Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index

Politik    
 
Partai Berkarya
Trilogi Pembangunan, Panduan Partai Berkarya Membangun Indonesia
2018-05-26 13:42:48

Ilustrasi. Priyo Budi Santoso, Sekjen Partai Berkarya.(Foto: Istimewa)
JAKARTA, Berita HUKUM - Di tengah situasi Kebangsaan Indonesia yang sedang tidak stabil dalam bidang ekonomi dan keamanan nasional, Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso mengajak seluruh bangsa Indonesia, khususnya seluruh kader Partai Berkarya, untuk membangun Indonesia lebih baik melalui konsep Trilogi Pembangunan yang pernah dicanangkan oleh Pak Harto.

Bagi Priyo, Trilogi Pembangunan merupakan ajaran Pak Harto yang positif dan bisa dijadikan panduan untuk penyelamatan bagi bangsa dan negara Indonesia. "Agar negeri ini tidak masuk dalam situasi yang membahayakan," jelas Priyo, di Gedung Granadi, pada akhir pekan kedua bulan Ramadhan 1439 Hijriah.

Menurut Priyo, Trilogi Pembangunan merupakan konsep yang pernah diterapkan oleh Pak Harto dalam menentukan kebijakan politik, ekonomi, dan sosial, sehingga menjadikan Indonesia bertata kehidupan yang toto-titi-tentrem kerto raharjo, murah sandang, murah pangan, murah papan. Trilogi Pembangunan tersebut, pertama, yaituterpeliharanya stabilitas nasional yang dinamis. Kedua, yaitu terjadinya pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dan ketiga, yaitu terjadinya pemerataan pembangunan berikut hasil-hasilnya."Trilogi Pembangunan ini akan kami jadikan patron dalam pergerakan sehari-hari Partai Berkarya," ujar Priyo, yang juga sebagai mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Periode 2009-2014.

Dengan Trilogi Pembangunan tersebut, Priyo mewacanakan penerapan kembali konsep Trilogi Pembangunan menjadi langkah strategis sekaligus mantra bagi pembangunan.Bagaimanapun, Trilogi Pembangunanmerupakan pintu masuk untuk melakukan delapan jalur pemerataan yang pernah dicoba oleh Pak Harto selama menjadi mandataris MPR.Delapan jalur pemerataan itu mencakup; (1) pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak, khususnya pangan, sandang dan papan; (2) pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan keselamatan; (3) pemerataan pembagian pendapatan; (4) pemerataan kesempatan kerja; (5) pemerataan kesempatan berusaha; (6) pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembagunan khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita; (7) pemerataan penyebaran pembangunan di wilayah tanah air; dan (8) pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.

Dalam amatan Priyo, Trilogi Pembangunan dan delapan jalur pemerataan ini, saat diterapkan oleh Pak Harto selama memimpin, pernah menjadikan Indonesia disebut sebagai "Macan Asia", melebihi kondisi Republik Rakyat China (RRC) saat itu. Dengan Trilogi Pembangunan ini, terbukti, Pak Harto bisa mengaplikasikan dengan baik dalam Program Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), serta mengejawantahkannya dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). "Trilogi Pembangunan akan menjadi visi, misi, dan platform Partai Berkarya yang nasionalis, religius, serta mengedepankan kerja dan karya," jelas Priyo.

Ketika Pak Harto memimpin Indonesia, kata Priyo, dengan adanya Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), siapa pun pemimpin negara ataupun Menteri, dapat terlihat capaian-capaiannya atau kekurangan-kekurangannya selama lima tahun berjalan. Kemudian, dengan adanya GBHN, menjadi sangat jelas, kemana arah dan tujuan bangsa Indonesia selama lima tahun, 10 tahun, atau mungkin dalam satu periode. Ukuran pencapaian konsep Repelita dan GBHN sangat bisa dilihat bersama.

Selama Priyo mengunjungi berbagai daerah bersama Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto), ia melihat secara langsung berbagai wujud kerinduan masyarakat terhadap kepemimpinan Pak Harto yang sukses membangun Indonesia. Ketika Priyo dan Tommy Soeharto masuk pasar, simbok-simbok bakul (ibu-ibu pedagang pasar) banyak yang teriak histeris melihat kedatangan Tommy Soeharto yang merupakan putra dari Pak Harto, lalu berbondong-bondong mengajak bersalaman dan berfoto. Selain di Pasar, di berbagai tempat lain, banyak kalangan masyarakat yang histeris ketika bertemu Tommy Soeharto. "Ini ya, mas Tommy, putranya Presiden Soeharto," begitulah Priyo menirukan luapan perasaan para ibu-ibu pedagang pasar dan masyarakat akar rumput di berbagai tempat.

