Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Internasional    
 
Virus Corona
Virus Corona: Ratusan Warga Asing Dievakuasi dari Wuhan, TNI AU Siapkan 3 Pesawat
2020-01-29 12:12:28

TNI Angkatan Udara menyiagakan tiga pesawat untuk membantu mengevakuasi warga negara Indonesia (WNI) dari Wuhan. Salah satunya adalah pesawat C130 Hercules.(Foto: ANTARA/HENDRA NURDIYANSYAH)
CINA, Berita HUKUM - Ratusan warga asing telah dievakuasi dari Kota Wuhan, China, yang menjadi pusat penyebaran virus corona baru, seiring dengan meningkatnya korban tewas dan jumlah kasus.

Sejumlah pesawat diketahui bertolak dari kota tersebut membawa warga Jepang dan Amerika Serikat. Adapun Komisi Eropa menyatakan bakal membantu memulangkan warga negara-negara Eropa setelah muncul permintaan dari Prancis.

Australia berencana memulangkan warganya dari Wuhan, namun mereka akan dikarantina selama dua pekan di Pulau Christmas- sekitar 2.000 kilometer dari daratan utama.

Di Indonesia, TNI Angkatan Udara sudah menyiagakan tiga pesawat untuk membantu mengevakuasi warga negara Indonesia (WNI) dari Wuhan.

Jumlah korban meninggal dunia akibat virus itu mencapai 132 orang di China dan ada 5.974 kasus yang telah dikonfirmasi, menurut Komisi Kesehatan Nasional.

Setidaknya terdapat 16 negara lain melaporkan kasus serupa, namun belum ada korban meninggal dunia.

Presiden China, Xi Jinping, menyebut virus itu "iblis", namun dia menegaskan bahwa China akan mengalahkannya.

Penularan virus antarmanusia di Jerman, Vietnam, Taiwan, dan Jepang- bukan disebabkan pelancong yang membawa virus dari China- meningkatkan kerisauan mengenai penyebaran virus corona baru.

Zhong Nanshan, selaku pakar penyakit pernapasan asal China yang mengepalai tim pengendalian serta pencegahan penyebaran virus corona baru, mengatakan kepada kantor berita Xinhua:

"Saya pikir dalam sepekan atau sekitar 10 hari, [penyebaran virus] akan mencapai klimaks dan tidak ada peningkatan dalam skala besar".

jepangHak atas fotoAFP/GETTY IMAGES
Image captionSejumlah warga Jepang yang dievakuasi dari Wuhan menggunakan pesawat carteran tiba di Bandara Haneda, Tokyo, Rabu (29/01).

Siapa saja yang dievakuasi?

Sebanyak 200 warga Jepang sudah diterbangkan dari Wuhan dan mendarat di Bandara Haneda, Tokyo, Rabu (29/01).

Sekitar 650 lainnya mengatakan ingin juga dipulangkan dan pemerintah Jepang mengaku sedang merencanakan penerbangan tambahan.

Menurut media di Jepang, 200 warga Jepang yang baru tiba langsung diperiksa kesehatannya, namun tiada rencana untuk mengarantina mereka. Bagaimanapun, mereka diminta untuk tetap di rumah selama dua pekan agar kondisi kesehatan dapat terus dipantau.

Masih pada Rabu (29/01), para karyawan konsulat AS serta sejumlah warga AS meninggalkan Wuhan. Menurut CNN, mereka mungkin harus menetap sementara di sebuah hangar bandara secara terisolasi selama dua pekan.

Australia berencana memulangkan warganya dari Wuhan. Namun, sebagaimana dipaparkan Perdana Menteri Scott Morrison, orang-orang tersebut akan dikarantina selama dua pekan di Pulau Christmas—sekitar 2.000 kilometer dari daratan utama.

Rencana itu memicu kontroversi lantaran pulau tersebut terkenal sebagai tempat penahanan imigran.

Pulau itu kini ditempati sebuah keluarga Sri Lanka berisi empat orang. Namun, sejatinya fasilitas di sana dibangun untuk mengakomodasi lebih dari 1.000 orang.

Kementerian Luar Negeri Inggris tengah menyiapkan rencana untuk mengevakuasi sebanyak 200 warga Inggris dari Wuhan.

Secara terpisah, dua pesawat untuk menerbangkan warga negara-negara anggota Uni Eropa telah dijadwalkan. Menurut rencana, sebanyak 250 warga Prancis akan menumpang pesawat pertama.

Korea Selatan mengatakan 700 warganya akan terbang menggunakan empat pesawat pekan ini.

corona

Bagaimana dengan Indonesia?

TNI Angkatan Udara menyiagakan tiga pesawat untuk membantu mengevakuasi warga negara Indonesia (WNI) dari Wuhan. Tiga pesawat itu mencakup dua unit Boeing 737 dan satu unit C130 Hercules.

