Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Virus Corona
Wahh, Angka Kematian Akibat Virus Corona Sekarang di Italia Lampaui China
2020-03-20 10:54:22

Foto hari ini dari Italia #ItalyCoronavirus.(Foto: twitter)
ITALIA, Berita HUKUM - Italia mencatat angka kematian akibat pandemi virus corona lebih besar melampaui China. Hingga Kamis (19/3), angka kematian karena Covid-19 di Italia mencapai 3.405 orang, atau bertambah 427 korban jiwa dalam tempo 24 jam.

Berdasarkan data yang dirilis John Hopkins University, angka kematian akibat pandemi virus corona di China secara total sejauh ini mencapai 3.249 atau 156 lebih sedikit dibandingkan Italia. Dengan begitu, saat Italia menjadi negara dengan korban jiwa terbanyak di seluruh dunia.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres memperingatkan dampak virus corona bisa berpotensi semakin parah.

"Jika kita membiarkan virus menyebar, terutama di wilayah paling rentan di dunia maka itu bisa membunuh jutaan jiwa," kata Guterres seperti mengutip AFP.

Penurunan jumlah korban jiwa di China dipicu laporan nihil infeksi virus corona, terutama di kota pusat penyebarannya di Wuhan. Untuk pertama kalinya, China menyatakan nihil pasien baru Covid-19 sejak mewabah pada akhir Desember 2019.

Minimnya kasus baru di dalam negeri menandakan upaya penanganan pandemi virus corona di China telah menemui titik terang. China di ambang kemenangan melawan virus corona.

Meski demikian, China masih dihantui ancaman penyebaran virus dari luar. Sebab kasus infeksi virus corona di luar China justru semakin bertambah 34 kasus penularan dari luar negeri.

Sementara itu, untuk menekan laju penularan virus corona. Hanya saja, kebijakan tersebut tidak secara signifikan menurunkan jumlah kasus dan korban jiwa akibat infeksi corona.

Perdana Menteri Italia, Giuseppa Conte mengatakan pemerintahannya tengah mempertimbangkan sejumlah langkah untuk mengatasi penyebaran pandemi corona. Salah satunya dengan memperpanjang kebijakan lockdown terhadap aspek bisnis, sekolah, dan aktivitas warga.

Kebijakan lockdown tidak seketat China

Menyoal kebijakan yang mengharuskan warganya berada di dalam rumah, tim medis dari China yang turun tangan membantu Italia mengatakan warga kerap acuh.

'Pemandangan' warga yang masih berada di luar ruangan tanpa mengenakan masker dengan mudah ditemukan di jalan-jalan. Lombardy, salah satu area dengan korban corona terbanyak di Italia dianggap tidak memberlakukan kebijakan tersebut dengan ketat.

Ketua Palang Merah China, Sun Shuopeng dalam konferensi media di Milan membandingkan kondisi saat lockdown di Lombardy dan Wuhan.

"Sebulan sejak aturan lockdown diberlakukan di Wuhan, kami melihat tren penurunan infeksi corona," ujarnya seperti mengutip CNN.

"Sementara di Milan, area dengan penyebaran Covid-19 terbesar, aturan lockdown tidak berlaku secara ketat. Transportasi umum tetap beroperasi dan warga tetap beraktivitas, mereka tetap makan malam dan pesta di hotel dan tidak mengenakan masker. Kami rasa warga harus ikut serta aktif memerangi Covid-19 dan patuh terhadap aturan," ujarnya menambahkan.

Ia menyarankan warga Italia untuk menghentikan semua aktivitas perekonomian dan meminta mereka tetap tinggal di rumah.(AFP/evn/CNNIndonesia/bh/sya)



 
Berita Terkait Virus Corona
 
Perkembangan COVID-19 di Jakarta Per 18 September 2020
 
Lebih Dari 3 Pegawai BPN Jaktim di Isolasi ke Wisma Atlet
 
Lonjakan Kasus Covid-19 di Eropa 'Harus Jadi Peringatan Bagi Kita Semua', Kata WHO
 
Kolaborasi Multipihak Mutlak Diperlukan dalam Penanganan Covid-19
 
Polda Metro: 9.374 Pelanggar Terjaring Operasi Yustisi PSBB Ketat, Total Denda Capai Rp 88 Juta
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Aksi Damai Massa 'Minta DPR RI Dengarkan Suara Rakyat Agar Pilkada 2020 Ditunda'
Tanpa Peran Soeharto, Indonesia Jadi Negara Komunis
PKS: Penghapusan Mata Pelajaran Sejarah Berbahaya dan Tidak Relevan
Ditlantas Polda Metro Adakan Baksos Hari Lantas Bhayangkara ke-65, Puluhan Ton Beras Dibagikan
NU Minta Pilkada Serentak 2020 Ditunda
Ribuan Warga Ketapang Mengamuk, TKA China jadi Bulan-bulanan, Dipukuli dan Kabur ke Hutan
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Jansen Sitindaon: Dulu Jadi Jubir Sandiaga, Sekarang Jadi Lawan
Said Didu: Bu Menkeu, Dulu untuk Dampak Krisis Ditolak, Sekarang Jiwasraya 'Dirampok' Kok Malah Dikucurkan 20 T?
Hasil Olah TKP Kebakaran Gedung Kejaksaan Agung, Bareskrim Polri: Ada Unsur Pidana
Sekda DKI Jakarta Saefullah Tutup Usia
Syekh Ali Jaber: Saya Tidak Terima Kalau Pelaku Penusukan Dianggap Gila, Dia Sangat Terlatih
59 Negara Tolak WNI, Refly Harun: Kesalahan Jokowi, Bukan Anies
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]