"Saya merasakan sendiri, dulu, ketika bertemu langsung dengan Pak Harto, senyum khas dari Pak Harto membuat sejuk, dan terlihat sangat berwibawa. Dan untuk pertama kalinya ketika saya menjadi anggota DPR, saya mengetahui tentang gagasan-gagasan beliau dari berbagai lini/sektor. Dan saya menaruh hormat yang tinggi kepada beliau atas prestasi-prestasi yang beliau capai ketika memimpin negeri ini. Kekurangan dari beliau telah tertutupi dengan sedemikian besar jasa-jasa yang beliau capai," ungkapnya.

Sebagai Partai yang mengusung Trilogi Pembangunan Pak Harto, menurut Priyo, Partai Berkarya yang dipimpin langsung oleh Hutomo Mandala Putra sebagai putra Presiden Soeharto ini, merupakan Partai yang dilahirkan dengan tujuan mensejahterakan rakyat. Dalam membangun Partai Berkarya, Priyo memiliki perhitungan yang matang. Ia yakin, Partai Berkarya lolos dari Parliamentary Treshold, bahkan jauh di atas Parliamentary Treshold . Harapannya, Partai Berkarya bisa menjadi 5 besar dalam perolehan suara nasional. Bagi Priyo, tidak ada skenario tidak lolos ataupun kalah.

Tagline Berkarya, yakni, "partai berkarya menang, rakyat makmur", menurut Priyo, merupakan ide orisinil dari Tommy Soeharto. Tagline tersebut memiliki arti, bahwa Partai Berkarya ingin bekerja penuh untuk memakmurkan negeri, kesejahteraan rakyat, memperbaiki ekonomi, memberikan perhatian penuh terhadap kaum-kaum yang terpinggirkan, bekerja penuh untuk membela kaum-kaum papa dan miskin yang selama ini tidak mendapatkan perhatian secara maksimal karena situasi tata aturan Undang-Undang tidak memihak kaum miskin.

"Saya sudah bertemu Mbak Tutut, Mbak Titiek, Mas Sigit Harjoyudhanto, serta berbagai unsur keluarga lainnya. Saya berkesimpulan, mas Tommy tidak akan sendirian dalam bergerak membangun bangsa dan negara ini. Jika saatnya tiba, Mbak Tutut akan ikut bicara. Ditunggu saja momentum waktunya," pungkas Priyo.(wa/bh/as)



Share : |

 
Berita Terkait Partai Berkarya
Sosok Soeharto Jadi Magnet Pengusaha Gabung Ke Partai Berkarya
Bergabung Ke Partai Berkarya, Inilah Pernyataan Politik Titiek Soeharto
Trilogi Pembangunan, Panduan Partai Berkarya Membangun Indonesia
Partai Berkarya Sambut Gembira Survei Pak Harto Paling Berhasil Memimpin Indonesia
Partai Berkarya Akan Hidupkan Program Unggulan Pak Harto
Untitled Document

 Beranda | Berita Utama | White Crime | Lingkungan | EkBis | Cyber Crime | Peradilan | Pidana | Perdata | Pledoi | Politik | Legislatif | Eksekutif | Selebriti | Pemilu | Nusantara | Internasional | ResKrim | Gaya Hidup | Opini Hukum | Profil | Editorial | Index


  Berita Terkini >>
 
Diduga Peluru Nyasar, Wenny Warow Serahkan Penyelidikan pada Polisi
Berutang Rp15 Triliun ke Bank Dunia untuk Pemulihan Lombok dan Sulteng Sama Saja Mengatasi Bencana dengan Bencana
Sederet Artis, Bintang Radio Jateng Siap Meriahkan Konser Kebangsaan Bela Indonesiaku di Semarang
Polisi Menangkap Albert Pelaku Penipuan Modus Spripim Kapolri
ACT Beri Bantuan 550 Ton Makanan dan Obatan pada Korban Bencana Gempa Tsunami Sulteng
Setahun Kinerja Anies Baswedan, F-PDIP DKI Jakarta: Keberpihakan Rakyat Kecil Masih Sebatas Seolah-olah
Untitled Document

  Berita Utama >
   
Berutang Rp15 Triliun ke Bank Dunia untuk Pemulihan Lombok dan Sulteng Sama Saja Mengatasi Bencana dengan Bencana
Poyuono: Analogi RS Ibarat Orang Bakar Ban Mobil Berteriak Rumahnya Kebakaran
Ditlantas Polda Metro Jaya Sosialisasi Sistem E-TLE dengan Pembagian Brosur dan Pembentangan Spanduk
Jiwasraya Tunda Bayar Klaim Nasabah Menunjukkan Pengelolaan BUMN yang Buruk Selama Ini
Bawaslu Temukan Dugaan Pelanggaran Kampanye Caleg Pendukung Jokowi-Ma"ruf
Al Khatam dan Konfederasi Nasional Pemuda Indonesia Serukan 'Save Polri & Save KPK'
Untitled Document

Beranda | Tentang Kami | Hubungi | Redaksi | Partners | Karir | Info Iklan | Disclaimer

Copyright2011 @ BeritaHUKUM.com
[ View Desktop Version ]