"Kami sudah siapkan pesawat Boeing 737 dan C130 Hercules. Hal ini berdasarkan hasil rapat dua hari lalu bersama Kemenko Polhukam, Kemenkes dan Kemenlu," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau), Marsekal Pertama Fajar Adriyanto, kepada wartawan, di Jakarta, Rabu (29/01).

Namun demikian, lanjut Fajar, pihaknya masih menanti instruksi dari Kementerian Luar Negeri RI karena sejauh ini pemerintah China melarang transportasi dari dan ke luar wilayah Wuhan.

'Nunggu dari Kemenlu bisa tembus nggak ke pemerintah sana agar kita bisa berangkat atau tidak, yang jelas TNI AU siap 24 jam," kata Fajar.

Selain menyiagakan tiga unit pesawat, TNI AU juga menyiapkan personel dari batalion kesehatan, namun tidak dirinci berapa banyak petugas yang akan dikerahkan.

Yang pasti, kata dia, semua anggota yang akan berangkat telah dibekali dengan berbagai peralatan medis hingga dipantau aktivitas kesehatannya mulai saat ini.<

"Semua itu sudah menyiapkan antipenularan untuk kru yang menjemput. Itu mungkin dengan masker dan segala macam, kemudian makanannya juga harus dikontrol dan juga begitu kembali nanti akan dikarantina dulu. Jadi tidak langsung turun langsung bebas, dikarantina dulu. Yang kita siapkan itu, briefingnya demikian," ujar Fajar sebagaimana dikutip kantor berita Antara.

chinaHak atas fotoAFP
Image captionWarga di berbagai kota di China menggunakan masker sebagai pencegahan penularan virus.

Pada Selasa (28/01), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan dan Manusia, Muhadjir Effendy, menyatakan pemerintah Indonesia telah menyiapkan langkah evakuasi bagi WNI yang berada di Wuhan apabila hal tersebut diperlukan.

Namun pemerintah menilai hingga saat ini langkah evakuasi belum perlu dilakukan.

"Kalau kondisinya memaksa ya akan kita evakuasi. Kalau masih bisa diatasi, kalau mereka masih bisa bertahan, ya akan kita pantau termasuk semua kebutuhan akan kita cover," kata Muhadjir sebagaimana dikutip kantor berita Antara, Selasa (28/1).

Saat ini, menurut data pemerintah, terdapat 243 WNI yang berada di daerah karantina di Provinsi Hubei dan 100 di antara mereka berada di kota Wuhan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Teuku Faizasyah mengatakan bahwa perwakilan Indonesia di China terus membangun komunikasi yang intens dengan WNI di provinsi Hubei, khususnya di Wuhan.

"Dari komunikasi tersebut, kita mengidentifikasi kebutuhan apa yang mereka perlukan. Sejauh kebutuhan itu bisa diperleh ditempat - dan saya garis bawahi, pemerintah setempat pun menjamin bahwa kebutuhan itu bisa didapatkan di tempat - maka kita dahulukan memperolehnya melalui pasar atau toko setempat.

Dalam hal mereka menghadapi kendala keunganan, nanti juga akan dibantu oleh pemerintah," ujar Faizasyah melalui sambungan telepon.(BBC/bh/sya)


 
Berita Terkait Virus Corona
 
BidDokkes Bersama Dit Polairud Polda Gorontalo Gelar Bhakti Kesehatan Masyarakat Pesisir Pantai
 
Polda Metro Jaya Ungkap Praktik Klinik Injeksi 'Stem Cell' Ilegal
 
Peringati Hari Ibu Ke 91, Pemprov Bersama Polda Gorontalo Gelar Jalan Sehat Keluarga
 
Siti Rizky Amalia: Konsep Gizi Seimbang Perlu Disosialisasikan
 
Johnson & Johnson Didenda Rp 8,1 Triliun terkait Krisis Opioid
 
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Kejagung Tangkap Mantan Wakil Bupati Sarmi Papua Yosina Troce Insyaf
Kronologi Meninggalnya Suami Bunga Citra Lestari, Ashraf Sinclair Sempat Minta Mie Instan
MUI Desak Aparat Segera Tangkap Perusak Rumah Ketua PA 212
WALHI: Konyol! Pasal Penjerat Pembakar Hutan Dihapus Jokowi di Omnibus Law
Komisi VIII Komitmen Kawal Pengelolaan Keuangan Haji
Kelangkaan Gula Pasir Diindikasi Akibat Permainan Mafia
Untitled Document

  Berita Utama >
   
MUI Desak Aparat Segera Tangkap Perusak Rumah Ketua PA 212
Kelangkaan Gula Pasir Diindikasi Akibat Permainan Mafia
Legislator Minta 'Omnibus Law' Jangan Rusak Lingkungan
Dinilai Hancurkan Kehidupan Buruh Indonesia, KSPI Tegas Menolak Draft RUU Omnibus Law
Indonesia Sangat Subur, Impor Harus Dikurangi
Pemerintah Dinilai Tidak Transparan Soal Perumusan Undang-Undang Omnibus Law
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]