dan motif kedua pelaku, selain menyatakan bahwa mereka adalah ayah dan anak.

Sang anak lahir dan besar di Australia, sementara ayahnya tiba di Australia pada 1998 dengan visa pelajar, kata Menteri Dalam Negeri Tony Burke.

Burke menyebut, visa sang ayah kemudian dialihkan menjadi visa pasangan pada 2001, dan selanjutnya mendapatkan izin tetap permanen.

Perdana Menteri Anthony Albanese menyebut sang anak yang berusia 24 tahun, sempat "diperiksa berdasarkan dugaan keterkaitannya dengan pihak lain."

Albanese tak memerinci "pihak lain" tersebut, seraya menambahkan bahwa pemeriksaan itu berlangsung pada Oktober 2019.

"Hasil penilaian menyimpulkan tidak ada indikasi ancaman berkelanjutan atau risiko keterlibatannya dalam tindakan kekerasan."

Kedua pelaku disebut tinggal di Bonnyrigg, sebuah wilayah di barat daya Sydney yang berjarak sekitar satu jam perjalanan darat dari Pantai Bondi.

Mereka tinggal di sebuah rumah bata satu lantai dengan pagar berwarna krem di bagian depan halaman.

Alamat tersebut tercatat sebagai tempat tinggal ayah dan anak itu, tapi kedua pelaku kemudian berpindah ke sebuah properti sewaan jangka pendek di Campsie.

Polisi meyakini di lokasi itulah serangan tersebut dipersiapkan.

Di Bonnyrigg, para tetangga mengaku terkejut.

"Anak perempuan saya berteriak, 'Bu, lihat ke luar,' lalu saya melihat banyak polisi, banyak mobil, sirene, dan pengeras suara yang memanggil mereka untuk keluar," kata Lemanatua Fatu, yang tinggal di seberang rumah pelaku.

"Lalu saya melihat beritanya -saya pikir, ya, ampun, tidak mungkin itu mereka," ujar Fatu.

Ia pun mengaku sering melihat pelaku yang lebih muda membuang sampah.

"Kami tinggal di sini seperti orang-orang biasa, ini lingkungan yang baik," pungkas Fatu.(BBC/bh/sya)



 
Berita Terkait Penembakan
 
PM Australia menjenguk 'pahlawan sejati Australia' Ahmed el Ahmed yang berhasil merebut senjata pelaku penembakan masal
 
3 Anggota Polri Ditembak Oknum TNI AD di Way Kanan Lampung, Menko Polkam Minta Pelaku Dihukum Berat
 
Kapolri Janji Ungkap dan Proses Hukum Kasus Baku Tembak Sesama Anggota Polri secara Transparan
 
Rumdis Kadiv Propam Polri di Duren Tiga Geger, Satu Anggota Polisi Tewas Ditembak
 
Polisi Tetapkan Ipda OS Tersangka Kasus Penembakan di Tol Bintaro
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Eks Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Kuota Haji
Pemprov Jabar Hentikan Dukungan Pembiayaan 'Etalase Dunia' Masjid Raya Bandung
Sepanjang Tahun 2025 MA Memutus 37.865 Perkara, Ketua: Beban Meningkat Namun Produktivitas Tetap Stabil
Amal Said resmi dipecat sebagai dosen UIM usai ludahi kasir swalayan
Soal Gugatan Rp140 Miliar, Purnomo Prawiro dkk Lebih 'Keji' dari Debt Collector Mata Elang
Sederet fakta soal peretasan Rp200 miliar via BI Fast, apa langkah OJK?
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Eks Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Kuota Haji
Sepanjang Tahun 2025 MA Memutus 37.865 Perkara, Ketua: Beban Meningkat Namun Produktivitas Tetap Stabil
Pecah Rekor 3 kali OTT KPK dalam Sehari, Siapa Saja Pejabat yang Terseret?
6 Oknum Polisi Jadi Tersangka Kasus Dugaan Terlibat Pengeroyokan Hingga 2 Matel Tewas di Kalibata
Permohonan PKPU Makon Ditolak, Asianet Menghormati dan Mengapresiasi Putusan Pengadilan Niaga Jakpus
Komisi III DPR Minta Presiden Prabowo Tarik Jabatan Sipil Anggota Polri Aktif Usai Putusan MK
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]